Bitter and Sweet

[ Ficlet| Romance | Teen ]
starring EXO‘s Kai
and f(x)‘s Krystal

by

Eunike

I only own the story and art. ]

Sudah pernah di post di sini

***

Dari naungan mentari senja yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kita, dan secangkir teh yang menjadi saksi pertemuan terakhir kita.

***

Sinar matahari pagi memancar cerah menyinari gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Seoul. Jongin—seorang lelaki berperawakan tegap lengkap dengan kemeja putihnya yang digelung sebatas siku dan jeans panjang—berjalan santai menyusuri jalan. Sambil bersiul rendah, ia melangkahkan kakinya diantara bangunan-bangunan familiar disamping kiri dan kanannya. Tersenyum kecil dan menganggukkan kepala tatkala pandangannya bertemu dengan salah satu penjaga toko kenalannya.

“Pagi, Jongin-ssi.”

“Ah, Kyungsoo-ssi! Habis wawancara pegawai baru?”

Kyungsoo tersenyum lebar lalu menunjuk seorang wanita bersurai coklat panjang yang tengah membersihkan meja satu persatu. “Yah, begitulah.”

Jongin ber-oh singkat seraya mengikuti arah pandang Kyungsoo pada wanita tersebut. “Ehm, baiklah kalau begitu. Aku duluan ya!” Jongin melambaikan tangannya sekilas lalu meneruskan langkahnya.

“Ya, hati-hati di jalan!” sahut Kyungsoo.

Kakinya terus melangkah maju, melewati jajaran toko yang menjual beraneka ragam barang. Mulai dari makanan cepat saji, sampai oleh-oleh khas Seoul. Menjadi sasaran para turis yang sedang berlibur di ibu kota Korea Selatan ini.

Tak lama kemudian, Jongin membelokkan langkahnya menuju sebuah kafe minimalis yang berada diantara toko buku dan toko musik milik seorang pria bermarga Choi.

“Selamat pagi, Jongin!” sapa pemilik kedua toko tersebut dengan senyum menawan yang selalu menghiasi wajahnya.
Jongin menolehkan wajahnya dan mengulas senyum ramah. “Pagi juga, Siwon-ssi.”

Setelah bertegur sapa singkat, pria itu segera bergegas dengan mobilsport-nya. Meninggalkan Jongin dengan tatapan kagum akan sosok berwibawa yang menjiwai Choi Siwon dengan apik.

Tidak mau membuang-buang waktu, Jongin segera membuka pintu kafe dan menjejakkan kakinya memasuki ruang kafe yang didominasi oleh warna-warna teduh. Membuat siapapun merasa nyaman berlama-lama di sana. Termasuk Jongin.

“Ah, Jongin-ah! Untung kau datang lebih awal. Bisa tolong bantu aku menyiapkan kafe? Sehun belum kembali dari Jepang,” sambut seorang pria paruh baya yang tengah berkutat di counter kafe.

Kedua alis Jongin terangkat heran. “Sehun belum kembali? Kenapa lama sekali, sih..”

Pria paruh baya itu melirik Jongin sekilas sebelum berlalu menuju jendela kafe dan membuka tirai. “Entahlah. Tapi katanya lusa ia sudah bisa kembali bekerja.”

“Oh.” Dalam hari Jongin merengut pelan mengingat tugasnya yang akan bertambah banyak dengan ketidakhadiran Sehun—rekan kerjanya. Setelah menghela napas pasrah, Jongin mulai menuruni bangku-bangku yang diangkat keatas meja. Mengelap debu-debu yang menumpuk disana dan menyapu bersih lantai keramik kafe.

Mungkin pagi ini akan menjadi pagi yang panjang, keluh Jongin.

