my coffee

 

Tittle                   : My Coffee

Author                : Lee Hana

Main cast            : Lee Tae Min and Joo Young In

Support Cast       : Choi Min Ho

Genre                 : Romance

Length                : Ficlet

Rating                 : G

Inspired              : Filosofi Kopi By Dee

WordPress          : http://www.hanabaca.wordpress.com

Anyeong! Lee Hana imnida! Aku author baru di sini dan ini ff pertama yang aku kirim di wordpress ini. Jadi jangan Down ya? Kebetulan aku tuh aslinya bukan orang yang romance gtu, lebih ke thriller, horror, gore, mistery dan action. Tapi belakangan ini mutnya selalu menuju ke romance. Ya, jadi dinikmati aja. Oke?

▒▒▒▒▒

Seorang gadis dengan wajah teduh tengah menyeruput menikmati kopi yang dipesannya. Dari mata indah yang terhalangi lensa tebal berbingkai besar, kulihat manik matanya mengarah. Sesekali juga kulihat dia menyeret senyum kecil ke sudut bibir. Dia—gadis kuncir dua dengan rambut yang terkulai lemas pada kedua sisi pundaknya—selalu tampak tenang di tempatnya.

Suatu kali aku melihat dia bertingkah agak lain dari biasanya. Alih-alih ingin mengobrol, dipanggilnya sang barista ketika tengah berjalan melaluinya. Setelahnya, tak lama, suara bel berdenting merdu. Tanda sesuatu telah siap di meja marmer panjang itu. Kuperhatikan sesaat. Cappucino? Gambar yang paling awam dan paling familier tampak di atas buih putih cokelatnya. Ukiran hati.

_________

Sudah hampir setengah jam sesapan terakhir kopinya ia habiskan, menyisakan ampas pekat dan menggumpal pada dasar keramik putih cekung yang terus saja ia tatapi tanpa kejengahan. Tapi aneh bin ajaib, ia tak segera bangkit dari kursi—yang sudah ia tempati sejak sejam yang lalu—bahkan untuk sedikit menggeser posisi. Tangannya yang mengepal diletakkannya di atas rok selutut yang mengibas ketika ia berjalan. Rautnya terlihat berantakan, seperti orang yang akan menghadapi ujian kelulusan.

Aku hampiri dia. Memberikan secercah senyum cerah. Berharap dengan hal kecil itu rautnya bisa berubah sedikit lebih baik. Tapi, akhir yang tak disangka, bukannya membalas senyum  ia malah mengambil sebuah amplop berwarna merah muda dari dalam tas kecilnya. Aku terperanjat. Apalagi ketika dia menyodorkannya padaku. Ia terlihat begitu malu-malu. Lebih malu-malu daripada biasanya.

Sayangnya …, hari itu adalah hari di mana dia tak muncul kembali di tempat ini. Kedai kopi kecil di pinggiran jalan. Entah karena apa.

_________

Satu musim berganti. Suhu udara memanjat naik, sedangkan suhu kopi-kopi kami beringsut turun. Dari kepulan asap hangat berubah menjadi bongkahan es batu. Hingga saat ini, meja yang sering didudukinya—paling dekat dengan bar—harus ganti pemilik.

Suatu waktu aku berjalan menyusuri taman yang dipenuhi pohon sakura pada jalan setapak. Warna langit didominasi warna merah muda, karena daun-daun indah itu menutupi warna biru cerahnya. Mereka serakah dan menyisakan lubang kecil. Celah untuk cermin samudra.

Melangkah pelan dengan tangan yang kumasukkan dalam coat. Kerling kekaguman dibubuhi senyuman kecil, hingga tertangkapnya sesuatu menghentikan semuanya dalam sekejap mata. Seorang gadis tengah membaca buku tebal pada kursi panjang di bawah pohon sakura. Tepat di tepi jalan.

“Di sini kau rupanya. Kenapa tak kembali berkunjung ke kedai kecil kami?”

Suaraku menghentikan aktifitasnya. Beralih dari buku, kini matanya menatap diriku yang berada tepat di hadapannya. Dari merunduk lama hingga harus mendongak kepala. Aku menunjukkan senyum mengembang pada sudut bibirku.

“Boleh duduk?” tanyaku yang merasa agak diacuhkan, karena nyatanya dia hanya diam.

Dia mengangguk, dan aku mengambil tempat yang satu-satunya tersisa. Berada tepat di sampingnya membuat degupku berlari tak teratur. Aku sedikit mengatur napas hingga kusiap beradu pandang dengannya, dengan jarak dekat. Bukan seorang pelayan dengan tamu. Jadi, setidaknya aku tak perlu bicara formal dengannya, dan terdengar lebih akrab.

