My Memories At Gwanghwamun

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyun In
  • Cha Hakyeon
  • Cha Hyun Jae

Genre : Sad, Romance, Flashback, Complicated.

Ratting : T

Length : Oneshoot

My Memories At Gwanghwamun2 copy

Haii!! Readerss! Im back!! Bawa FF baru diantara kegalauan HP yang ke sita [sedihnya] Sekarang aku bawa FFnya Couple 2Hyun. Maaf kalo bahasanya dan ceritanya njelimet bikin mumet. Tulisan yang di merahin artinya lirik lagu At Gwanghwamun dalam bahasa inggris dan ada beberapa kata yang diubah biar pas sama ceritanya.

Disclaimer :

FF, Alur, Cover, Lee Hyun In, Cha Hakyeon dan Cho Kyuhyun milik saya! HAHA!! Sisa castnya milik orang tua mereka, agensinya dan tuhan. Dilarang meng-copy, share ulang tanpa izin.. Boleh di simpan untuk dibaca pribadi tanpa meng-share ulang! No COPAS, NO WAR! Maaf kalau ada kesamaan alur, jalan cerita dan kata-katanya.. atau mungkin sebenarnya.. Kita BERJODOH???!!

P.S : Posted to at my personal wordpress –> lhiworld.wordpress.com

***

Suasana di Sungai Han Seoul Korea Selatan terlihat ramai. Ada orang yang sedang berekreasi bersama keluarganya, ada yang membuka stand-stand promosi, membuat aksi dance jalanan. Terdapat beberapa orang yang sedang berpose untuk pengambilan gambar drama terbaru.

“Berposelah sekali lagi dan kita akan selesai,” ucap seorang lelaki dengan sweater cukup tebal berwarna merah-mengingat sekarang sudah mulai memasuki musim dingin-, celana levis hitam dan ia memegang camera canon SLR. Dia mengambil gambar terakhir dengan serius “Cukup untuk hari ini.  Terima kasih atas kerja samanya.”

Beberapa crew bertepuk tangan dan membungkuk bersamaan mengucapkan terima kasih. Lelaki itu tersenyum lalu membalas membungkuk. Dia berjalan ke arah stand yang di buat untuk menaruh barang-barang keperluan. Dia melihat hasil potretnya lalu tersenyum puas.

“Kau bekerja dengan bagus hari ini Kyu,” ucap sahabat sekaligus assistennya saat melihat lelaki tadi memasuki stand. “Kau berlebihan,” jawabnya lalu duduk di kursi dan mengambil sebotol air dingin yang di sodorkan oleh sang assisten.

Dia memberikan camera yang tadi di pegangnya kepada sang assisten. Lalu membereskan peralatannya dan memasukannya ke dalam tas ranselnya. Dia beristirahat sebentar dan memutuskan untuk segera bangkit. Dia menggendong ransel hitamnya di punggungnya.

“Hei! Aku pergi duluan,” ucapnya lalu berjalan keluar. Sampai di luar beberapa crew menghampirinya. “Kyuhyun-ssi kami berniat untuk makan siang bersama kau ingin ikut?” ucap salah satu crew.

Cho Kyuhyun tersenyum lalu menggeleng pelan “Maafkan aku kawan-kawan. Bagaimana jika lain kali saja? Aku yang akan membayarnya.”

“Sungguh? Baiklah akan ku tagih janji mu nanti,” ucap crew lainnya. “Iya. Aku janji. Baiklah kalau begitu aku pergi duluan,” ucapnya sambil menepuk pundak 2 orang crew yang ada di sampingnya lalu berjalan lagi.

“Hati-hati di jalan!” teriak sang assisten yang mendengar percakapan mereka. Kyuhyun terus berjalan dan tidak menyahut. Kyuhyun berjalan ke arah halte subway. Dia menunggu subway yang menuju ke arah tujuannya.

Tak lama ia menunggu subway yang ia tunggu datang. Tanpa berfikir panjang  dia langsung menaikinya.

***

How was your day? Theres still a little bit of autumn left

Kyuhyun memandang ke arah patung besar yang ada di hadapannya. Patung King Sejong yang membuat daerah Gwanghwamun semakin banyak pengunjung. Apalagi di hari Minggu seperti hari ini. Dua kali lebih ramai daripada sungai Han yang tadi ia kunjungi.

Sebenarnya tujuan Kyuhyun ke Gwanghwamun bukan untuk melihat Patung King Sejong atau merasakan keramaian yang ada disana.

Dia kesana untuk mengenang masa-masa indahnya. Masa-masa ia menjalin cinta dengan seorang perempuan bernama Lee Hyun In.

Hyun In. Nama itu terlewat begitu saja di pikirannya. ‘Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Apakah ia semakin tinggi? Apakah ia sehat? Apakah ia masih manja? Aku begitu merindukan gadisku yang sangat manja,’ pikir Kyuhyun.

Tunggu! Gadisnya? Kapan ia dan Hyun In pernah menikah? Bahkan disebut sepasang kekasih saja sudah bagus bagi Kyuhyun.

Sekarang sudah musim gugur yang ke-7 yang ia lalui tanpa Hyun In. Bahkan musim dingin saja sudah dekat. ‘Musim dingin’ mengingat kata itu membuat Kyuhyun mengingat janji Hyun In padanya.

***

“Aku sangat suka musim dingin” ucap Hyun In. “Memang kenapa?” tanya Kyuhyun. “Karena musim gugur sangat indah. Salju putih bersih yang sangat lembut hanya ada di musim dingin dan juga suhu udara yang dingin membuat mu akan memelukku ketika aku kedinginan.”

 

Kyuhyun terkekeh mendengar jawaban Hyun In. “Kalau Oppa? Oppa menyukai musim apa?” tanya Hyun In. “Aku? Aku menyukai musim apapun. Asalkan itu bersamamu,” jawab Kyuhyun.

 

“Oppa ayo kita berjanji. Kita akan terus seperti ini sampai musim dingin berikutnya, berikutnya lagi, berikutnya lagi, berikutnya lagi dan seterusnya,” ucap Hyun In. Kyuhyun mengangguk lalu memeluk tubuh Hyun In yang duduk di sampingnya.

***

As I came to this street, filled with the aroma of coffee.

Kyuhyun memasuki cafè yang biasa ia dan Hyun In kunjungi di samping Gwanghwamun. Dari jauh Kyuhun bisa mencium aroma kopi favoritnya. Dia memesan kopi dan duduk di pojok cafè tersebut. Langit sedikit menggelap seperti akan turun hujan.

Namun, orang-orang tidak berusaha pergi dari Gwanghwamun. Siapa yang percaya akan turun hujan di hari secerah ini. ‘Hujan..’ Kyuhyun sedikit trauma saat Hujan karena saat hujan di musim gugur ia berpisah dengan Hyun In.

***

You were more lovable than anyone else, But why did you leave me?

 

From : My Love Hyun In.

Oppa bisa kita bertemu sebentar di Gwanghwamun?

Jika bisa segera temui aku.

