eternity

Title:  Love, Soul, and Eternity

Main cast:  Selina Shin(OC) , Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Hanna Park(OC)

Rate: G
Length: Continue

Hai Istri Donghae balik bawa FF yang entah membosankan atau tidak.. Akhirnya bisa update cepet T^T tpi sepertinya lama juga T^T huaa.. sebenernya Planning update itu malem takbiran, biar sekalian maap-maapan, tapi melenceng sangat dengan planning awal /terjun/

Saya juga minta maaf jikalau (tsaah bahasanya) chapter ini terlalu lambat alurnya atau malah kecepetan? entahlah, saya lagi random /sungkem sama GOFficiders/

Yaudah langsung aja di baca, monggo.

ENJOY!

****Soul 2****

“Appa!! Eomma!! Hanna pulang!” Hanna kecil berlari memasuki puri keluarganya. Bangsawan Park. Gadis kecil itu menggenggam sebuah botol kecil transparant, berisikan sedikit jiwa dari tempat penyimpanan di sekolahnya. Gadis itu tersenyum kecil mengingat bagaimana dia mendapat nilai sempurna dalam memisahkan jiwa-jiwa itu menjadi bagian-bagian kecil.

Tapi, langkahnya semakin lama semakin melambat. Ada sesuatu yang terasa ganjal dalam purinya. Hanna baru merasakan suasana purinya terlalu sepi dan terasa mencekam. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri. Seharusnya di pintu gerbang tadi ada seorang maid yang menyambut kepulangannya. Dan seharusnya juga di sini, di tempat Hanna berdiri, di  depan pintu kamar pribadi orang tuanya terdapat satu maid dan dua pengawal yang berjaga. Tapi, kenyataannya mereka semua tidak ada satupun.

“Eomma?? Appa??” panggil Hanna pelan sembari berjalan meraih handle pintu berukuran besar. Entah kenapa rasa takut mulai menyergapnya. Dan saat pintu itu terbuka sedikit, semua berubah menjadi merah. Merah pekat mendominasi penglihatannya. Pintu itu, dinding purinya, semuanya berlumuran darah. Hanna kecil itu menegang ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.

“Appa! Eomma!!”

Sraat’

Hanna terbangun dalam bunga tidurnya. Matanya menatap nyalang dan waspada. Keringat mengucur pada dahi dan lehernya. Napasnya tersengal-sengal, seperti ia berlari mengelilingi midletuc. Lambat laun, pandangannya berubah sendu. Nafasnya mulai teratur. Ia mendudukkan dirinya di atas ranjangnya dan bersender pada kepala ranjang.  Sesekali matanya memejam, kemudian terbuka lagi.

“Mimpi buruk lagi?” gumamnya pada diri sendiri. Tangannya tergerak menghapus peluh yang membanjiri leher dan dahinya. Jam menunjukkan pukul 4 dini hari. Beberapa jam lagi, ia dan Kyuhyun akan pergi menuju kediaman keluarga Kim yang terletak jauh dari kota. Tanpa sadar tangannya meremas ujung selimut yang ia gunakan.

Bayangan-bayangan itu selalu menghantui hidupnya. Menghantui setiap langkahnya kemanapun dia pergi. Luka itu tak mau hilang dan tak sepenuhnya sembuh. Apakah ia harus mendatangi sesuatu yang dihindarinya?

“Jika kau memang tidak manja, dan tidak hanya memanfaatkan belas kasihan Appa dan Eomma. Kau harus ikut menghadiri pesta itu.”

Kata-kata Kyuhyun kembali melintas di benaknya. Geraman kecil lolos dari mulut mungil Hanna. Ia tidak punya pilihan lain. Bukankah dia sudah membuang kalimat “gadis lemah” dalam hidupnya? Bukankah sejak hari itu ia memutuskan untuk berubah?

***

Dengkuran halus terdengar di seisi ruangan itu. Ruangan yang bisa di identifikasikan sebagai kamar tidur itu terlihat gelap. Cahaya matahari yang berusaha masuk ke dalam kamar terhalang. Terhalang oleh selembar kain gorden yang menutupi jendela besar kamar tersebut. Selimut yang seharusnya bertugas menutupi tubuh seseorang, kini sudah tergeletak manis di lantai. Bisa dibayangkan betapa brutalnya sesosok yang tidur dengan damai dalam kamar tersebut.

Cklek.

Pintu kamar tersebut terbuka perlahan. Dan akhirnya menampakan sesosok yeoja dengan ekspresi datarnya. Matanya berputar malas, melihat sang sepupu masih tertidur pulas ketika matahari sudah hampir mencapai puncak atas.