***

Selang beberapa menit sebelum kafe ditutup. Dengan wajah lelahnya, Jongin menghempaskan diri ke salah satu bangku di dekat jendela. Tangannya menggenggam kain lap dan celemek coklat khas kafe tempatnya bekerja masih melekat di tubuhnya. Pandangan matanya menyorot keluar jendela, menatap para pejalan kaki yang berlalu-lalang memenuhi jalan. Ada yang tengah berlari dikejar waktu, ada juga yang tengah berpacaran. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, sampai-sampai minim kemungkinannya bagi mereka untuk menyadari hari sore yang cerah. Sinar matahari yang memancar lembut beserta semburat-semburat oranye yang mewarnai langit. Bukankah ini indah?

Jongin mendesah pelan dan duduk bertopang dagu. Seulas senyum kecil menghiasi wajahnya. “Saat yang tepat untuk tidur..,” gumamnya pelan sebelum memejamkan mata dan mempersiapkan diri untuk memasuki alam mimpi.

Tapi sial. Dentingan bel yang diletakkan di balik pintu berbunyi dengan kurang ajarnya. Mengacaukan rencana yang sudah ditata rapi oleh Jongin.

“Permisi…”

Suara seorang perempuan yang berujar ragu memecah keheningan kafe. Dengan malas, Jongin bangkit dari duduknya dan mendelik kearah perempuan itu.

“Kami sudah—” Kening Jongin berkerut samar mendapati sesosok perempuan bersurai hitam gelap dengan sepasang mata beriris coklat teduh tengah menatapnya dengan bibir terkatup rapat.

Lantas berbagai kenangan masa lalu yang masih diingatnya dengan jelas kembali menguak ke benaknya. Kenangan manis yang masih sering singgah di tengah-tengah kesibukannya.

“Oh, Jongin-ah..”

Jongin tersenyum lebar mendengar suara yang sangat familiar baginya.

“Hai, Soojung…” Terselip rasa rindu di sudut hatinya tatkala matanya menangkap senyum Soojung yang mulai merekah di wajah tirusnya. Dengan segera Jongin melangkah mendekati Soojung. Dan sejurus kemudian, Jongin mendapati dirinya tengah mendekap tubuh Soojung dengan eratnya.

“Aku merindukanmu.”

***

“Itu permenku!” seru seorang gadis yang berusia lima tahun kepada Jongin yang tengah berlari menghindarinya.
Jongin hanya terkekeh pelan melihat raut wajah sang gadis yang merajuk. “Tangkap aku, bwekk.” Lidahnya menjulur keluar tanda siap memulai perperangan dengan gadis itu.

Dengan kesal, gadis yang tak lain dan tak bukan bernama Soojung, berlari mengejar Jongin yang sudah jauh di depannya. Rambutnya yang dikuncir dua berayun-ayun mengikuti ritme langkah kakinya.

“Ayo kejar aku!” seru lelaki itu lagi tanpa mengurangi kecepatan larinya. Membuat sang gadis terengah-engah disela-sela larinya.

“Tunggu aku!”

“Tidak mau! Kau harus menangkapku dulu, bwekk.” Jongin kembali menjulurkan lidahnya kearah Soojung dan memamerkan senyum kemenangannya dengan bangga tatkala jarak antara ia dan Soojung terus terpaut jauh. Kedua mata Soojung yang beriris coklat teduh itu mulai berkaca-kaca, menandakan tangis yang hendak meledak dalam kurun waktu beberapa detik ke depan.

Dan benar saja, tak lama kemudian tangis Soojung pecah. Dengan manjanya gadis itu menangis meraung-raung menuntut permennya yang dicuri Jongin.

Jongin lantas tercekat dan memutar arah. Merasa harus bertanggung jawab, lelaki itu berlari menghampiri Soojung yang jatuh terduduk diatas tanah berumput. Tapi sial, memang. Detik berikutnya, Jongin mendapati dirinya terjembab jatuh keatas tanah. Keduanya terdiam selama beberapa detik, dan sejurus kemudian tangis Soojung berganti dengan tawa riang. Bertolak belakang dengan Jongin yang meringis kesakitan tatkala lututnya tergores.