“Bagaimana kabarmu? Kau terlihat baik di musim ini. Harusnya kau mencoba es kopi buatan Min Ho Hyung.  Itu sangat menyegarkan.”

Dia tersenyum, menggeleng lemah dan berakhir menunduk.

“Kenapa? Bosan dengan kopi kami?”

“Tidak. Kopi kalian sangat enak. Hanya saja …, Cappucino,” jawabnya semakin lemas.

Aku mulai berpikir sesaat lalu mulai berbicara dan memandangnya, “Kau …, apa kau tahu kopi paling mahal di dunia?”

Dia menghentikan aksi menunduknya dan balas menatapku. “Aku tidak tahu.”

“Kopi Luwak.”

“Apa? Kopi Luwak? Namanya agak tidak biasa.”

“Kau tahu apa itu luwak? Itu nama sejenis musang yang begitu gemar memakan buah kopi. Kopi itu berasal dari Indonesia, bukan sebuah negara yang maju. Kopi itu juga, kau tahu luwak tadi? berasal dari pencernaannya. Karena itulah disebut Kopi Luwak. Harganya bisa mencapai lima puluh dolar secangkir! Kau tahu, kan’ berapa kocek yang harus kau rogoh jika harus menukarnya dengan won? Dan betapa berbedanya ia dengan Cappucino?” ucapku semangat.

“Ma …, maksudmu ko …, kotoran hewan? Kotoran hewan bisa semahal itu!” tanyanya jijik bercampur takjub. Kini ekspresinya mulai berubah, terlihat lebih bersemangat.

Aku mengangguk mantap. “Ya, terdengar menjijikkan. Tapi luwak memiliki indera penciuman yang peka dan hanya akan memilih buah kopi yang benar-benar matang optimal untuk menjadi makanannya. Selain itu, terjadi fermentasi secara alamiah di dalam pencernaannya yang menjadikannya biji kopi terbaik. Dari penampilan juga tak ada yang istimewa, sangat berbeda dengan Cappucino. Tapi jika kau tahu keharuman dan rasanya—kau akan mengatakan itu adalah kopi terbaik di dunia. Sama sepertimu, mungkin kau orang biasa atau bahkan jika lebih parah dari itu. Asal dan penampilan bukanlah yang terpenting, tetapi apa yang berada di dalamnya. Yang penting yang ada di sini.” Aku memegang dadaku dan tersenyum padanya.

Dia tersenyum lembut kepadaku. “Kau sangat mengerti kopi.”

“Ngomong-ngomong, maaf, aku tak bawa surat balasannya.”

“Tak perlu. Orang itu mengatakan aku bukanlah Cappucino, dan ukiran hati itu tak bermakna.”

“Kau menemuinya?”

Dia menggeleng. “Dia mendatangiku beberapa bulan yang lalu.”

Jadi karena itukah dia tak pernah datang lagi?

“Tae Min-ssi, jeongmal gomaweo.”

“Cheonmaneyo,” jawabku mantap.

“Boleh tahu …, kopi apa yang paling kau suka?” Pertanyaan yang sama terlontar untuk kedua kali setelah hidangan Cappucino pertama dan terakhir yang diberikan Minho Hyung untuknya, juga ekspresi yang sama.

Aku tertegun. Cukup terkejut dengan pertanyaan ala Young In. Tapi segera menjawab, “Kopi Luwak. Aku mencintai kopi—juga karena kopi itu. Kopi yang aku dapat sebagai oleh-oleh dari saudaraku dari Indonesia beberapa tahun lalu. Dan kau tahu, kopi istimewa itu tak diperjualbelikan secara bebas di negara kita? Entah kapan lagi aku bisa mencium aromanya yang harum dan menyesapnya lagi. Dan ketika aku mengetahui harganya, aku merasa menenggak emas!” Berujung canda. Tentu untuk menutupi rasa gugupku.

Dia terdiam sebentar lalu bicara dengan begitu tenang dalam tautan mata kami. “Tidakkah selama ini sang kopi terlalu bodoh hanya memandang siapa yang meramunya tanpa melihat siapa menghidangkannya?”

Untuk kata-kata semacam ini …. Ah, aku tidak tahu. Mungkin di dadaku sedang ada perayaan kembang api.

The End

Gimana? Ngerti nggak? Klo nggak ngerti bilang aja, ya! Trus klo ada typo, eyd, atau kata-kata ambigu please kritik dan sarannya! Itu sangat membantu author untuk jadi lebih baik lagi. And klo mau baca-baca ff author yang lain main-main aja ke blog author. Thx!!

Advertisements