“Bangun Hae.” Suara yang terdengar dingin itu mengisi kamar berpemilikan Donghae.

Tak ada respon yang berarti dari pemilik kamar. Selina menatap jengah sepupu berwajah tampannya itu. Ia kembali merutuki ibunya yang menyuruhnya untuk membangunkan Donghae.

“Ada yang ingin kukatakan pada kalian berdua.” Ucap Tiffany santai saat Selina hendak melayangkan sebuah protes. Selina kembali bergerutu pelan. Waktunya tersita percuma untuk membangunkan Donghae yang menurutnya sangat menjengkelkan ketika tidur.

Selina melangkahkan kakinya untuk memasuki lebih dalam kamar pribadi Donghae. Menghindari beberapa konsol game yang berserakan di lantai. Selina meraih selimut yang teronggok manis di lantai, lalu melipatnya dengan rapih kembali.

“LEE DONGHAE!” satu teriakan tajam nan dingin menusuk pendengaran Donghae yang disusul dengan sebuah bekapan sayang di pernafasannya. Seketika Donghae terlonjak bangun dan meronta kecil ketika oksigen tidak dapat ia raih.

Selina melepaskan bekapan selimut pada Donghae, dan kembali menyimpan selimut itu di ujung ranjang. Donghae secepata mungkin menghirup nafas sebanyak-banyaknya sembari menatap Selina horror. Dia akan membunuh Donghae atau membangunkannya, dengan cara yang tak masuk akal seperti itu.

“Apa?” Ucap Selina merasa di tatap sengit oleh Donghae. Tanpa rasa bersalah Selina mendudukkan dirinya di ujung ranjang Donghae.

“Kau mau membunuhku, eoh?!”

“Kalau aku bisa, aku dengan senang hati membunuhmu, Lee Donghae.”

Donghae mendelik tak suka. Sebenarnya ia dianggap apa oleh Selina. Dasar makhluk berhati dingin, gumam Donghae.

“Cepatlah mandi. Mom ingin berbicara pada kita. Jangan membuat waktuku terbuang percuma dengan menunggumu mematut kaca di cermin.” Ujar Selina lagi datar, kemudian beranjak menuju ambang pintu. Detik berikutnya pintu itu tertutup dengan bunyi yang keras.

“Yak! Kau tak sopan padaku Selina Shin!” Teriak Donghae menggelegar, membuat wanita itu memutar bola matanya malas.

“Cepat mandi, bodoh!” balas Selina tak kalah kencang dengan teriakan Donghae.

“Dimana sepupumu?” Tanya Tiffany setelah melihat Selina turun, menuruni tangga. Selina mengangkat bahunya malas. Tak berniat untuk menjawab perkataan sang Eomma.

“Tsk, dasar. Kau benar-benar mengikuti watak ayahmu.” Tangannya kembali membolak-balik buku berjudul ‘sejarah midletuc’ dengan anggun. Tiffany mengenali watak anaknya yang tak berbeda dengan watak suaminya. Mengingat suaminya yang sekarang sedang bertugas di pemerintahan, membuatnya sedikit rindu pada sosok tegap dan gagah itu.

“Mom, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Selina penasaran.

“Tunggu setelah Donghae datang.”

“Apa penting sekali?”

“Ya, lumayan.” Selina memandang ibunya jengah. Pasalnya ibunya sibuk dengan buku yang menurut Selina konyol. Akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya guna menenangkan hatinya, yang terasa tak nyaman.

Suasana hening itu menyelimuti ruang tengah puri tersebut. Hingga beberapa menit setelah itu, terdengar suara sengau milik Donghae yang memecahkan kesunyian antara ibu dan anak tersebut.

“Pagi, bibi.” Dengan senyuman yang sudah bertengger manis di wajahnya, Donghae mencium pipi Tiffany. Tiffany tersenyum anggun, mendapati Donghae sudah datang.

“Pagi, Hae.” Balas Tiffany sembari mengerlingkan matanya. Donghae balas mengerlingkan matanya. Kemudian dia menempatkan tubuhnya di kursi samping Selina. Sosok tampan itu mendorong tubuh Selina agar memberi ruang untuknya, yang di balas gerutuan kecil.

“Lambat.” Gumam Selina kesal. Donghae mendelik tajam, seakan menyampaikan pesan ‘awas kau nanti Selina Shin.’

“Baiklah.” Tiffany menutup buku yang sedari tadi dibacanya. “Karena Donghae sudah datang. Eomma minta kalian menghadiri pesta yang di selenggarakan oleh bangsawan Kim.”