“Haha, kau lucu sekali!” seru Soojung dengan sisa-sisa air mata yang tercetak di kedua pipinya.

Tanpa diduganya, Jongin malah menyentakan tubuhnya dan melempar permen Soojung ke pangkuan gadis itu dengan kasar. “Itu, permenmu!!” serunya kesal lalu berlalu meninggalkan Soojung yang terheran-heran.

“E-eh? Jongin-ah, kau kenapa?” tanya Soojung dengan suara bergetar takut.

Percuma, Jongin diam mengacuhkan Soojung yang terus meneriakkan namanya. Sampai tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Entah apa yang terjadi, tapi Jongin merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. Suara lembut milik seorang gadis yang bergetar pelan terasa menggema di telinganya.

“Jangan tinggalkan aku, Jongin-ah. Aku takut.”

Dan saat itu, di bawah sinar mentari senja yang memancar lembut, Soojung dan Jongin mulai merajut kisah-kisah persahabatan mereka yang penuh warna.

***

“Bukankah itu indah?” tanya Jongin usai mengenang pertemuan pertama mereka. Yang ditanya hanya terkekeh pelan lalu meraih cangkir tehnya yang sudah dingin.

“Tentu saja tidak. Memulai persahabatanmu itu adalah kesalahan besar dalam hidupku,” canda Soojung yang disusul tawa renyah dari keduanya.

Jongin ikut meraih cangkir tehnya dan menghabiskannya dengan beberapa tegukkan. Matanya beralih menatap keluar jendela. Sinar-sinar lampu kota menerangi gelapnya malam kota Seoul. “Aku ingin mengulang masa-masa itu..”

Alis Soojung terangkat heran. Perlahan tangannya meletakkan cangkir tehnya dan beralih menatap Jongin yang masih menerawang masa lalu. “Memang kenapa?”

Keheningan mengambil alih.

Jongin mengatup bibirnya rapat-rapat. Enggan menjawab pertanyaan Soojung yang masih mengiang di telinganya. Seulas senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan mengendur. Sambil melirik Soojung dari ekor matanya, Jongin berujar dengan rendah. “Entahlah, Soojung. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati.. bolehkah aku memilikinya?”

Kening Soojung berkerut samar. “Apa maksudmu? Seorang Jongin sedang jatuh cinta?” tanyanya disertai kekehan kecil.

“Entahlah.” Jawaban singkat yang meluncur dari bibir Jongin. Kendati hanya satu kata yang terlontar, tapi mampu membuat Soojung terdiam.

“Benarkah?” tanya Soojung sesantai mungkin. Tangannya yang tengah menggenggam secangkir teh nampak bergetar pelan. “Jadi.. kau sudah menemukan belahan jiwamu?”

Bodoh, seru Jongin dalam hatinya. “Belum, belum Soojung. Aku masih mencari belahan jiwaku.” Ia terdiam sesaat lalu beralih menatap Soojung yang menghindari tatapannya. “Bagaimana denganmu?”

Tatapan dari kedua iris mata Jongin yang menyorot tajam kearah manik matanya membuat jantung Soojung berdetak tak keruan. Ia merasakan tubuhnya terkunci oleh sorot mata Jongin, membuatnya tidak mampu bergerak banyak. Hendak bicara pun terasa kelu sebab rangkaian kalimat di benaknya buyar begitu saja. Meninggalkan Soojung dalam kebisuan yang menciptakan suasana canggung.
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk—”

“Tidak. Tidak. Berikan aku kesempatan untuk berpikir ulang…” Genggamannya pada secangkir teh kian mengerat, berusaha melenyapkan perasa aneh yang menyergapnya.

Selama beberapa menit, Jongin memberi kesempatan pada Soojung untuk merangkai kalimat yang hendak dilontarkannya. Entah, lelaki itu tidak tahu apa yang akan diujarkan Soojung padanya. Yang jelas hatinya terasa kacau dan jantungnya berdetak dengan tidak normal.