Aku ada di depan Patung King Sejong.

 

Kyuhyun tersenyum saat membaca pesan dari Hyun In. Namun dia sedikit bingung mengapa harus sekarang dengan keadaan sangat mendung dan akan turun hujan. Kyuhyun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi. Dengan segera ia memakai sepatu dan meraih jaketnya.

 

Untung saja waktu yang diperlukan dari apartementnya ke Gwanghwamun hanya 15 menit berjalan kaki. Sampai disana ia langsung menemukan Hyun In yang berdiri di samping Patung King Sejong.

 

“Hey! Ada apa?” ucap Kyuhyun saat sampai di hadapan Hyun In. Hyun In menatap Kyuhyun datar. “Ada hal penting yang harus ku beritahu padamu,” ucap Hyun In lalu berhenti sejenak.

 

Kyuhyun hanya diam menatap Hyun In. “Ayo kita berpisah,” ucap Hyun In enteng. Kyuhyun begitu kaget dengan apa yang diucapkan Hyun In. “Ap-Apa maksud mu?” tanya Kyuhyun tergagap. “Berpisah. Tidak lagi menjalin hubungan ini lagi,” ucap Hyun In sekali lagi masih dengan ekspresi datar.

 

Kyuhyun terdiam berfikir. Dia tidak menyangka bahwa akan secepat ini hubungannya dengan Hyun In akan berakhir. “Tapi, …. mengapa?”ucap Kyuhyun pelan. Dia masih bingung dengan sikap Hyun In yang berubah. Padahal 2 hari yang lalu sikap Hyun In padanya masih seperti biasa.

 

“Bukankah sudah jelas? Aku sudah mencampakkan mu. Aku akan mencari kekasih lain. Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Sampai Jumpa. Semoga kau selalu mendapatkan keberuntungan,” jawab Hyun In panjang lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku.

 

Air mata mengalir dari sudut matanya. Bersamaan dengan turunnya air hujan ke bumi. Kyuhyun menghapus air matanya lalu berlari mencari Hyun In. Namun sayang ia tak dapat menemukan Hyun In di mana pun di Gwanghwamun.

 

Kyuhyun memutuskan kalau ia harus ke rumah Hyun In besok. Dia tahu Hyun In yang tadi berbicara dengannya bukanlah Hyun In yang dia kenal. Kyuhyun seperti melihat sosok lain di mata Hyun In. Dia harus meminta penjelasan lebih lagi dari Hyun In.

 

Namun siapa sangka jika Hyun In benar-benar sudah bosan dengan Kyuhyun. Buktinya saat ia pergi ke rumah Hyun In, rumah itu sudah kosong. Hanya ada penjaga rumah itu yang mengatakan bahwa Hyun In dan keluarganya sudah pindah dari rumah itu sejak kemarin sore.

 

Kyuhyun terlambat. Dia tidak tahu dimana Hyun In. Dia juga sudah mencoba menghubungi Hyun In. Namun Hyun In sudah mengganti nomor ponselnya. Kyuhyun bingung harus apa. Dia sudah kehilangan satu langkah.

***

Kyuhyun berjalan keluar cafè. Ia kembali ke arah Gwanghwanmun. Dia duduk di tempat dimana ia bisa melihat air mancur dengan sudut yang sangat cantik. Dia tersenyum saat air mancur meluncur ke atas. Dan beberapa anak-anak kecil berlarian di bawahnya sambil tertawa bahagia.

“Hiks.. Hiks.. Eomma,” Terdengar suara seorang anak kecil menangis. Kyuhyun menoleh ke arah sumber suara.

Terlihat seorang anak laki-laki yang sekiranya berumur 5 tahun menangis tidak jauh dari tempat Kyuhyun duduk. Kyuhyun memutuskan untuk menghampiri anak itu.

“Hai adik kecil. Mengapa kau menangis?” tanya Kyuhyun sambil berjongkok di hadapan anak itu untuk menyamakan tingginya. Anak itu melihat Kyuhyun sebentar, lalu kembali menangis dengan lebih keras dan membuat semua orang disekitar mereka menoleh ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun bingung dia harus melakukan apa. “Hei. Jangan menangis. Paman bukan orang jahat. Paman akan membantu mu,” ucap Kyuhyun. Akhirnya tangis anak itu berhenti dan tinggal sesenggukan. “Nah. Sekarang ceritakan pada Paman. Mengapa kau menangis?” lanjut Kyuhyun.

“Hiks.. Aku berpisah dengan Eomma dan sekarang aku lapar,” ucap anak itu. Kyuhyun tertawa “Nama mu siapa adik kecil?” tanya Kyuhyun. “Hyun Jae. Cha Hyun Jae.”

“Baiklah Hyun Jae. Aku Kyuhyun. Kau bisa memanggilku Paman. Sekarang berhentilah menangis. Laki-laki harus kuat tidak boleh menangis,” ucap Kyuhyun. Hyun Jae menghapus air matanya. “Hyun Jae bilang Hyun Jae lapar kan? Ayo Paman belikan makanan di cafè itu.”

Hyun Jae mengangguk. Kyuhyun menggendong Hyun Jae dan berjalan ke cafè yang tadi di kunjunginya.

Setelah Hyun Jae selesai makan, Kyuhyun membawa Hyun Jae ke Gwanghwamun. “Hyun Jae, dimana tadi kau berpisah dengan Eomma mu?” tanya Kyuhyun. “Aku tidak tahu.”

“Ah! Tadi, sebelum aku pergi kesini Appaku memberikan ini ke kantung celanaku,” ucap Hyun Jae sambil mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya. Kyuhyun menerimanya dan membacanya. Dia berjongkok lalu menurunkan Hyun Jae dari gendongannya.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan memasukkan serangkaian nomor yang ternyata adalah nomor ponsel. Kyuhyun menghubungi nomor tersebut. Tak lama sang pemilik ponsel sekaligus orang tua dari Hyun Jae mengangkatnya.

“Hallo. Siapa ini?” ucap seorang laki-laki di seberang dengan suara sedikit panik. “Ah! Maaf apakah anda orang tua dari anak bernama Cha Hyun Jae?” tanya Kyuhyun. “Iya. Aku orang tuanya.”

“Aku Kyuhyun. Aku menemukan Hyun jae sedang menangis tadi. Dan kami berada di depan patung King Sejong. Anda bisa kemari untuk menjeput Hyun Jae.”

“Baiklah. Saya akan kesana sekarang,” ucap orang itu lalu memutuskan sambungan telfonnya. “Ayo. Hyun Jae kita ke Patung King Sejong. Appamu bilang akan menjemputmu disana.”

Sampai di depan Patung King Sejong Hyun Jae langsung berlari menghampiri seseorang “Eomma! Appa!” teriak Hyun Jae. Kyuhyun tersenyum dan melihat ke arah mana anak itu berlari.

Jantung Kyuhyun serasa di tusuk pisau. Dadanya sesak. Hidungnya tidak bisa menghirup oksigen. Paru-parunya kosong. Wajahnya menampakkan ekspresi kaget, tidak percaya dan kerinduan yang mendalam.