“ba-bangsawan Kim?” tanya Donghae tergagap. Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya pada sosok wanita di sebelahnya. Selina. Was-was jika Selina akan menolak permintaan sang Eomma. Donghae tau betul bagaimana Selina membenci keluarga bangsawan Kim.

“Ya, bangsawan Kim. Kenapa? Kalian keberatan?” Donghae segera mengalihkan pandangannya pada Tiffany kembali.

“Euhm, Bibi biar aku saja yang—“

“Tidak. Tidak  ada yang keberatan. Kami akan berangkat secepatnya.” Potong Selina cepat lalu beranjak meninggalkan ruang keluarga puri itu. Donghae tertegun mendengar ucapan Selina. Benarkah Selina yang mengucapkan perkataan itu?

“Nah, Donghae. Mulai lah berkemas.” Donghae menatap Tiffany ling-lung, yang akhirnya di balas anggukan mengerti.

***

“Kau,,  apa yang sedang kau pikirkan sekarang?” Sudah sejak 15 menit yang lalu Selina dan Donghae berangkat menuju kediaman keluarga bangsawan Kim. Mereka benar-benar memilih berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Keheningan menyelimuti mereka, hingga Donghae mulai menyuarakan pikirannya dengan ragu.

Selina menatap kosong ke depan, tanpa ekspresi apapun. Dia mengendikan bahunya perlahan. Donghae menghela napas lemah. Sulit membaca apa yang di pikirkan Selina. Wanita itu benar-benar menutup dirinya serapat mungkin, pada siapapun termasuk Lee Donghae—Sepupunya.

“Jika kau keberatan, tidak usah memaksakan diri.” Lanjut Donghae lagi. Dia sungguh khawatir pada sepupu berdarah dinginnya ini, mengingat apa yang telah terjadi pada Selina beberapa tahun silam.

“Jadi, kau ingin aku terlihat lemah di depan orang itu?” tiba-tiba Selina bersahut dan menghentikan laju kudanya. Mau tak mau Donghae mengikuti pergerakan Selina. Ia menghentikan kudanya di samping kuda Selina. Matanya mengernyit heran.

“Kau ingin orang itu tertawa terus menerus, memandang remeh padaku yang terlihat lemah?” Nada wanita itu meninggi sedikit dan menatap tajam lawan pandangnya.

“Bukan begitu, Sel—“

“Lalu? Lalu apa, huh!? Aku tahu apa yang harus aku lakukan Lee Donghae. Jangan khawatirkan aku. Bahkan aku lebih kuat darimu. Ingat itu, Hae.”

“Apa?” Tanya Donghae tak terima. Namun, rentetan protes itu teredam kembali ketika Donghae melihat kilat putus asa pada mata Selina. Sekilas. Ya hanya sekilas lalu berganti dengan kilat amarah sepenuhnya. “Ya, setidaknya, jika kau merasa kesulitan berbicaralah padaku, adik kecil.”

Selina mendengus kesal mendapat kekehan kecil dari Donghae setelah melontarkan kata ‘adik kecil’. Donghae melajukan kembali kudanya dengan cepat, membuat Selina tersentak kaget.

“Ya! Selina Shin! Mari kita bertaruh, siapa yang terakhir sampai, harus mengabulkan permintaan sang pemenang!” teriak Donghae lantang. Selina menyeringai senang. Dia mengambil ancang-ancang, dan kuda itu berpacu cepat.

“Deal!” gumam Selina sembari menyeringai. Ini lah mengapa mereka lebih memilih menempuh perjalanan dengan memakai kuda. Tidak memakai kendaraan beroda atau  yang lainnya. Bertaruh dan menghadang tantangan pada jalur perjalanan seperti ini merupakan kesenangan mereka tersendiri.

***

“Jaga Hanna baik-baik, Kyu.” Suara berat dan tegas memenuhi indra pendengaran Kyuhyun. Pria berwajah stoic itu menghentikan lengannya yang terlihat sedang merapikan isi koper. Kyuhyun menoleh, dan mendapati Ayahnya di ambang pintu. Pria paruh baya itu mendekat pada Kyuhyun lalu terduduk di ranjang milik anaknya.

Kyuhyun yang hanya diam tak menanggapi, kembali berkutat pada kegiatan awalnya. Ia memasukkan beberapa helai baju dari dalam lemari baju. Sang Ayah hanya memperhatikan anaknya dengan pandangan teduh.

“Kyu? Kau mendengarkan Appa?” Kyuhyun kembali menghentikan kegiatannya dan menganguk perlahan. Sang Appa tersenyum kecil, kemudian melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan pada anaknya.

