Untitled-1

Title: Love soul and eternity

cast: Kyuhyun, Donghae, Selina[OC], Hanna[OC]

genre: fantasy romance, sad romance, hurt

Rating: G

>FariHadaina’s Fanfiction<

S

O

U

L

Jiwa Kalian adalah makanan kami

 

Donghae mendelik sinis pada pria bermata sipit itu.Tatapannya seperti seorang pembunuh yang siap menerkam korbannya.Penuh kebencian dan amarah.

“Sayang, sudah lama kita tidak jalan berdua seperti ini.” Suara itu tersengar sarat akan rayuan. Donghae mencibir kesal. Lantas ia segera mengganti posisi jalannya menjadi di tengah Selina dan pria bermata sipit itu. Mengundang senyuman geli dari pria bermata sipit itu.

“Jangan lupakan aku yang juga ada di sini.”Ujar Donghae dingin.

Donghae semakin bertambah kesal ketika pria di sebelahnya terawa sarat akan ejekan. Pria berambut bruenette itu merutuki Selina yang hanya diam saja sejak pertemuan mereka di ruang utama hingga sekarang, berjalan menuju ke kamar masing-masing diantar pria menyebalkan.

Tak  mempunyai malu, kah? Atau pria mata sipit itu terlalu percaya diri?Donghae akui pria itu cukup tampan namun terlihat memuakkan.

Sedangkan Selina hanya memasang ekspresi dinginnya.Ia sesekali melirik Donghae di samping kanannya. Dia tahu sepupunya itu sedang menahan amarah.Tapi tingkah Donghae terlalu berlebihan. Pasalnya, wanita itu bukan wanita rapuh layaknya dulu melainkan wanita yang berdarah dingin, seperti kata soultucral-soultucral di luar sana. Setidaknya Selina sudah mendoktrin pikirannya dengan kalimat-kalimat itu.

“Apa masih jauh?” akhirnya Selina bersuara.Jengah juga dengan suasana seperti ini.

“Sebentar, sayang. Ah! Ini dia kamarmu selama di sini honey.Dan di depannya kamarmu Donghae-ssi.”

Selina memandang pintu berukiran burung gagak.Lambang khas keluarga Bangsawan Kim.

“Hm. Baiklah Myungsoo-ssi, kami akan beristirahat. Terima kasih sudah mengantar secara langsung.Sampai jumpa.”Selina mengisyarat Donghae agar segera masuk kamarnya, lalu dengan gerakan anggun Selina memasuki kamarnya.

Myungsoo, pria bermata sipit itu tersenyum tipis.Menatap pintu kamar yang di dalamnya terdapat wanita masa lalunya.Donghae yang masih di luar, menatap tajam Myungsoo.

“Sebaiknya kau kembali ke tempatmu, tuan muda Kim terhormat.”Ujar Donghae tajam.“Dan, jangan pernah kau mencoba untuk menyentuh Selina sedikit pun.”Lanjutnya dengan penuh penekanan.

Myungsoo terkekeh kecil mendengar suara permusuhan dari Donghae.Dia mengendikkan bahunya pelan, kemudian berjalan mundur ke belakang. “Kita lihat nanti Donghae-ssi.” Lalu Myungsoo berbalik dan melenggang pergi.

Donghae menggeram pelan.Dia tahu keputusan datang ke sini bersama Selina bukan hal yang baik.Ia bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dengan kasar, Donghae membuka pintu kamar Selina.Ia hendak melayangkan protes.

“Ya!Mana sopan santunmu?” teriak Selina melihat Donghae masuk tergesa-gesa.Ia segera mendudukan dirinya di atas kasur.

“Selina Shin. Mengapa kau bertindak ramah pada pria itu? Hah?”

“huh?” Selina mengangkat alisnya tidak mengerti. Tapi sejurus kemudian ia langsung terkekeh pelan, “Apa  salahnya? Dia adalah salah satu keluarga bangsawan Kim yang telah mengundang kita, tentu  saja kita harus menghormatinya.”

Donghae mendengus pelan, kemudian mengacak rambutnya kesal.“Pokoknya kau tidak boleh berdekatan dengan dia. Titik.Tidak ada bantahan Selina Shin.”

