miss.jpg

Author: Btari Deannisa

Genre: romance, friendship, school

Length: chapter

Cast: Bae Suzy (Miss A), Lee Jeongmin (Boyfriend), Lee Taemin (SHINee)

Other cast: Min Sunye (Wonder Girls) as Bae Sunye, Son Naeun (A Pink) as Lee Naeun and others

Rating: G

“Jeongmin-ah, kau makan malam disini saja, ne? Nuna akan membuatkan makanan yang banyak~” seru Sunye setelah berganti pakaian.

“Ah, anio Nuna, sepertinya aku pulang saja.” Tolak Jeongmin halus.

Suzy berlari cepat dari kamarnya. “Ya, gwenchanha! Kamu tinggal telpon ummamu kalau kau akan pulang terlambat. Telpon saja pakai telepon punya kami!”

Jeongmin meringis. “Ne, baiklah.”

Suzy dan eonninya tersenyum. Sunye pun berjalan ke dapur. Ia mulai memasak. Suzy mengajak Jeongmin menonton TV. Jeongmin hanya mengikutinya. Ia lupa. Setelah ijin Suzy, Jeongmin menelpon rumahnya. Ia minta ijin akan pulang terlambat. Jeongmin sudah berharap agar ummanya menyuruhnya segera pulang. Ternyata tidak, ummanya langsung memperbolehkan ia pulang malam.

“Gimana? Boleh, kan?” tanya Suzy dari ruang keluarga. Jeongmin mengangguk.

Jeongmin pun berjalan menuju ruang keluarga. Lalu duduk di sebelah Suzy.”Tidak apa-apakah? Eung, maaf, ummamu belum pulang?”

Suzy menggeleng sambil memakan cemilan. “Dia mungkin tidak akan pulang.”

“Ah, ne.”

Keduanya terdiam. Tidak ada yang mau bicara, Suzy menyibukkan diri menonton TV. Sedangkan Jeongmin memikirkan apa yang harus ia lakukan ketika Umma Suzy pulang nanti.

“Yaaa!!!! Suzy! Jeongmin! Makanan siaappp!!” seru Sunye dari dapur membuat Jeongmin dan Suzy hampir tersungkur. Mereka pun berdiri bersamaan, lalu berjalan beriringan menuju ruang makan. Di meja itu terdapat lebih dari 3 jenis makanan.

“Woaahh…. Ya, Eonni! Ini lezatkah?” tanya Suzy melihat satu-persatu masakan eonninya.

“Geurae!” seru Sunye lagi. Senyumnya mengembang.

Jeongmin melirik Suzy, memastikan apakah gadis itu sudah kembali normal atau masih terpikirkan kejadian tadi siang. Tapi raut wajah Suzy benar-benar tidak bisa ditebak. Wajahnya sekarang sangat ceria. Tapi entah kenapa, Jeongmin melihat ada yang janggal. Matanya. Mata Suzy… Terlihat lemah. Tapi senyumnya bisa membohongi banyak orang.

“Ya, Jeongmin-ah! Jangan melamun!” Suzy menyadarkan Jeongmin dengan menepuk pundaknya.

“Ah, ne. Hehe. Nuna masak apa saja?” tanya Jeongmin antusias.

“Tentu banyak! Masa iya aku harus menjelaskan satu-satu? Sudah, cicipi saja! Pasti enak~” kata Sunye sambil menjilat bibir atasnya. Jeongmin tertawa pelan.

Jeongmin menarik kursi yang paling dekat dari badannya. Lalu duduk di kursi itu. Di sebelahnya terdapat gadis manis berkuncrit kuda. Dan di hadapan gadis itu duduk seorang yeoja cantik bernama Sunye tadi. Kenapa? Wajah mereka terlihat sangat bahagia, bahkan ceria, kenapa mereka mendapatkan perlakuan seperti itu? Jeongmin bertanya dalam hati sambil melihat Suzy iba.

Sunye mengambilkan nasi untuk Suzy dan Jeongmin. Mereka bertiga mulai mengambil makanan. Tidak ada yang berbicara. Karena mereka adalah keluarga yang selalu cara makannya diatur. Tidak ada yang boleh bicara, karena menurut keluarga mereka itu tidak sopan.