Semua itu ia rasakan saat ia melihat perempuan yang di peluk Hyun Jae. Ibu dari Hyun Jae adalah perempuan yang selama ini dia rindukan. “Appa, Paman itu yang tadi menemukan ku. Paman itu juga memberi ku kue yang sangat enak!” ucap Hyun Jae kepada laki-laki yang berbicara dengan Kyuhyun di telefon.

Kyuhyun tetap terdiam melihat perempuan yang masih belum sadar akan adanya Kyuhyun disana. “Mana Paman yang menolong mu Jae-ya? Eomma harus berterima kasih padanya,” ucap perempuan itu.

‘Suaranya sama sekali tidak berubah,’ pikir Kyuhyun. Jantungnya berdetak keras walau hanya mendengar suara perempuan itu. Hyun Jae menarik kedua orang tuanya ke arah Kyuhyun yang masih mematung.

Eomma, Appa ini Paman yang menolongku,” ucap Hyun Jae saat di hadapan Kyuhyun. Perempuan itu menoleh ke arah Kyuhyun dan saat itu juga senyum yang menghiasi bibir perempuan itu menghilang.

“Aku Cha Hakyeon Appanya Hyun Jae,” ucap laki-laki yang dipanggil Appa oleh Hyun Jae sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Kyuhyun sadar lalu tersenyum terpaksa dan menerima jabatan tangan Hakyeon. “Cho Kyuhyun.”

We used to shine so bright together, but now we are strangers.

“Dan ini istriku, Lee Hyun In,” ucap Hakyeon. Oh tidak! Kata-kata yang sedari tadi di takutkan Kyuhyun terucap oleh Hakyeon.

Dengan rasa takut Kyuhyun menjulurkan tangannya kepada perempuan yang selama ini ia tunggu. Kepada perempuan yang selalu mengganggu pikirannya.

“Cho Kyuhyun,” ucap Kyuhyun pelan bahkan ia ragu suaranya akan terdengar ke telinga Hyun In. “Lee Hyun In.”

Kyuhyun menahan dengan keras hasratnya untuk menarik tubuh Hyun In ke dalam pelukannya saat tangan mereka berjabatan. Kyuhyun juga menahan bibirnya untuk tidak berbicara yang aneh-aneh. Seperti menghujamkan perempuan itu beribu pertanyaan.

Hyun In menarik tangannya yang berada di genggaman Kyuhyun. Kyuhyun juga menarik kembali tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk mengurangi kecanggungan.

“Kyuhyun-ssi kami sangat berterima kasih karena kau sudah menemukan Hyun Jae. Sebagai gantinya bagaimana jika kau ikut makan malam di rumah kami?” tawar Hakyeon. Kyuhyun terdiam berfikir. “Hyun In akan memasak. Kau harus mencoba makanan buatan istriku dia sangat pandai memasak,” lanjut Hakyeon.

‘Bahkan tanpa kau memberitahu aku tahu bahwa Hyun In memasak dengan baik,’ pikir Kyuhyun.

“Maafkan aku. Aku ada acara nanti malam,” ucap Kyuhyun lalu melihat ke jam tangannya. “Bagaimana kalau besok?” tanya Hakyeon. Dia masih belum mau mengalah.

“Sudahlah Oppa. Kyuhyun-ssi bilang dia tidak bisa. Lagipula fotografer sibuk seperti Kyuhyun-ssi pasti jarang mempunyai waktu luang,” ucap Hyun In yang sedari tadi hanya diam. “Eh? Bagaimana kau bisa tahu tentang pekerjaan Kyuhyun-ssi?” ucap Hakyeon masih dalam kebingungan.

“Hei! Oppa saja yang terlalu sering bekerja. Sampai-sampai jarang menonton televisi dan membaca berita di internet. Dan sekarang siapa yang tidak mengenal Kyuhyun,” jawab Hyun In tersenyum. “Kau terlalu melebihkan Hyun In-ssi. Aku tidak seterkenal itu,” ucap Kyuhyun sambil tertawa terpaksa. ‘Bahkan Hyun In masih ingat kalau aku adalah seorang fotografer,’ pikir Kyuhyun.

“Hah. Aku sedih. Padahal aku hanya ingin berbalas budi karena sudah menemukan Hyun Jae,” ucap Hakyeon sambil mengelus kepala Hyun Jae. “Tapi mau bagaimana lagi Kyuhyun-ssi tidak bisa, kita tidak boleh memaksanya,” jawab Hyun In.

Kyuhyun hanya terdiam mendengarkan percakapan singkat dari pasangan suami istri itu. “Baiklah kalau begitu. Aku hanya bisa berterima kasih yang sedalam-dalamnya karena sudah menemukan Hyun Jae,” ucap Hakyeon sekali lagi. Kyuhyun mengangguk lalu tersenyum.

“Paman. Ayo kita bertemu lagi suatu saat nanti,” ucap Hyun Jae lalu mendekat ke arah Kyuhyun. Kyuhyun berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Hyun Jae. “Oke!” jawab Kyuhyun lalu tersenyum dan mengelus pucuk kepala Hyun Jae.

Kyuhyun terbelalak saat Hyun Jae memeluknya. Kyuhyun hanya dapat membalas pelukan bocah itu lalu mengelus punggungnya pelan. Tak lama Hyun Jae melepas pelukannya. “Sampai jumpa Paman.”

Hyun Jae berjalan ke arah Hakyeon lalu laki-laki itu menggendongnya. Hyun Jae lalu melambai kepada Kyuhyun. Begitu juga dengan Hakyeon dan Hyun In. Kyuhyun ikut melambai sambil tersenyum. Lalu keluarga kecil itu berbalik dan pergi.

Ekspresi Kyuhyun berubah menjadi sedih. Topeng kebahagiaan yang tadi ia pakai sudah lepas. Matanya menatap punggung Hyun In yang berjalan menjauh. Matanya menatap ke tangan Hyun In yang bergandengan dengan tangan Hakyeon.

Kyuhyun tetap terdiam di tempat sampai pasangan itu menghilang dari penglihatannya. Kyuhyun membayangkan jika yang menjadi Hakyeon adalah diinya. Betapa bahagianya ia jika ia merasakannya. Memiliki keluarga kecil semanis itu.

Kyuhyun memutuskan untuk pulang dia berbalik dan berjalan ke arah lain.

***

One Week Later..

For some reason, I had a tiring day.

Hari ini adalah hari sabtu dan hari ini Kyuhyun bisa bermalas-malasan di apartementnya. Buktinya sekarang walaupun jarum jam sudah menunjukan jam 11 siang, namun Kyuhyun masih terlelap di ranjang empuknya.

Beberapa hari terakhir laki-laki itu begadang untuk melupakan kejadian seminggu lalu di Gwanghwamun. Entah apa saja yang Kyuhyun lakukan. Yang jelas apa saja sudah Kyuhyun lakukan untuk mengalihkan pikirannya, bekerja terus seperti mesin dan pulang jam 1 pagi. Lalu langsung terlelap dan begitu seterusnya selama seminggu ini.