Debuman pelan dari pintu kamar yang di hempaskan keras oleh Donghae, membuat Selina mengernyit kaget.Selina memutar bolanya matanya malas, lalu merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur.Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna emas pekat. Sekarang, ia berada satu puri dengan lelaki itu dan itu berarti mereka akan saling berinteraksi. Jantungnya berdetak dengan cepat, kala mengingat pemikiran itu.Apa yang harus di lakukannya? Bagaimana jika perasaan itu datang kembali, dan dengan bodohnya jatuh pada lubang kelam yang sama?

“Jika aku bersamamu terus menerus, aku tidak akan bisa kekal dan abadi.Jangan naïf Sel. Semua tahu, dan kau juga pasti tahu. Setiap Soultucral mempunyai tujuann yang sama, kekal dan abadi.”

“Kukira, semua itu tidak berlaku untuk kita.Kau bilang kau akan terus bersama denganku!”

“Kau terlalu bodoh dan naïf, Sel. Aku bilang ‘bersama’ bukan berarti terus bersama denganmu sampai aku musnah.Aku berjanji untuk bersamamu hanya sampai perasaan konyol ini habis.”

Selina membuka matanya cepat.Bayangan itu kembali muncul saat matanya terpejam hanya untuk sesaat.Denyutan itu kembali terasa.Rasanya dia terlalu bodoh pada saat itu, terlalu naïf, dan terlalu terbuai dengan kata ‘Cinta’.

Dia bangkit dari rebahannya, berjalan menuju pintu yang ia yakini sebagai pintu kamar mandi. Dengan cepat ia menyalakan keran wastafel, lalu membasuh wajahnya kasar. Selina memandang wajahnya yang terlihat kacau.

“Sial.” Geramnya sembari mengeratkan pegangannya pada pinggir wastafel.

***

“Apa kau yakin sudah melakukan persiapan dengan sempurna?”

“Ya, ayahanda.Hanya masalah kecil yang di perbuat oleh Tucgral-tucgral bodoh itu.” Myungsoo—pria bermata sipit—berlutut patuh di depan pria yang sangat ia hormati dan dia segani.

“Bukan hal yang besar, bukan?”Tanya pria paruh baya yang tengah duduk di singgasananya.Tapi, pria paruh baya itu tertawa kecil, “Ah benar.tentu bukan hal yang besar, mengingat kemampuanmu Myung. Ayah percaya padamu. Hey, jangan mendelik pada Tucgral pribadiku Myung, kau membuatnya ketakutan.”

Myungsoo yang tengah mendelik tajam pada Tucgral berbadan mungil samping Tuan Kim, mendengus kesal.Tucgral, kaum Soultucral yang mempunyai kelainan atau mungkin bisa di katakan cacat.Mereka tak dapat berburu jiwa sendiri.Mereka tak mampu dan tak mempunyai kekuatan untuk menghisap jiwa manusia.Kelemahan itu di manfaatkan oleh para keluarga bangsawan untuk menjadikan mereka budak dengan upah segelintir jiwa, sisa mereka berburu.Siapa yang akan menolak tawaran itu? Apalagi bagi seorang Tucgral yang haus akan jiwa namun tak dapat menghisap jiwa.

“Jalankan rencana ini dengan baik, Myung.Kau tahu ini jalan menuju keluarga kita dapat menjadi pemimpin semua kaum Soultucral.Lakukanlah dengan baik.sebentar lagi ‘dia’ akan datang, berarti sebentar lagi rencana kita akan di mulai.” Suara Tuan Kim berubah menjadi lebih serius, suaranya terdengar berat dan penuh dengan penekanan.

“Ya ayah, aku mengerti.”Myungsoo mengangguk pelan, kemudian tersenyum kecil. Ya ia yakin semua rencananya akan berjalan dengan baik tanpa halangan.

***

Tautan pada jemarinya semakin mengerat.Jantungnya berdetak tak karuan.Rasanya dia ingin melarikan diri sejauh-jauhnya dari sini.Dia melirik namja di sebelahnya dengan gusar. Ya Tuhan, dia sama sekali tidak menyukai situasi seperti ini.