15 menit berlalu. Mereka selesai makan. Jeongmin meneguk jus jeruk di samping piringnya. “Jinjja mashita, Nuna!” seru Jeongmin.

Mata Sunye melebar senang. “Geuraeyo?”

Suzy ikut mengangguk. “Enak sekali! Kenapa nggak Eonni aja yang masak untuk makanan kita jangan beli teruss.”

“Kau kan tau, Suzy-ya, tugas kuliahku sangat berat. Yang aku bisa lakukan hanya makan bersamamu ketika makanan siap saji itu datang. Ini saja Eonni bersyukur, di kampus Eonni sedang dipakai acara dan acara itu berlangsung 5 hari. Jadi Eonni bebas kuliah.” Jelas eonninya panjang-lebar.

Giliran mata Suzy melebar. “Jinjja? Eonni libur 5 hari? Eonni akan menemaniku selama itu? Jeongmal?” tanya Suzy bertubi-tubi.

Sunye tersenyum. “Ne!”

Jeongmin ikut tersenyum melihat tingakah Suzy yang kini sudah berteriak kegirangan.

“Ya! Jeongmin-ah, kau sering main-main kesini, ne? Eonniku akan memasakkan banyak makanan lagi!” seru Suzy menatap Jeongmin senang.

“Masaklah yang banyak aku akan sering kesini!” seru Jeongmin juga. Sunye dan Suzy tertawa.

Tanpa sengaja Jeongmin menoleh ke Suzy ketika Suzy menoleh padanya juga. Kedua pasang mata itu bertemu. Mereka saling tersenyum. Tapi Suzy segera mengalihkan pandangannya pada Sunye. Pipi Suzy seketika memerah. Ia menundukkan kepalanya menutupi itu. Jeongmin langsung meminum minumannya lagi.

“Ya, wae? Ada apa Suzy-ya?” tanya Sunye melihat Suzy menunduk.

Suzy mendongak. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Anio, Eonni. Hanya membersihkan celanaku!”

Sunye hanya mengangguk. “Jeongmin-ah, kamu tinggal bersama siapa saja di rumah?” tanya Sunye.

“Eung, Umma aja.” Jawab Jeongmin.

“Tidak punya saudara? Appa kamu?” tanya Suzy ikut penasaran.

Jeongmin menggeleng. “Tidak ada saudara. Appaku sudah meninggal 2 tahun yang lalu.” Jawabnya tersenyum kaku.

Suzy menutup mulutnya dengan tangan. “Mianhae Jeong, aku nggak tau…”

“Gwenchana! Itu juga sudah 2 tahun yang lalu.” Jawab Jeongmin tersenyum pahit lagi.

Suasan di meja makan itu seketika hening. Tidak ada yang berani mengangkat bicara. Takut malah merusak suasana. Sunye melirik Suzy. Gadis peramai keadaan itu kini terdiam. Sunye menggaruk tengkuknya.

“Sudah selesaikah? Sini, aku taruh belakang piring-piringnya. Suzy-ya, bantu aku cuci piring-piring ini, ne!” seru Sunye segera berdiri dari tempat duduknya. “Jeongmin-ah, terserah kau mau nonton TV atau apa pun, yang penting jangan pulang dulu!” lanjutnya.

“Eh? Lebih baik aku pulang, Nuna, sudah agak malam.” Kata Jeongmin sedikit salah tingkah.

Sunye segera menggeleng. “Tidak. T-i-d-a-k.” Katanya sambil mengeja tiap kata yang ia ucapkan. Jeongmin pasrah, ia duduk kembali di ruang keluarga.

Setelah 15 menit, Suzy dan Sunye keluar dari dapur. Mereka menuju ruang keluarga. Jeongmin duduk paling pojok, disebelahnya ada Suzy, disebelah Suzy ada Sunye. Dan mereka bertiga tidak ada yang bicara. Sibuk, lebih tepatnya menyibukkan diri menonton TV.