Ting Tong

Ting Tong

Ting Tong

Terdengar suara bel apartement yang berbunyi. Kyuhyun mengeliat merasa tergganggu. Bunyi bel terdengar lagi. Kyuhyun terbangun dan membuka sebelah matanya. Dia menghela nafas berat lalu mengusap wajahnya. Kyuhyun bangkit lalu berjalan ke arah pintu dengan mata yang menutup.

“Siapa?” ucapnya saat dia membuka pintu. Namun tidak ada jawaban. Kyuhyun membuka matanya. Dia terbelalak saat tahu kalau ia salah membuka pintu. Pintu yang ia buka malah pintu kamar mandi.

Bel apartementnya masih terus berbunyi. Dia pun berjalan ke arah pintu apartementnya dan kali ini dia tidak ingin salah. Dengan enggan dia berjalan dengan mata yang setengah terbuka.

“Siapa?” ucapnya setelah membuka pintu dengan mata yang tertutup -lagi. Terdengar suara tawa wanita yang tertahan dari hadapannya. Kyuhyun yang malas membuka matanya akhirnya hanya membuka setengah sebelah matanya.

Matanya menelusuri tubuh perempuan yang berdiri di hadapannya. Mulai dari kaki yang tertutup sepasang sepatu kets. Menuju ke tungkai yang cukup kecil dan tertutup dengan celana levis berwarna biru. Naik ke tubuh bagian atas yang berbeda ukuran dengan tubuh bagian bawahnya karena jaket musim dingin yang tebal berwarna biru dongker.

Leher yang tertutup syal dan rambut setengah pinggang. Lalu wajahnya yang di poles make-up natural. “Eh?” ucap Kyuhyun pelan sambil membuka matanya lebar-lebar saat mengenali wajah perempuan yang mengganggu tidurnya. “Kau? Bagaimana bisa tahu alamat ku?” ucap Kyuhyun kebingungan dan saat itu rasa kantuknya hilang tanpa bekas.

“Apakah sopan jika anda berbicara dengan ‘tamu’ anda di luar apartement dan membiarkannya kedinginan Tuan Cho?” ucap perempuan itu sambil menekankan kata ‘tamu’.

Kyuhyun hanya terdiam. Dia membuka pintu apartementnya lebih lebar, memberikan akses masuk pada wanita dihadapannya. “Terima kasih,” ucap wanita itu lalu melangkah masuk.

Sampai di dalam wanita itu mengganti sepatu haknya dengan sendal rumah yang ada. Melepas jaket tebalnya dan menunjukan tubuh asli dari wanita itu. Tubuh proposional dengan tinggi 171 cm membuat wanita itu terlihat semakin cantik. Dan membuat Kyuhyun harus menahan keras hasrat untuk memeluk wanita itu.

Wanita itu melihat ke sekeliling apartement Kyuhyun dengan tersenyum. “Hyun In ba-”

“Jadi, Tuan Cho. Bagaimana anda bisa masih terlelap di saat matahari sudah hampir di atas kepala?” tanya wanita yang disebut Hyun In oleh Kyuhyun memotong ucapan Kyuhyun. “Aku lembur beberapa hari terakhir.”

“Oh.. Jadi alasanmu lah kau masih berbentuk seperti ini,” ucap Hyun In dengan tawa pelan.

Kyuhyun melihat penampilannya sendiri. Sweater tipis berwarna coklat, celana training berwarna hitam, rambut yang berantakan, dan beberapa lipatan karena bantal di pipinya.

“Bagaimana jika kau mandi dan aku akan membuatkan mu sarapan yang kesiangan,” ucap Hyun In sambil mengangkat bahunya lalu berjalan ke arah dapur. Kyuhyun mengikuti Hyun In ke dapur. Kyuhyun berdiri di depan pintu dapurnya dan mengikuti pergerakan Hyun In dengan tatapan mata tidak percaya.

“Bagaimana kau bisa tahu aku disini?” ucap Kyuhyun. Hyun In berbalik “Aku hanya mengiranya,” ucap Hyun In sambil tersenyum. Kyuhyun hanya terdiam di tempat.

“Apalagi yang kau tunggu? Cepat mandi!” ucap Hyun In gemas karena Kyuhyun bergerak dari tempatnya. Kyuhyun mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi.

Setelah mandi Kyuhyun berjalan ke arah dapur. Dia melihat Hyun In yang berdiri di samping jendela yang ada pada dapur apartementnya dan melihat suasana kota seoul dari sana sambil memegang segelas kopi yang masih mengeluarkan uap panas.

Sama seperti dulu. Dulu saat Hyun In masih bersamanya, Hyun In sangat suka melakukan hal itu. Melihat kota Seoul dari jendela dapur apartement Kyuhyun dengan segelas kopi. Dan saat itu pula Kyuhyun menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

Namun itu dulu.  Jika dulu Kyuhyun dengan sangat mudah memeluk Hyun In, berbeda dengan sekarang. Hyun In sudah menjadi milik laki-laki bernama Cha Hakyeon seperti sekarang. Dan tidak semudah itu Kyuhyun memeluk istri orang.

“Kau sudah selesai. Kau ingin kopi?” tanya Hyun In membuyarkan lamunan Kyuhyun tentang masa lalu. Kyuhyun tersenyum kecil lalu menarik kursi meja makannya “Mau. Namun dengan-”

“Tiga buah gula kubus. Aku masih ingat,” ucap Hyun In memotong ucapan Kyuhyun lalu tersenyum sambil berjalan ke meja dapur. Hyun In meraih gelas di lemari perabotan dan membuat kopi untuk Kyuhyun. “Terima kasih,” ucap Kyuhyun saat menerima segelas kopi dari Hyun In.

Hyun In kembali ke meja dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia buat. Hyun In membawa sepiring pancake. “Ini dia pancake kesiangan,” ucap Hyun In yang membuat Kyuhyun terkekeh. Mereka makan dalam diam.

Setelah makan Hyun In mencuci piring dan di bantu dengan Kyuhyun. “Hyun. Bukankah ini seperti mimpi? Kau dan aku mengulang masa lalu kita,” ucap Kyuhyun. Hyun In tersenyum simpul lalu membasahi tangannya yang sudah kering dengan air keran.

“Hey! Jangan lakukan itu!” Ucap Kyuhyun karena Hyun In menyipratkan air yang ada pada tangannya ke wajah Kyuhyun. “Kau bilang ini seperti mimpi. Aku melakukannya agar kau sadar bahwa ini bukan mimpi!” ucap Hyun In lalu tertawa sambil terus menyipratkan air ke wajah Kyuhyun.

Kyuhyun menutupi wajahnya dengan tangan kirinya sekaligus mengeringkan wajahnya dengan lengan kausnya. Sedangkan tangan kanan Kyuhyun bergerak menangkap tangan Hyun In yang terus menyipratkan air ke arahnya.