“Berhenti meremas tanganmu, Han.Lama-lama kau bisa mematahkan jarimu sendiri.”Kyuhyun  menatap tangan Hanna dengan datar. Ia berjalan mendahului Hanna. Tangannya ia masukkan dalam saku celana, dengan gaya yang penuh percaya diri dan angkuh ia berjalan memasuki lebih dalam puri bangsawan Kim.

“Kau puas Kyu?Kau senang melihatku seperti ini?”Tanya Hanna pelan.Dia menatap punggung Kyuhyun tajam.Tangannya beralih menggenggam ujung jubahnya.Ia yakin jika ia tidak menggenggam sesuatu tanganya akan bergetar hebat.

Kyuhyun mengangkat bahunya pelan, “Mungkin. Melihatmu gugup dan ketakutan itu cukup menghiburku.” Jawabnya cuek.Hanna menatap sinis saudaranya. Ah, apa Kyuhyun masih bisa di katakan saudara? Dia bahkan tak berniat menenangkan Hanna.

Hanna menghela napas panjang. Dia menyadari ia tak punya siapa-siapa disini untuk berlindung. Dia di sini akan sendirian. Benar-benar sendirian.Lagipula dia sudah dewasa, bukan anak kecil yang lemah lagi.Anak kecil yang hanya bisa menangisi sesuatu yang tak dapat kembali.

“Payah, penyambutan yang sangat payah.” Gerutu Kyuhyun kesal. Dia tak berhasil menemukan sang tuan rumah sepanjang perjalanannya, hanya pelayan-pelayan yang mengantar mereka menuju ke kamar mereka.

“Jangan banyak mengeluh.Kau ini seperti anak kecil.”

“Kau yang seperti anak kecil Hanna.Kau terlihat ketakutan seperti manusia yang akan di hisap jiwanya.”

“Aku tidak takut.”

“Kau takut Hanna.Kau tidak bisa membohongiku.”

“Kau tidak tahu apa-apa Kyuhyun.”Suara Hanna berubah menjadi kelam.Kyuhyun membalikkan badannya dan menatap Hanna.“Kau bukan Kyuhyun yang kukenal dulu.Tapi, aku tidak masalah dengan itu.Jadi, jangan pernah meremehkanku.”

Mata Kyuhyun menatap Hanna tajam, “Kau yang memulai duluan.”Tangan Kyuhyun mengepal keras, berusaha menahan emosinya yang membuncah.Sebelum Hanna sempat berbicara, Kyuhyun kembali berucap, “Sudahlah. Lupakan.” Ucapnya datar, sembari meninggalkan  Hanna sendirian.

Tangannya masih terkepal erat.Langkahnya yang besar-besar membelah udara yang berada di koridor.Kebencian itu semakin mengakar padanya.Namun dia sadar, dia tak pernah bisa membenci Hanna dengan sepenuhnya.Ikatan darah menghalangi benaknya untuk menyingkirkan sosok wanita itu.

Langkahnya terhenti di salah satu balkon yang menghadap ke taman belakang. Kyuhyun mencengkram pembatas yang terbuat dari batu-batu ukir.“Pabboya!” umpatnya entah pada siapa yang pasti dia membutuhkan pelampiasan rasa kesalnya.Perlahan emosi itu memudar bersamaan dengan matahari yang mencapai ufuk barat.Kegelapan mulai menyelimuti puri bangsawan Kim ini.Kyuhyun memejamkan matanya perlahan. Menghirup udara sebanyak mungkin, yang sebenarnya tak akan berpengaruh padanya. Soultucral tak membutuhkan udara, mereka hanya membutuhkan jiwa sebanyak mungkin.

“Kau namja payah.”Suara wanita tiba-tiba menyapa indra pendengaran Kyuhyun. Lelaki berambut coklat ikal itu membalikkan tubuhnya cepat. Siapa yang berani mengatakan hal seperti itu pada Kyuhyun, Soultucral bangsawan yang sangat di hormati soutucral lain. Kyuhyun mngernyit mendapati pelaku suara tersebut, sedang melipat tangannya santai di depan dadanya.

“Selina Shin?”

Yeoja itu berjalan mendekati pagar pembatas.Wajahnya menatap dingin pemandangan di bawah puri tanpa mengindahkan pertanyaan Kyuhyun.“Bagaimana bisa namja-namja begitu payah daripada wanita. Tsk.” Selina berdecak kesal mengingat Donghae, dan namja di sebelahnya yang begitu payah.