Dan sejurus kemudian, serentetan kata meluncur cepat dari bibir Soojung. Dengan telak, perempuan itu bagai meledakkan bom atom di depan wajah Jongin yang tengah menatapnya lurus-lurus.

“Aku.. sudah menikah.”

***

Hening.

Keduanya membiarkan keheningan mengambil alih suasana.

Jongin mengatup bibirnya rapat-rapat, takut melontarkan kalimat yang hendak ia sesali nanti. Dadanya terasa sesak, menghimpitnya dengan telak diantara kepiluan yang menerjang.

“Oh.”

Suaranya terdengar bergetar. Terlihat tidak tulus dan datar. Apakah ini reaksi yang tepat diberikan ketika sahabatnya menikah? Tidak. Dan Jongin tahu itu, tentu. Tapi kini, hanya itu yang bisa ia lakukan ketika Soojung mengatakan bahwa dirinya telah menikah.

Mungkin ia sudah gila.

“Maaf Jongin aku—”

“Tidak,” sela Jongin cepat. Tidak mau menambah luka yang baru saja digores perempuan itu dalam-dalam. “Aku.. turut bersuka cita.”

Dusta.

Apa yang baru saja ia katakan itu adalah dusta. Kebohongan. Tapi alih-alih berkata jujur, bukankah saat ini saat yang tepat untuk berbohong? Sinting namanya kalau Jongin berkata jujur. Sebab, haruskah ia berkata ‘kenapa? Aku sudah menantimu tapi kau malah menikah dengan orang lain?!’ atau ‘tidak seharusnya kau menikah dengan orang lain! Aku orang yang tepat.’

Tidak mungkin ‘kan? Bagaimanapun juga, Jongin masih memiliki akal sehat.

“Aku minta maaf, Jongin.”

Dalam hati Jongin mendecih. Memang apa yang harus aku maafkan? Semuanya sudah terjadi ‘kan? Tapi tidak mungkin juga ia berkata seperti itu.

“Tidak apa-apa, kok. Tidak masalah bagiku.”

Ia terdengar seperti orang idiot. Bagaimana mungkin ia berkata kalau ini tidak masalah baginya sedangkan dalam hati ia tengah menangis sejadi-jadinya? Oke. Ini juga salah satu bukti kalau Jongin masih memiliki akal sehat. Ia enggan menghancurkan persahabatannya dengan Soojung hanya karena penuturan terus terang akan keberatannya pada pernikahan Soojung.

“Benarkah?” tanya Soojung tidak percaya.

Jongin mengangguk singkat. “Tentu saja. Kau ‘kan sahabatku.”

Ya. Kau sahabatku. Hanya sahabatku.

“Terimakasih..” Seulas senyum lega menghiasi wajah Soojung yang berseri-seri. Bertolak belakang dengan Jongin yang hanya tersenyum kecut.

“Kupikir kau akan marah ketika aku tidak mengundangmu,” lanjut Soojung, “pernikahanku diadakan di Jepang, karena itu aku tidak bisa mengundangmu, maaf.”

Jongin mengangguk kecil dan kembali tersenyum miris. “Tidak apa-apa..”

Soojung menghela napas panjang seraya tersenyum lebar. “Sekarang hatiku tenang!!” serunya sambil merentangkan tangan dan merenggangkan tubuhnya. Perubahan ekspresi Soojung yang mendadak kian menambah rasa sakit di lubuk hati Jongin.

Inikah akhir dari rajutan kisah kita?

Jongin terhenyak begitu suara ponsel Soojung berdering nyaring memecah keheningan. Dengan segera, Soojung merogoh tasnya dan menatap sekilas layar ponselnya.

“Ehm, aku sudah harus pergi, Jongin-ah,” ujarnya tanpa melepas senyum. “Aku duluan, ya!”