Setelah Kyuhyun mendapat tangan Hyun In. Laki-laki itu menarik Hyun In ke arahnya. Kyuhyun mengikat tubuh Hyun In dengan kedua tangannya. Sedangkan Hyun In tidak dapat bergerak karena pelukan Kyuhyun begitu erat pada tubuhnya.

“Aku mendapatkanmu!” ucap Kyuhyun senang. “Kyu! Lepaskan aku,” ucap Hyun In sambil tertawa pelan dan memberontak di dalam pelukan Kyuhyun. “Tidak akan! Kau sudah ku dapatkan! Tidak akan pernah ku lepaskan lagi!” ucap Kyuhyun tegas dan saat itu pula Hyun In baru sadar dengan apa yang diucapkan Kyuhyun.

“Kyuhyun,” ucap Hyun In pelan sambil menormalkan nafasnya karena tertawa. Hyun In terdiam di pelukan Kyuhyun. Kyuhyun sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan. “Kyu,” panggil Hyun In sekali lagi sambil mendorong dada Kyuhyun pelan. Kyuhyun melepas pelukannya perlahan. “Maaf.”

Canggung. Satu kata yang dapat mendeskripsikan mereka saat ini. Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hyun In melirik ke segala arah dan matanya tertuju kepada sebuah alat diatas lemari perabotan makan Kyuhyun. Hyun In melangkah ke arah sana dan mengambil alat itu. Kyuhyun mengekori Hyun In dengan matanya.

“Apakah masih berfungsi?” tanya Hyun In lalu ia memencet tombol on-nya lalu alat itu berbunyi. “Masih berfungsi! Ayo kita main ini Kyu!” ucap Hyun In semangat. “Lie Detector? Itu permainan anak ingusan Hyun,” ucap Kyuhyun. “Ah… Ayolah aku ingin main ini.”

Kyuhyun melihat tangan Hyun In yang meraih tangannya dan menggoyang-goyangkan tangan Kyuhyun manja. Matanya membesar dan bibirnya maju beberapa centi. Kyuhyun menghela nafas melihat sikap Hyun In. Bahkan ketika perempuan itu sudah memiliki seorang anak sikapnya masih seperti ini. Wajah permohonan khas seorang Hyun In yang sudah Kyuhyun hafal.

Kyuhyun menghela nafas lalu mengangguk “Baiklah kita main itu,” ucap Kyuhyun lalu mengelus kepala Hyun In pelan. “Yay!!” ucap Hyun In girang dia langsung berjalan ke arah ruang tamu yang meninggalkan Kyuhyun menggeleng-geleng karena sikap Hyun In.

Kyuhyun duduk di sofa berhadapan dengan Hyun In. “Oke. Seperti biasa hanya 3 pertanyaan lalu bergantian,” ucap Hyun In. Kyuhyun mengangguk “Aku akan mulai duluan,” ucap Hyun In sambil menarik tangan Kyuhyun untuk berada di atas Lie detector.

“Pertanyaan pertama. Sejak kapan kau mulai terkenal?” tanya Hyun In. “Kira-kira 3 tahun lalu aku mulai terkenal,” jawab Kyuhyun enteng. Alat itu berbunyi seperti tongkat sihir seorang ibu peri yang mengartikan jawaban jujur.

“Ho.. Pertanyaan kedua. Apakah kau berkencan dengan perempuan lain selain aku?” tanya Hyun In. “Tentu saja!” jawab Kyuhyun. Kyuhyun berteriak pelan saat ia merasakan sengatan listrik yang cukup mengejutkan pada telapak tangannya.

Hyun In tertawa pelan. “Mulai bisa berbohong? Pertanyaan terakhir. Apakah kau masih se-mesum dulu atau semakin mesum?” tanya Hyun In. “Mesum aku tidak mesum. Akkkhhh,” jeritan dari mulut Kyuhyun keluar lagi karena dia menjawab dengan tidak jujur.

Hyun In tertawa lagi. Kyuhyun mengangkat telapak tangannya dari atas Lie detector dan mengibas-ngibaskannya pelan untuk menghilangkan rasa kejutan listrik. “Sekarang giliran ku. Pertanyaan pertama. Apa kau masih sering Insomnia?” tanya Kyuhyun.

“Terkadang masih,” jawab Hyun In. Alat itu berbunyi seperti tongkat sihir seorang ibu peri. “Tidak baik Insomnia terus. Pertanyaan kedua. Apa kau pernah operasi plastik sejak kau pergi?” tanya Kyuhyun.

“Kau meremehkanku? Seumur hidup aku belum pernah operasi plastik!” ucap Hyun In sebal dan alat itu berbunyi seperti tongkat sihir lagi. “Oke. Aku tidak meragukanmu soal yang satu itu. Pertanyaan terakhir. Apakah kau pergi dari ku karena keinginanmu sendiri?” tanya Kyuhyun dengan suara pelan.

Hyun In terdiam tidak bisa menjawabnya. “Kenapa diam Hyun?” tanya Kyuhyun pelan dan melihat ke arah wajah Hyun In yang sudah menunduk. Tiba-tiba setetes air menetes di sofa Kyuhyun. Kyuhyun menyingkirkan Lie detector yang berada di antara mereka.

Kyuhyun mengangkat dagu Hyun In dan mendapatkan wajah perempuan itu basah karena air matanya. Kyuhyun refleks memeluk Hyun In karena perempuan itu menangis. “Maafkan aku Kyu,” ucap Hyun In dalam tangisannya.

Kyuhyun bingung dengan apa yang dimaksud oleh Hyun In. “Aku di paksa,” ucap Hyun In. Hyun In melepas pelukan Kyuhyun lalu menghapus air matanya. “Mereka memaksaku untuk melakukannya,” ujar Hyun In sambil sesengukan. “Mereka siapa?”

Appa ku.”

Kyuhyun terperangah karena jawaban Hyun In. “Bagaimana bisa?” Kyuhyun menyentuh bahu Hyun In. Hyun In lalu menarik nafas dalam.

“Kau ingat? 7 tahun yang lalu kau belum se-terkenal dan se-sukses sekarang. Kau juga ingat Appa ku tidak mempunyai anak laki-laki. Anaknya hanya aku. Appa ingin suami ku yang akan menjadi penerus perusahaan. Dan sedangkan kau adalah kekasih ku. Appa tidak ingin mempunyai menantu seperti mu,” ucapan Hyun In terhenti.

Appa ingin seorang menantu yang kaya raya, pintar, seseorang dari dunia bisnis dan bukan seorang fotografer panggilan seperti mu dulu. Saat Appa meminta ku untuk melepasmu, aku menolak. Aku tidak ingin. Sampai seminggu aku menolak permintaan Appa, Appa jatuh sakit. Aku sudah kehilangan Eomma-ku saat berumur 8 tahun karena Eomma sakit. Aku juga tidak ingin kehilangan Appa.”