Sampai tiba-tiba terdengar pintu depan bergeser dengan kasar. Mereka bertiga membeku. Firasat pertama tentu maling. Dan setelah itu terdengar suara tawa yang dibuat-buat antara seorang namja dan yeoja. Suzy dan Sunye terpaku. Jeongmin merasakan firasat aneh.

Ia melirik Sunye, yang ada Sunye diam menatap arah pintu. Belum ada yang muncul. Sementara ketika Jeongmin melirik sedikit pada Suzy, mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Sunye ikut memandang Suzy. Lalu mereka berpelukan. Jeongmin benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.

Ketika akhirnya muncullah seorang yeoja yang sedang memeluk lengan seorang namja dengan manja. Suzy menutup mulut dengan tangannya. Sunye melepaskan pelukannya. Pandangan Sunye beralih pada Jeongmin. Ia menepuk pundak pemuda itu. “Jaga dia.” Katanya singkat. Sunye berdiri menghampiri kedua orang tadi. Tangannya mengepal.

Saat melihat kedatangan Sunye, yeoja tadi melepaskan pelukannya dan tersenyum. “Hai, sayang.”

Mata Sunye memerah penuh amarah. “’Sayang’? Masih pantaskah Anda memanggil saya ‘sayang’?”

Yeoja itu mengelus rambut Sunye, lalu Sunye langsung menepisnya. “Apa? Siapa Anda berhak mengelus rambut saya? Hah? Kenapa Anda masih harus repot-repot datang ke rumah ini lagi?!” kali ini suara Sunye sedikit keras.

“Sayang, kamu kenapa, sih?” tanya yeoja tadi merasa tak bersalah.

Mata Sunye makin merah. Amarahnya makin meningkat. Tangannya yang terkepal begitu lama sampai tak terasa sakitnya. “Saya tidak akan mengusir Anda jika Anda tidak melakukan itu.”

“Maksud kamu?” tanya yeoja tadi pelan.

“Bisakah Anda tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi?” tanya Sunye. Sebetulnya bukan bertanya, itu menyuruh.

“Sayang, Umma nggak ngerti maksud kamu…”

“BISAKAH ANDA PERGI DARI RUMAH INI?!! Hah? Apa? Apakah kurang jelas?” teriak Sunye. Ini bukan keinginannya. Tapi apa yang harus ia lakukan pada seorang yeoja yang menikahi namja kaya, mempunyai dua anak, dan tiba-tiba memarahi namja tadi? Hingga mengusir namja itu? Bahkan yeoja tadi dengan enaknya menikmati rumah indah yang adalah milik namja tadi? Tapi dengan mudahnya menggoda namja lagi? Itulah yang terjadi. Sunye benar-benar tidak habis pikir.

“Sayang kamu kenapa…. Umma cuma mau carikan Appa yang lebih baik daripada dia..” kata yeoja itu mendekati anaknya.

Mata Sunye terbelalak. “Apa? Lebih baik? Bahkan namja seperti Appa lebih baik daripada Umma!”

“Sunye!” yeoja itu berteriak.

“Untuk apa Umma menyebut-nyebut namaku? Masih pantaskah?” Sunye berjalan mundur. Tidak sedikit pun keinginannya untuk menangis. Suzy, adiknya belum sekuat Sunye. Sunye tau itu. Dan Sunye akan mati-matian melindungi Suzy.

“Jangan… Bertengkar…” ucap Suzy pelan tapi jelas. Mereka semua yang berada disitu akan mendengar suara Suzy benar-benar rapuh.

Dengan cepat Jeongmin mendekatkan duduknya dengan Suzy, ia memeluk gadis itu. Suzy kembali menangis. Sunye kembali menatap ummanya.

“Sudah lihat? Ini baru sekali Umma melihat Suzy nangis, kan? Hahaha. Bahkan ketika kami lapar pun Umma tidak akan tau.”