Kyuhyun mengernyit tak suka. “Apa maksud anda?” tanya Kyuhyun tajam sembari menatapnya tajam. Seakan tak peduli dengan tatapan tajam Kyuhyun, Selina mengendikkan bahunya cuek.

“Aku lihat kau berteriak di koridor dekat kamarku dengan seorang wanita, sepertinya adikmu?Entahlah.Yang pasti aku dapat merasakan kau menyimpan berjuta kemarahan, tapi tak bisa membenci.Payah.Jika ingin membenci bencilah.”

“Dia bukan adikku.” Jawab Kyuhyun cepat sembari melemparkan pandangannya ke depan.

“Kalau bukan adikmu.Lalu apa susahnya kau membencinya?”

Kyuhyun terdiam, “entahlah.” Lelaki itu tediam sejenak, “Mungkin masalah waktu.”

***

Tok Tok

“Masuk.”

Pintu kayu berukir itu terbuka menampakkan pelayan yang tadi pagi menyambutnya di depan. Pelayan itu sedikit membungkuk memberi hormat.

“Sebentar lagi acara makan malam penyambutan para tamu akan dimulai.Harap anda segera bersiap-siap.Apa anda perlu sesuatu?”

Hanna menatap pelayan itu ragu, “tidak  ada Kim-ssi.Terimakasih.”

“Kalau begitu saya permisi.”Pelayan Kim kembali membungkuk hormat dan menghilang di balik pintu.

Hanna menatap pintu itu nanar.Haruskah dia?Haruskah dia bertemu dengan bangsawan Kim?Tangannya saling mengerat gelisah.Ia menatap cermin dihadapannya. Refleksi dirinya terlihat begitu kacau, hatinya semakin kacau karena adu mulutnya dengan Kyuhyun tadi.

“Eomma..tolong aku..” Pantulan di cermin itu menampakkan sosoknya yang terlihat kecil dan rapuh sama seperti sekarang dalam rentang usia berbeda.

“Eomma….jangan tinggalkan aku.” Sosok kecil itu menangis terisak di depan meja riasnya. “Appa jangan tinggalkan Hanna juga.Hanna takut.Takut sekali.”Air mata itu mengalir dengan deras tanpa mau berhenti.Bayangan darah dimana-dimana terus menghantui pikirannya.Refleksi ayah dan ibunya yang tergeletak mengenaskan dikamar mereka terus terngiang dalam pikiran kecilnya.

“Harus kita apakan anak dari Kangin?”

“Kita tak mungkin membiarkannya sendirian!Keluarga ini telah diincar.”

“Aku tidak mau mengasuhnya.Terlalu beresiko untuk keluargaku.”

“Ya, aku setuju.Lagipula anak itu terlalu menakut…”

“Diam Yonghwa!Jika kalian tidak mau mengurus Hanna.Biar aku saja yang mengurusnya.Masalah selesai bukan?”

Hanna yang terkejut sekaligus heran dengan suara-suara di luar kamarnya, memutuskan mengintip lewat celah pintu kamarnya. Dilihatnya beberapa lelaki paruh baya yang tak dapat ia kenali, kecuali satu orang. Pamannya. Cho Jino.

“Apa kau yakin?itu tidak baik bagi keluargamu.” Sahut seseorang pada akhirnya setelah hening beberapa saat.

“Lebih baik kita buang saja dia ke asalnya. Itu membuat kita aman dalam posisi kita.”

“buang?” gumam Hanna lirih. Ia tahu apa maksud kata dari ‘buang’ itu. Dia cukup mengerti di umurnya yang masih belia. Tangannya bergetar ketakutan, dadanya sesak,dan matanya bergerak gelisah. Dia menutup telinganya mendengar suara keras di luar yang sedang berdebat tentang dirinya. Dia berlari menuju sudut ruangan kamarnya. Dirinya merasa terancam dengan keadaannya sekarang. Tubuhnya meringkuk mencari kehangatan pelukan sang ibu yang biasa ia dapatkan ketika ketakutan.

Sebuah tangan menepuk bahu Hanna pelan. Tersentak. Hanna langsung berteriak ketakutan. “Jangan mendekat! Kumohon jangan buang aku! Aku… aku sangat takut!”