“Dan setelah kita berpisah, Aku dan Appa pindah ke Busan, Kampung halaman Appa. Appa sering ke London untuk bekerja di perusahaannya. Sampai suatu hari Appa mengikuti rapat dewan kantor yang akan memutuskan siapa pengganti Appa sebagai pemimpin perusahaan.”

“Dan terpilihlah Hakyeon. Dia sudah 3 kali menjabat sebagai Executive CEO di 3 perusahaan besar di Korea. Hakyeon yang sedang dalam masa promosi karena baru saja memenangkan tender terbesar di perusahaan ia bekerja. Lalu Appa menyetujui jika Hakyeon yang akan memimpin perusahaan Appa.”

“Lalu saat itu juga Appa membawa Hakyeon ke Busan dan mengenalkannya pada ku. Dua bulan kemudian pernikahan kami dilangsungkan. Aku tahu Hakyeon bersedia menikahiku karena dia sudah menyukai ku sejak kami pertama bertemu. Dan aku? Aku hanya bisa mengikuti apa yang di suruh oleh Appa.”

“Setelah menikah kami pindah ke London untuk menjalankan perusahaan di sana. Lalu 1,5 tahun kemudian lahirlah Hyun Jae. Dan sekarang kami ke Seoul untuk liburan sekaligus menemui Appa dan kedua orang tua Hakyeon.”

Penjelasan Hyun In sudah selesai namun Kyuhyun hanya terdiam. Keduanya terdiam. Suasana hening di apartement Kyuhyun terpecahkan karena dering ponsel Hyun In. Hyun In menjawab telefon dari Hakyeon.

“Kyu.. Aku rasa aku harus segera pulang. Kedua orang tua Hakyeon akan datang,” ucap Hyun In sambil bangkit memakai jaketnya kembali dan meraih syal-nya. Hyun In mendekati Kyuhyun yang masih membatu lalu mengecup pipinya. “Sampai Jumpa.”

“Kenapa ‘Sampai Jumpa’? Kenapa bukan ‘Sampai Nanti’?” tanya Kyuhyun saat Hyun In sudah sampai di depan pintu apartementnya. Hyun In terdiam. “Karena kalau ‘Sampai Nanti’ aku tidak tahu kapan lagi akan bertemu denganmu,” ucap Hyun In tanpa berbalik lalu keluar dari apartement Kyuhyun dan meninggalkan Kyuhyun dengan keheningan di dalam sana.

***

Sudah 4 hari sejak Hyun In datang ke apartement Kyuhyun. Dan 4 hari itu pula Kyuhyun sering sering termenung sendirian. “Kyuhyun, Ayo kita pergi makan siang,” ajak manajer Kyuhyun.

“Kau pergi saja duluan,” jawab Kyuhyun tanpa menatap sang manajer. “Ayolah ada Restoran jepang yang baru di buka 1 blok dari sini. Disana ada diskon sebagai promosi. Aku juga mengajak yang lain karena aku yang bayar hari ini.”

Kyuhyun hanya menggeleng. “Ayolah kau harus ikut,” ucap sang manajer merayu Kyuhyun sekali lagi. “Kalau aku tidak mau?” tanya Kyuhyun lalu menatap sang manajer. “Aku memaksa,” jawab sang manajer dengan melipat tangannya di depan dada.

“Baiklah aku akan ikut. Tapi jangan salahkan aku jika tagihan makan siang ini akan sangat banyak. Karena aku akan makan sangat banyak!” ucap Kyuhyun. “Baiklah makan yang banyak karena beberapa hari terakhir kau terlihat semakin kurus.”

Kyuhyun berjalan di samping manajernya. “Memang begitu jelas?” tanya Kyuhyun sambil berjalan. Sang manajer tertawa pelan lalu merangkul leher Kyuhyun dan berjalan di sisi Kyuhyun. Kyuhyun tidak berusaha melepas rangkulan sang manajer yang biasanya membuat ia risih.

“Iya! Karena biasanya pipimu ini penuh dengan lemak. Namun, sekarang berkurang,” jawab sang manajer lalu mencubit pipi Kyuhyun gemas dengan tangannya yang lain. “Ah Hyung hajima!” ucap Kyuhyun kesal sambil berusaha melepas tangan sang manajer yang berada di pipinya dan berhasil.

“Kenapa? Kau terlihat sangat manis jika diam,” ucap sang manajer lalu mencubit pipi Kyuhyun sekali lagi. “Hyung hajima!

Shireo,” jawab sang manajer menggoda Kyuhyun dengan melakukan hal itu terus menerus hingga pipi Kyuhyun sedikit memerah. “Hyung! Kau ini! Sungguh! Akan ku buat kau rugi hari ini!” ucap Kyuhyun sambil mendorong sang manajer menjauh dan berhasil.

Uri Kyuhyun! Kau sangat manis saat sedang merajuk,” goda sang manajer sambil mencoba kembali mencubit pipi Kyuhyun lagi. Kyuhyun menepisnya dengan keras. Dan sang manajer berhenti menggoda Kyuhyun karena mereka sudah sampai di lobby, dimana semua orang yang menunggu mereka ada disana.

***

Kyuhyun sudah selesai makan dan begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Namun, di saat teman-temannya tertawa karena candaan mereka Kyuhyun hanya termenung. “Kyuhyun-ssi?” panggil seseorang sambil menyentuh bahunya membuatnya menoleh dan membuyarkan lamunannya.

“Ternyata benar kau. Masih ingat padaku?” tanya laki-laki itu. “Cha Hakyeon bukan?” ucap Kyuhyun. “Benar. Bisa kau ikut dengan ku sebentar?” tanya Hakyeon. Kyuhyun hanya mengangguk dan pamit dengan teman-temannya yang lain untuk pergi duluan.

Hakyeon mengajak Kyuhyun ke cafè di seberang restoran. “Tolong bawakan aku segelas kopi hitam. Kau ingin memesan apa Kyuhyun-ssi,” tawar Hakyeon. “Tidak perlu repot-repot,” tolak Kyuhyun halus.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucap Hakyeon setelah sang pelayan pergi. “Pertama-tama aku ingin minta maaf karena sudah merebut Hyun In dari mu.”

Kyuhyun terbelak karena Hakyeon tau dengan hubungannya dengan Hyun In di masa lalu. “Tak perlu kaget karena Hyun In sudah menceritakan semuanya. Lalu aku juga ingin mengatakan kalau minggu depan kami sekeluarga akan kembali ke London.”

“Dan aku merasa aku harus memberikan waktu bagi mu dan Hyun In untuk pergi bersama, … sebagai salam perpisahan yang ia pernah lewatkan 7 tahun yang lalu,” ucap Hakyeon lalu ia menarik nafas dalam. Kyuhyun hanya terdiam tidak menjawab, membiarkan Hakyen meneruskan ucapannya. “Hyun In sendiri yang meminta izin pada ku. Jadi ku mohon, jangan menolaknya.”

“Aku akan membebaskan kalian pergi selama satu hari penuh. Silahkan kalian bersenang-senang. Karena hanya itu yang bisa ku berikan sebagai permintaan maaf ku pada mu.”