Mata Umma Sunye belum lepas dari Suzy. Ia terdiam. Sampai setelah itu Umma Sunye ikut menangis. “Sayang, Umma benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk kalian…”

Sunye mengedikkan bahu. “Kalau Umma masih ingin disini dan menikmati dengan PASANGAN BARU Umma, yasudah, aku dan Suzy akan pindah ke Gwangju.” Gwangju adalah tempat tinggal Appa mereka sekarang.

Yeoja itu menatap namja disebelahnya. “Umma akan membicarakannya.”

“Tapi,” Sunye mengangkat jari telunjuknya. “Jika Umma ketauan berdua dengan namja lain, aku akan langsung pindah tidak peduli apapun yang Umma katakan. Sekalipun Umma akan memberikan kami rumah baru dan sebagainya.”

Umma Sunye menelah ludah lalu mengangguk. Ia mengajak namja tadi keluar rumah. “Umma akan membicarakannya. Sungguh.”

Sunye kembali ke ruang keluarga. Suzy menangis sejadi-jadinya di pelukan Jeongmin. Sunye duduk kembali di sebelahnya. “Maaf, Suzy… Eonni tidak bermaksud…” gadis itu terbata-bata.

Suzy melepaskan pelukan hangat Jeongmin. Ia menatap eonninya. “Anio, Eonni, Eonni tidak perlu meminta maaf. Terima kasih Eonni sudah membela Suzy. Maaf Suzy nggak bisa bantu Eonni. Maaf Suzy selalu merepotkan Eonni. Maaf Suzy….”

Sunye langsung memeluk tubuh Suzy. “Sudah, ini bukan salah kita.”

Jeongmin tertegun melihat semua kejadian ini. Semua sangat nyata. Terjadi di depan matanya. Ia yang ditinggal appanya meninggal saja sudah sakit sekali rasanya. Jeongmin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sunye dan Suzy.

Ketika Sunye sudah melepaskan pelukan Suzy, ia menatap Jeongmin. “Jeongmin-ah, maaf merepotkanmu. Kalau kau ingin pulang tidak apa-apa. Sebetulnya tadi aku menahanmu agar tidak pulang supaya ada orang lain yang menemani Suzy. Karena aku pikir aku akan dipanggil dosenku.”

Jeongmin tersenyum sambil mengangguk. “Kalau begitu.. Eng, aku pamit pulang.”

Sunye mengangguk. Suzy tersenyum. “Gomawo, Jeong.” Ucap Suzy pelan.

Sunye dan Jeongmin berdiri. Suzy ingin ikut berdiri, tapi Sunye melarang. Ia lalu menarik Jeongmin ke dekat pintu depan. “Dengar Jeong, aku ingin kamu mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Apa pun, kalau perlu kau rekam. Jadi, nanti kau keluar dari rumah, dan berpamitan sebentar lalu jalan yang lambat. Ne?”

Alis Jeongmin mengerut. “Untuk apa, Nuna?”

“Sudahlah. Bukan tugas yang sulit.”

Dengan pasrah, Jeongmin mengangguk. Mereka pun saling melambaikan tangan ketika pintu depan di buka. Jeongmin melakukannya, ia menyalakan perekam, mereka berbincang-bincang. Jeongmin melewati mereka dan berpamitan. Lalu Jeongmin berjalan selambat mungkin. Ketika sampai pagar, Jeongmin mematikan perekamnya.

Ia bahkan tidak tahu kenapa bisa menuruti Sunye.

***

Pagi tiba, Jeongmin buru-buru mempersiapkan peralatan sekolahnya. Semalam adalah malam yang paling panjang. Setelah Jeongmin pamit, sampai rumah ternyata ia tidak bisa tidur. Membayangkan apakah Suzy baik-baik saja.

Setelah menyambar roti tawar dari meja makan, dan berpamitan kepada ummanya, Jeongmin langsung berangkat. Ia berniat akan naik bis.

Satu per empat perjalanan, tiba-tiba sebuah sepeda mengagetkannya. Jeongmin menoleh. Terlihat cengiran seorang gadis yang amat manis. Jeongmin menepi untuk memberikan jalan pada gadis itu, tapi gadis itu ikut menepi.

“Ya, Jeongmin-ah, ayo berangkat bersama!” seru gadis itu.