“Hanna.. ini aku Kyuhyun. Uljima.”  Kyuhyun menatap nanar saudara sepepunya itu. Jemarinya mengusap punggung Hanna guna menenangkannya. Hanna berangsur membaik, ia mendongak menatap Kyuhyun di depannya.

“Jangan takut. Aku,Eomma, dan Appa akan melindungimu.” Jawab Kyuhyun sembari tersenyum kecil.

“Aku—“

Brak

Belum sempat Hanna menjawab, pintu itu terbuka keras. Membuat Hanna beringsut ketakutan. Sesosok yang tidak ia kenali. “Kyuhyun jangan dekati dia. Sebelum kita membuat keputusan, jangan berani-berani kau memasuki kamar ini. Arra?” sosok itu membawa Kyuhyun pergi paksa, meninggalkan Hanna sendirian. Kesepian.

“Aku benci.” Desis Hanna.

.

.

“Apa wanita cantik di hadapanku sudah siap?” Hanna terlonjak kaget. Pada cermin yang di hadapannya muncul refleksi selain dia. Refleksi itu seorang pemuda bermata sipit. Ia berputar cepat menghadap pria yang telah lancang memasuki kamarnya. Mata Hanna menyipit tajam.

“Siapa kau?”

Pemuda itu tertawa kecil, kemudian membungkuk sedikit. “Kim Myungsoo. Maaf tidak sempat menyambut kedatanganmu. Ada yang harus kukerjakan.” Sontak Hanna mengeratkan tangannya gelisah. Matanya menatap waspada. Dia adalah bagian dari keluarga bangsawan Kim, teriakan peringatan terus menggema di otak wanita itu.

Myungsoo mengangkat alisnya, “Apa kau sedang tidak enak badan, nona?” tangan pria itu menjulur hendak menyentuh dahi Hanna, namun dengan sigap Hanna mengalihkan wajahnya.

“Ti-tidak apa. Aku baik-baik saja.” Sahut Hanna mencoba untuk tenang namun suaranya tetapterdengar bergetar dan Hanna merutuki itu semua. “Keluarlah. Aku akan berganti pakaian.” Hanna berjalan melewati Myungsoo tanpa melihatnya. Myungsoo terkekeh kecil.

“Oke, tuan putri. Aku tunggu di depan.” Ucapnya sembari sedikit menggoda wanita yang tengah berdiam diri di depan lemari.

Pintu ukiran itu tertutup bersamaan dengan Myungsoo yang hilang dari kamar tersebut. Hanna mendecih lirih mengingat ucapan pria keturunan bangsawan Kim itu. Dengan cekatan Hanna mengambil gaun kebesaran keluarga Park. Matanya menatap sedih lempengan emas yang berbentuk bunga mawar. Tangannya mengusap lempengan yang tersemat di ujung atas bagian dada. Lambang keluarga Park. Keluarga yang hanya tersisa dirinya seorang. Ya hanya dirinya seorang.

***

“Aih sial! Aku memikirkan pria menyebalkan itu.” Rambutnya yang memang sudah berantakan semakin tak beraturan karena ulah tangan pria itu. Tak henti-hentinya ia mengumpat tak jelas, sembari mengancingkan kemejanya.

“Bagaimana bisa Selina bisa setenang itu, padahal aku merasakan hal yang ganjal pada pria mata sipit sialan itu. Tidak, tidak, puri ini juga cukup mencurigakan.” Donghae, nama pria tersebut meraih jubah hitam yang menjadi jubah kesayangannya. Donghae memijat pelipisnya yang terasa penat. Lalu, dengan cuek ia berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Selina di depannya.

“Sel, cepatlah. Kita harus menghadiri acara penyambutan itu.” Donghae mengetuk sekali pintu kamar Selina, kemudian bersedekap dan menyandar di dinding. Lama Donghae menunggu, membuatnya mengernyit heran. Seakan tersadar ia membuka pintu kamar Selina tanpa izin pemiliknya.

“Aish, kemana dia?” Donghae mengumpat lagi. Ia mendengus kasar sekaligus kesal tak mendapati Selina di kamarnya. Dengan langkah tergesa Donghae menyusuri koridor puri yang menurut Donghae memuakkan ini.