Kyuhyun hanya diam. “Apakah boleh?” tanya Kyuhyun ragu. “Boleh. Karena aku yang memintanya padamu,” jawab Hakyeon pasti. “Bagaimana apakah kau mau?” tanya Hakyeon sekali lagi. “Baiklah. Katakan pada Hyun In. Sabtu pagi jam 9 di jalan Gwanghwamun.”

“Baiklah. Terima kasih sudah menerima tawaran ku,” ucap Hakyeon lalu mengangkat tangannya untuk membayar segelas kopi yang sudah berada di dalam perutnya.

Setelah membayar Hakyeon pamit pada Kyuhyun lalu bangkit dan menepuk bahu Kyuhyun yang masih diam di tempat tanpa satu patah kata pun. Kyuhyun duduk sendirian seperti patung. Lalu bibirnya bergerak perlahan mengucapkan kata “Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”

***

Kyuhyun sudah sampai di Gwanghwamun 30 menit lebih cepat dari waktu yang di janjikan. Tadi pagi ia bahkan sengaja bangun lebih pagi daripada biasanya untuk mempersiapkan dirinya agar terlihat bagus.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya untuk mengusir rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Walaupun ia sudah memakai kaus, yang dilapis sweater rajut dan jaket musim dingin yang tebal.

Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke mesin penjual kopi yang ada di depan patung King Sejong. Kyuhyun membeli segelas kopi hitam dan segelas kopi dengan látte, kesukaan Hyun In.

Kyuhyun menyesap kopinya. ‘hangat,’ batin Kyuhyun lalu ia tersenyum. “Kyuhyun-ah panggil seseorang dari jarak 10 meter dari Kyuhyun. Kyuhyun menoleh ke asal suara dan ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan yang sedari tadi sudah ia tunggu.

“Kau sudah sedari tadi?” tanya Hyun In. “Baru saja. Ini untuk mu,” ucap Kyuhyun sambil menyodorkan segelas kopi látte yang tadi ia beli untuk Hyun In. Hyun In tersenyum lalu menerimanya. “Terima kasih.”

“Jadi kau ingin kemana dulu hari ini?” tanya Kyuhyun. “Kita pergi ke Taman bermain Lotte,” jawab Hyun In. “Ayo!” ajak Kyuhyun lalu menggandeng tangan Hyun In.

Kyuhyun sadar dengan apa yang ia lakukan ‘Biarlah seperti ini walaupun hanya sehari,’ pikir Kyuhyun sambil berjalan ke halte busway.

***

Mereka keluar dari arena bermain saat jam menunjukkan pukul 2 siang. Setelah selesai makan siang Kyuhyun dan Hyun In pergi ke taman kota. Setelah puas memberi makan pada bebek-bebek yang tinggal di danau kota, mereka pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli beberapa barang.

Setelah itu mereka pergi ke Bioskop dan menonton film terbaru. Ketika mereka keluar dari dalam bioskop langit sudah gelap dan akhirnya mereka memutskan untuk makan malam sebentar dan kembali ke Gwanghwamun.

 

Because today, this place is just as beautiful as back then

“Ah.. Baru 7 tahun aku pergi, mengapa Gwanghwamun saat malam terlihat semakin cantik? Atau karena aku sudah lama tidak kemari?” ucap Hyun In. Kyuhyun tersenyum lalu mengacak rambut Hyun In pelan. “Mungkin karena kau yang sudah terlalu lama tidak kemari. Jadi kau lupa betapa cantiknya Gwanghwamun saat malam.”

Mereka bermain-main di pinggir kolam yang tidak dalam dengan beberapa batu di pinggirnya sebagai penghias. Lalu Kyuhyun tersenyum saat melihat sebuah batu sebesar genggaman tangan anak remaja yang berbentuk hati di dalam air.

Kyuhyun menggulung jaketnya hingga ke siku. Saat itu juga rasa dingin menusuk kulitnya yang tidak tertutup apapun. Kyuhyun mencelupkan tangannya ke dalam air yang sama dinginnya dengan air dingin dari lemari pendingin.

Kyuhyun tersenyum saat tangannya menggenggam batu cantik yang tadi ia lihat. Dia menepuk-nepukkan tangannya yang basah ke celana levisnya lalu mengeluarkan batu dalam genggamannya dan menunjukkannya pada Hyun In.

“Lihatlah ini. Cantik bukan?” tanya Kyuhyun. “Wah… Cantiknya,” jawab Hyun In terkagum ketika melihat batu berbentuk hati yang berada ditangan Kyuhyun. “Tapi tentu saja masih lebih cantik dirimu Hyun.”

Ucapan Kyuhyun membuat suasana menjadi dingin. Sedingin udara malam itu. “Kurasa aku harus pulang. Ini sudah cukup larut,” ucap Hyun In sambil menggendong ranselnya dan berdiri di sebelah Kyuhyun yang masih terduduk.

“Cho Kyuhyun, semoga kau terus berbahagia dan dikaruniai tuhan. Selamat tinggal,” ucap Hyun In lalu berjalan pelan meninggalkan Kyuhyun. ‘Kali ini Selamat tinggal?’ batin Kyuhyun.

Kyuhyun bangkit lalu berlari ke arah Hyun In yang belum berjalan jauh. “Kau ingin kemana?” tanya Kyuhyun. “Kenapa selamat tinggal? Aku yakin kita masih bisa bertemu di lain waktu.” ucap Kyuhyun di belakang Hyun In.

“Tidak Kyu. Tidak semudah itu kita akan bertemu,” jawab Hyun In lalu berbalik menghadap Kyuhyun. “Kalau begitu tetaplah bersamaku,” ucap Kyuhyun frontal. Ia tahu ia sudah gila. Ia ingin perempuan yang berada dihadapannya yang sudah menyanding status menikah dengan orang lain menjadi miliknya.

“Tidak bisa semudah itu. Mengatakannya memang mudah namun menjalaninya akan sangatlah berat,” jawab Hyun In. Kyuhyun berjalan mendekat ke arah Hyun In. “Apakah kau senang menghabiskan waktumu dengan ku hari ini?”

“Senang aku sangat senang Kyu,” jawab Hyun In. “Kalau begitu tetaplah bersamaku. Bercerailah dengan laki-laki itu,” ucap Kyuhyun yakin. “Masalah Hyun Jae. Aku tidak keberatan untuk menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri.”

“Tidak bisa. Hakyeon laki-laki yang baik aku tidak bisa menyakitinya,” ujar Hyun In. “Jadi menurutmu aku tidak baik?” tanya Kyuhyun. “Tidak. Bukan begitu hanya saja-”

“Hanya saja kenapa?” potong Kyuhyun.

“Tidak bisa. Tidak bisa Kyu. Tidakkah kau mengerti? Semuanya tidak akan berhasil,” ucap Hyun In sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya secepat mungkin. “Karena sekarang hatiku, diriku, dan jiwaku sudah milik Hakyeon.”