Dengan riang Soojung bangkit dari duduknya. Meraih tasnya dan menoleh kearah Jongin yang sama sekali belum memberikan reaksi. Perlahan ia melambaikan tangannya. “Sampai jumpa!”

Tanpa menunggu lebih lanjut, Soojung segera berjalan menuju pintu. Tangannya terangkat hendak memutar kenop pintu tatkala suara Jongin menghentikkannya.

“Jaga dirimu baik-baik, Soojungie.”

Soojung menolehkan kepalanya dan tersenyum riang. “Tentu saja!”

“Dan mulai detik ini…, janganlah kita bertemu lagi.” Jongin menatap lurus kearah Soojung seraya mengulas senyum miris. Memperhatikan perempuan itu yang terdiam membeku dengan bibir terkatup rapat sebelum akhirnya membuka mulut. Tapi tidak ada satu pun kata yang meluncur dari bibirnya.

“Sampai jumpa, Jung Soojung….”

Jongin bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Tersenyum kecil sebelum akhirnya membuang pandang dari wajah Soojung yang serasa menusuk hatinya.

Sejurus kemudian, ia merasakan daun pintu terbuka. Soojung melangkahkan kakinya keluar kafe dengan seulas senyum yang sulit diartikan, disusul dengan pintu yang menutup perlahan di belakangnya.

Kakinya menapak diatas tanah. Tapi entah dimana jiwanya.

Jongin menatap kosong kearah daun pintu yang sudah tertutup sepenuhnya, tempat dimana ia terakhir kali menatap punggung Soojung—orang yang ia cintai. Membiarkan dirinya hanyut dalam kepiluan yang meraja di hatinya.

Ini salahnya yang sudah jatuh cinta kepada seorang sahabat.

Dan inilah resiko yang harus ditanggungnya.

Sama seperti teh yang mengisi ruang kosong dalam sebuah cangkir. Ibaratkan cinta, rasa yang dikandung berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang manis. Ada juga yang pahit. Tergantung larutan yang terkandung didalamnya.

Begitu pun ia dan Soojung.

Cintanya terasa pahit.

Sebab dirinya dan Soojung tidaklah ditakdirkan untuk bersama.

.

.

.

.

.

Langit malam bertabur bintang dan cahaya rembulan menaungi dirinya. Terlihat sesosok perempuan berjalan gontai menyusuri jalan kota. Cahaya lampu jalan yang menerangi langkahnya nampak meremang, beriringan dengan pandangannya yang kian memburam tatkala kristal bening yang terus meluap membasahi pipinya.

Isak tangis dari bibir perempuan itu menggema. Memecah keheningan yang tercipta diantara embusan angin malam.

Soojung—si perempuan yang terkenal kuat—kini menangis pilu bersama kenyataan yang harus ia terima dengan lapang dada. Sebuah fakta yang bersembunyi di balik hiruk pihuk hidupnya, tidaklah akan bersembunyi sepanjang waktu. Ada saat-saat tertentu ketika fakta itu terkuak—dan menyebabkan luka.

Dan ketika fakta itu terkuak, hidupnya tak lagi sama. Jika dulu ia masih bisa menyaksikan bagaimana tawa renyah lelaki itu menggema di telinganya, maka kini tak lagi.

Langkahnya terhenti seraya merasakan ponsel digenggamannya bergetar pelan, menandakan adanya pesan masuk.
Perlahan tapi pasti, Soojung mengangat wajahnya yang sembab. Melirik layar ponselnya yang menampilkan sederet kalimat. Ya, sederet kalimat yang hanya akan menambah lukanya.

From : Oh Sehun
Soojung, kau sedang dimana? Aku sudah tiba di rumah kita.

.

.

.
END

[A/N] : Annyeong^^ Aku author baru di sini 🙂 Mohon kerjasamanya yaa, komentar kalian sangat dibutuhkan loh 😀

Advertisements