“Dini hari tadi, beberapa maid mendengar suara pekikan dan teriakan yang cukup kencang dari kamar Hanna.” Cho Jino, sang Appa menghela napas pelan. Sedangkan Kyuhyun hanya terdiam. Ekspresinya sulit di baca. “Sepertinya, dia mengalami mimpi buruk lagi. Apa keputusan Appa untuk mengutus kalian berdua ke bangsawan Kim salah?” desah Cho jino sedih.

Kyuhyun mengepalkan tangannya erat. Kenapa? Kenapa tuan Cho mengeluarkan ekspresi bersalahnya hanya untuk Hanna? Tidak pada anaknya, Kyuhyun? Itu membuat dengki yang ada di hati Kyuhyun semakin terkumpul.

“Sudahlah Appa. Dia akan baik-baik saja. Aku.. akan menjaganya.” Jawab Kyuhyun dingin.

“Baguslah kalau begitu. Kau tahu bukan? Masa lalu Hanna terlalu kejam padanya. Kita harus menjaganya.” Ucap Cho Jino dengan menepuk bahu Kyuhyun pelan penuh bangga, kemudian berjalan keluar meninggalkan Kyuhyun sendiri. Kyuhyun meringis pelan.

Hanna.

Nama itu selalu menjadi perdebatan di hatinya. Kadang, dia selalu merasa Hanna adalah anak tak tahu diuntung yang hanya bisa berbuat seenaknya setelah di tolong. Dia merasa Hanna merebut tempatnya di hati kedua orang tuanya sejak Kyuhyun berumur 10 tahun. Dia membenci dimana kedua orang tuanya yang lebih memanjakan Hanna daripada dirinya. Tapi, Kyuhyun tahu. Dia tak bisa membenci Hanna. Kejadian yang menimpa Hanna di masa lalu  membuatnya iba.

Kyuhyun tiba-tiba teringat masa kecilnya dengan Hanna. Ia dan Hanna sering bermain bersama, bertengkar bersama, dan menangis bersama.Ya, Kyuhyun menyayangi Hanna. Menyayangi saudara kecilnya yang manis dulu. Menyayangi sosok masa kecil Hanna, bukan Hanna yang sekarang. Dia tersenyum miris. Bayangan Hanna di masa kecil benar-benar sudah musnah tak berbekas.

“Tsk, menyebalkan.” Kyuhyun mendengus kesal.

“Siapa yang menyebalkan?”

Kyuhyun mendelik mendengar suara wanita yang terdengar ketus. Hanna sudah terdiam sembari menyenderkan punggungnya di kusen pintu.

“Kau.” Ucap Kyuhyun singkat.

“Oh, benarkah?” tanya Hanna datar. Ia melangkahkan kakinya lebih masuk kedalam  kamar Kyuhyun. Kyuhyun membalas dengan hanya mengangkat bahunya. Malas menjawab pertanyaan menyebalkan Hanna.

“Tadi malam, kau bermimpi buruk lagi?”

“Hnn,” Hanna  bergumam pelan, tak benar-benar berniat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun menatap Hanna kemudian memutar bola matanya malas. Ia melanjutkan kegiatannya yang sudah terganggu terus menerus. Sedangkan wanita dengan rambut bergelombang itu merebahkan tubuhnya di ranjang Kyuhyun. Dia menerawang ke atas langit-langit kamar. Warna biru mendominasi kamar tersebut. Warna kesukaan Kyuhyun, Hanna tahu pasti itu.

“Hey, kau sudah selesai berkemas?” sahut Kyuhyun setelah menarik zipper kopernya. Pria tampan itu menepuk bagian atas kopernya beberapa kali. menunjukkan betapa puasnya dia telah menyelesaikan acara berkemas.

“Sudah ku suruh maid pribadiku menyiapkannya. Mungkin sudah selesai sekarang.” Kata Hanna datar. “Kapan kita akan pergi?”

“sudah tidak sabar rupanya?” Kyuhyun tersenyum remeh. Hanna menatap datar Kyuhyun dan mendesis sinis.

“Kudengar,  Medium Soultucral bernama Lee Donghae itu datang juga.” Kyuhyun melirik Hanna dari ujung matanya. Dia kembali menyeringai, melihat tubuh tegang Hanna. Gotcha! Tepat seperti dugaan Kyuhyun, Hanna memiliki sedikit rasa pada namja berambut bruenette itu.

“Lebih baik kita segera pergi.” Ucap Hanna cepat. “Kau! Cepatlah sedikit.” Bentak Hanna sembari berjalan keluar kamar Kyuhyun.