Tubuh Kyuhyun menegang. “Aku tahu walau belum sepenuhnya ia memiliki hatiku. Masih ada secercah kecil ruang di hatiku untukmu Kyu,” ucap Hyun In dengan air mata yang mengalir lebih deras dan ia tidak lagi menghapusnya.

“Tapi aku yakin sebentar lagi ia akan memiliki hati ku seutuhnya,” lanjut Hyun In. Kyuhyun merasakan sakit yang sangat di dadanya, tepat di jantungnya. Harapan terakhirnya sudah pupus. Ia tidak akan bisa, dan tak akan pernah berhasil mencapatkan Hyun In lagi.

Sekalipun Kyuhyun berhasil, ia yakin semuanya tidak akan sama lagi. Hyun In yang sekarang sudah sangat berbeda dengan Hyun In yang dulu saat Hyun In masih menjadi miliknya.

“Baiklah jika itu keputusanmu, aku tidak bisa memaksanya. Namun, kau tahu jika Hakyeon membuatmu sedih atau kecewa, saat itu juga aku akan membuat ia menyesal karena aku akan menggantikan posisinya saat itu juga.”

Hyun In tersenyum. “Terima kasih karena sudah mengerti,” ucap Hyun In. “Tapi bolehkan aku meminta satu hal padamu?” tanya Kyuhyun. “Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?”

Hyun In mengangguk. Kyuhyun melingkarkan tangannya pada tubuh Hyun In lalu memeluknya erat. Kyuhyun membenamkan kepalanya di ceruk leher Hyun In lalu menghirup harum tubuh perempuan itu dalam dan menyimpannya di dalam memorinya.

Kyuhyun menangis, dia tidak ingin Hyun In meninggalkannya lagi. Kyuhyun melepas pelukannya dengan enggan. “Jangan menangis,” ucap Hyun In sambil mengelus pipi Kyuhyun yang basah.

“Kau tahu? Kemarin Hyun Jae terjatuh di taman saat bermain di taman dengan anak dari temannya Hakyeon. Lutut Hyun Jae terluka namun ia tidak menangis. Saat ku tanya apakah lukanya sakit? Dia menjawab iya. Dan saat ku tanya lagi mengapa tidak menangis? Kau tahu ia menjawab apa?”

Kyuhyun hanya diam. “Hyun Jae menjawab ‘Paman Kyuhyun bilang laki-laki tidak boleh menangis, Jadi sesakit apapun lukanya Hyun Jae tidak boleh menangis karena Hyun Jae adalah laki-laki’.”

“Mengertikan? Kau sendiri yang mengatakan laki-laki tidak boleh menangis. Jadi jangan menangis Cho Kyuhyun,” ucap Hyun In panjang sambil menghapus air mata Kyuhyun.

“Baiklah. Aku berjanji tidak akan menangis. Pulanglah. Hakyeon pasti akan mengkhawatirkan mu jika kau pulang lebih lama lagi,” ucap Kyuhyun yang diakhiri senyum palsu. “Baiklah aku pergi. Terima kasih untuk semuanya Cho Kyuhyun. Selamat tinggal.”

***

Hyun In sudah sampai di halte subway yang paling dekat dengan apartement milik Hakyeon dulu yang mereka tempati sekarang. Dia kaget saat melihat seorang laki-laki yang sangat familiar duduk di halte menunggu kedatangan Hyun In. “Hakyeon?”

“Kau sudah kembali? Bagaimana dengan acara jalan-jalanmu hari ini?” tanya Hakyeon sambil menghampiri Hyun In. Dia meraih tangan Hyun In dan menggenggamnya erat lalu berjalan perlahan di trotoar jalan.

“Menyenangkan. Bagaimana harimu?” tanya Hyun In balik. “Aku dan Hyun Jae pergi ke kebun binatang tadi siang lalu sorenya kami pergi ke rumah Taekwoon. Hyun Jae yang sedang asik bermain dengan Yoogeun tidak ingin di ajak pulang lalu ku biarkan ia menginap disana. Lagipula ia jarang bertemu Yoogeun wajar saja jika mereka sudah bertemu tidak dapat dipisahkan.”

Hyun In terdiam hatinya gelisah. “Tadahkan tanganmu ke atas,”ucap Hakyeon tiba-tiba lalu berhenti berjalan. Hyun In bingung, namun tetap mengikuti perkataan Hakyeon.

Tiba-tiba sebuah titik kecil yang halus dan lembut turun dari langit lalu jatuh di tangan Hyun In. “Salju?” tanya Hyun In sambil mendekatkan telapak tangannya ke penglihatannya. “Salju turun malam ini. Itu yang ku tahu dari siaran berita cuaca tadi sore.”

“Aku mencintaimu,” ucap Hakyeon. Walaupun pengakuan itu bukanlah yang pertama namun dapat membuat pipi Hyun In memanas dan memerah. “Kenapa wajahmu memerah? Apa kau kedinginan?” tanya Hakyeon khawatir.

Hyun In tidak menjawab. Hakyeon dengan cepat melepas topi rajut yang berwarna biru dongker yang ia pakai dan memakaikannya ke kepala Hyun In tanpa membuat berantakan tatanan rambut Hyun In.

“Apakah sudah lebih baik?” tanya Hakyeon sambil menyentuh kedua sisi pipi Hyun In. “Aku juga mencintaimu Hakyeon.”

Saat itu juga tubuh Hakyeon menegang. “Apa yang kau-”

“Aku mengatakan, kalau aku juga mencintaimu,” ucap Hyun In mengulang pengakuannya. Hakyeon tersenyum lalu merangkul Hyun In dan kembali berjalan perlahan di atas trotoar menuju apartement dengan hati yang senang karena Hyun In yang sudah mencintainya dan mengatakannya dengan lembut dan halus seperti salju pertama yang turun malam itu.

***

Kyuhyun masih berdiam diri di Gwanghwamun setelah Hyun In pergi dengan subway yang dinaikinya. Kyuhyun berdiam cukup lama. Tangannya masih menggenggam batu berbentuk hati tadi. Ia menatapnya lalu air matanya menetes ke telapak tangan dan batu tersebut. Tak perduli dengan janjinya tadi pada Hyun In.

Kyuhyun menghentikan tangisnya saat ia melihat sebutir salju yang terjatuh di atas batu itu. Kyuhyun menggenggam batu itu erat dan menghapus air matanya dengan tangannya yang lain.

Dia berjalan ke arah trotoar. Dia berjalan ke ujung jalan Gwanghwamun.. Sampai di ujung jalan sebelum berbelok Kyuhyun menoleh ke arah Gwanghwamun yang sudah cukup sepi dan berharap Hyun In ada disana.

Dia melangkahkan kakinya berbelok dari jalan Gwanghwamun sambil meremas pelan batu yang berada di dalam genggamannya. “Selamat tinggal. Lee Hyun In, Aku mencintaimu.”

***

For no reason, like a fool, Im standing at this spot. Waiting for you, who wont come. I look back once again at this road in Gwanghwamun, in case you are standing there.” – Cho Kyuhyun.

THE END

Advertisements