Langkahnya melambat melihat sesosok Myungsoo tengah berdiri di depan kamar entah siapa. Ia memperhatikan pria sipit itu dengan heran. Langkahnya akan berlanjut tapi ia urungkan saat seorang wanita yang sangat ia hafal keluar dari kamar tersebut.

“Hanna-ssi?” gumam Donghae tertegun.  Siapa yang tak tertegun, melihat kecantikan yang terpancar dari Hanna. Tapi lagi-lagi Donghae mengepalkan tangannya melihat Myungsoo menggenggam tangan Hanna yang terlihat gelisah. Hey, wanita itu terlihat sangat tidak nyaman di genggam Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan?” geram Donghae menampik tangan Myungsoo. Ternyata naluri seorang Donghae menjadi sangat cepat jika itu berhubungan dengan wanita bernama Park Hanna.

“Donghae-ssi?” Hanna menggumam heran dan terkejut.

“Apa yang kau lakukan Tuan Kim? Kau tak melihat wanita ini tidak suka kau genggam tangannya.” Desis Donghae sembari menggenggam tangan Hanna lalu menarik gadis itu pergi.

“Biar dia bersamaku.” Ucap Donghae tanpa membalikkan badannya.

Myungsoo terdiam untuk beberapa saat, namun sedeti kemudian dia terkekeh pelan. Ah mungkin lebih tepatnya menyeringai. “Menarik.” Gumamnya sembari melihat bayangan Donghae dan Hanna yang menghilang di tikungan.

“Kau! Kau apa yang kau lakukan disini?” ucap Donghae tiba-tiba setelah ia menghentikan langkah lebar miliknya tadi. Hanna yang tersadar dari keterkejutannya segera menarik tangannya dari cengkraman Donghae. Dia mengerutkan dahinya melihat Donghae yang terlihat marah.

Jadi, dia benar-benar datang ke sini seperti apa kata  Kyuhyun?Batin Hanna teringat perkataan Kyuhyun sebelum mereka berangkat. Hanna membuang mukanya menyadari Donghae menatapnya intens.

“T-tentu aku menghadiri undangan dari bangsawan Kim.” Jawab Selina acuh.

“Lalu, apa kau mengenal lebih Kim Myungsoo? Pria yang bersamamu tadi?” tanya Donghae lagi dengan nada menuntut. Matanya menatap intens wajah wanita di depannya.

“T-tidak. Aku tidak mengenal dia. A-aku baru bertemu tadi.Ya! berhenti menatapku seperti itu!” teriak Hanna frustasi. Tatapan mata Donghae membuat dirinya merasa risih.

“Wae?” dengan masih memepertahankan tatapannya, Donghae bertanya dengan polos. Hanna beralih menatap Donghae sebal. Berniat melayangkan protesannya. Namun niatannya harus kembali tertelan dalam hatinya. Matanya malah terpaku  menatap mata hitam milik Donghae. Kedua mata itu saling terkunci untuk menyelami manik indah milik lawannya.

Seakan dunia menjadi milik mereka berdua. Donghae mulai merengkuh pinggang wanita itu mendekat. Wangi vanilla menguar dari tubuh wanita didepannya. Sungguh ia akan merasakan candu pada wangi tubuh Hanna. Pria bernama Donghae itu mulai mendekatkan wajahnya, hendak meraih bibir ranum di depannya.

Seperti tersihir oleh pesona Donghae, Hanna bergerak tidak sesuai dengan akal sehatnya. Ia mulai memejamkan matanya melihat wajah Donghae mendekat. Namun, sebelum bibir mereka bersatu. Hanna merasakan tangan Donghae yang mengeratkan rengkuhan di pinggannya. Dan semua itu membuat Hanna tersadar dari keterpesonaannya.

Dengan cepat ia mencubit keras tangan milik Donghae dan tanpa di duga-duga Hanna membenturkan kepalanya pada kepala milik Donghae yang masih terpejam. Dua serangan sekaligus, mampu menyentak Donghae.

“YA!” teriak Donghae kesakitan dan segera menjauhkan badanya dari Hanna.

“YA! KAU PABBO, DONGHAE-SSI!” teriakan yang lebih nyaring dari Donghae menyahut kemudian menerjang gendang telinga Donghae yang sedang meringis kesakitan.

Continue..

Advertisements