“Hey! Kenapa kau marah?” teriak Kyuhyun sembari terkekeh senang. “Sepertinya akan banyak hal menarik yang akan terjadi pada pesta bangsawan Kim.” Lanjutnya terkekeh lagi. Dia melangkahkan kakinnya sembari menyeret kopernya, menuju lantai satu puri milik ayahnya itu.

***

Derap kaki kuda terus terdengar dalam pendengaran Donghae dan Selina. Mereka benar-benar serius dengan tantangan yang di layangkan Donghae. Terus mengejar satu sama lain guna menjadi pemenang. Hari sudah muai gelap, tetapi mereka masih bersemangat berpacu. Selina menyeringai tipis melihat bayangan puri milik keluarga bangsawan Kim. Dia menghentakkan kekang tali kuda miliknya. Saat itu pula kudanya berpacu cepat, menyusul posisi Donghe. Donghae yang sepertinya lengah tersentak kaget melihat Selina menyusulnya.

“Ya! Ya! Kenapa kau sudah  berada di depanku??” teriak Donghae tak terima. Tak mau kalah ia  kembali memacu cepat kuda coklat miliknya, namun semuanya sia-sia ketika satu teriakan terdengar akan sarat kepuasan.

“Yeah! Aku menang Lee  Donghae!” teriak Selina penuh kebanggaan. Dia menghentikan laju kudanya sembari menyeringai bangga.

“Yah, kau menang Selina Shin.” Balas Donghae yang baru saja datang. Selina turun dari kudanya, kemudian tertawa remeh.

“Selamat datang.” Suara berat khas pria paruh baya membuat Donghae yang tengah turun dari kudanya menoleh, begitupula Selina yang tengah mengelus kepala kuda putih miliknya. Pria paruh baya dengan mata sipit dan mengenakan pakaian jas hitam itu tersenyum ramah. Di belakangnya, para maid-maid bangsawan Kim berdiri dengan sigap.

“Nama saya, Kim Yesung.”  Katanya dengan ramah. “Saya bertugas sebagai kepala pelayan di puri ini. Dan juga bertugas menyambut para tamu hormat.” Lanjutnya lagi.

Donghae mengangguk pelan, “ Terima kasih sambutannya. Saya Lee Donghae, dan wanita ini—“

“Ya, saya sudah tahu. Selina Shin dan Lee Donghae. Soultucral bersaudara yang sangat terkenal karena kekuatannya, dan tentu saja terkenal karena Nona Selina mempunyai darah murni Soultucral Expert.” Yesung tersenyum lebar membuat mata sipitnya semakin sipit. “Kalau begitu, silahkan masuk. Akan saya antar ke kamar kalian masing-masing.” Yesung mempersilahkan Selina dan Donghae masuk menuju puri mewah mililk bangsawan Kim. Sedangkan, para maid itu segera bergerak membawa barang-barang milik Donghae dan Selina, termasuk menyimpan kuda milik mereka berdua.

Donghae berjalan di samping Selina yang sedari tadi diam. Sedikit menyenggol lengan wanita di sampingnya, kemudia berbisik pelan.

“Hey, kau boleh meminta satu permintaan.” Selina melirik  sinis kemudian tersenyum sinis pula. Benar-benar khas seorang Selina.

“Simpan saja. Aku belum punya sesuatu yang kuinginkan. Tapi pasti kutagih.”

“tsk, dasar gadis menyebalkan.” Dengus Donghae malas. Tau begini ia tidak akan mengajukan tantangan untuk Selina. Alih-alih terus menggerutu, Donghae malah tersenyum kecil. Hey, setidaknya Selina tidak terlihat gugup atau tertekan setelah sampai di puri menyebalkan ini. Donghae ingat dia mengutuk pria itu, setelah melihat Selina terpuruk. Dan Donghae ingat betul bagaimana tatapan Selina yang memang terlihat kosong semakin kosong. Dia menggeram kesal mengingatnya. Apapun yang terjadi dia akan melindungi sosok sepupunya itu dengan cara apapun. Dia berjanji akan hal itu.

“Sel, kenapa kau berhenti?” Donghae mengernyit heran, melihat Selina yang tiba-tiba terhenti. Selina mendongak keatas. Di matanya tercampur banyak emosi. Donghae mengikuti arah pandangan Selina. Donghae tahu ada yang tak beres. Satu hal yang selalu ia khawatirkan.

“Hai, Selina. Senang bertemu denganmu lagi, sayang.” Sosok itu menyeringai senang diatas balkon. Auranya penuh dengan rasa kekuasaan yang tinggi.

Donghae mendecih. Hal yang di khawatirkannya datang lebih cepat dari perkiraannya.

ToBeContinue

R E V I E W, ne?? 🙂

Advertisements