“Suzy-ya, kenapa pagi-pagi kau sudah malas sekali?” sindir Jeongmin.

Suzy nyengir. “Kok tau, sih? Ayo bonceng aku! Masih pagi, males banget udah ngayuh sepeda!” seru Suzy lagi. Ia langsung pindah ke tempat boncengan.

Jeongmin berdecak. Tapi akhirnya ia membonceng Suzy lagi.

Dan begitulah, mereka berangkat bersama. Dan itu berjalan sekitar 2 bulan. Suzy akan menunggu Jeongmin di dekat halte, dan mereka akan berangkat bersama. Suzy senang sekali. Begitu juga Jeongmin. Jeongmin baru menyerahkan perekam yang waktu itu disuruh Sunye pun sebulan kemudian. Perekam itu tidak berfungsi karena yang mereka bicarakan benar-benar tidak penting.

Suatu pagi, ketika mereka berangkat bersama lagi, waktu yang mereka butuhkan ke sekolah adalah 25 menit dan mereka sampai di sekolah. Suzy lari duluan masuk ke sekolah. Ia lupa sama sekali pada sepedanya. Sampai Jeongmin berteriak, baru Suzy menunggu Jeongmin.

5 menit kemudian bel akan berbunyi. Tanpa disadari keduanya sedang lomba lari. Suzy tertawa terbahak-bahak ketika Jeongmin kesandung gelas pastik yang sudah remuk. Tapi gantian Jeongmin yang tertawa ketika Suzy hampir menabrak pintu yang terbuka.

Ketika keduanya sampai di depan pintu kelas bersamaan, Suzy segera merebut dan masuk duluan. Jeongmin mengalah.

Naeun yang duduk dibelakang mereka mentoel(?) Suzy. “Suzy-ya, kalian berangkat bersama?”

Suzy mengangguk. “Wae?”

“Ah, anio. Cuma tanya.” Jawab Naeun singkat.

Sementara kakaknya, Taemin merasa badannya sudah mendidih. Istirahat ia akan membicarakannya. Tidak mungkin ia diam saja seperti ini. Itu bukan Taemin yang ada pada dirinya.

***

Istirahat pertama berbunyi. Baik Suzy, Jeongmin, Taemin maupun Naeun sama-sama tidak ada yang keluar kelas. Tapi tentu saja Taemin punya banyak ide. Setelah ia membisikkan sesuatu ke telinga Naeun, Naeun mengangguk.

Naeun berdiri sambil membawa tempat minumnya yang terbuka, ia hendak meminumnya ketika perjalanan keluar kelas, tapi dengan sengaja ia menumpahkan minumnya ke seragam Jeongmin.

“Aah! Mianhae, Jeongmin-ah! Mianhae! Aku tidak sengaja!” seru Naeun sambil terus-terusan membungkuk.

“Aku akan membersihkan bajumu. Akan kuambilkan baju kakakku!” lanjutnya.

Jeongmin hanya mengangguk. Bahkan ketika Naeun menyiramnya dengan kopi panas pun Jeongmin tidak akan marah. Itu tidak ada rasa sakit sama sekali ketimbang ditinggal appanya.

Jadi tersisalah mereka berdua, Suzy dan Taemin. Suzy hanya menghembuskan napas berat. Ia bahkan tidak peduli saat tiba-tiba Taemin duduk disebelahnya. Suzy hanya menoleh sebentar sambil tersenyum lalu kembali fokus pada soal-soal yang ia kerjakan.

“Eung, Suzy-ya,” Taemin menatap Suzy dengan pelan-pelan.

Suzy menoleh. “Ne?” sekelebat kemudian Suzy merasakan jantungnya berdegup kencang.

Taemin menunduk sebentar. “Suzy-ya, selama ini… Aku sudah menyukaimu… Would you be my yeojachingu?”

Suzy kaget setengah mati. “Ne? Serius Taem?”

Taemin mengangguk kaku.

Keduanya terdiam beberapa saat. “Ne, aku mau.” Kata-kata itu seakan bel gereja yang berbunyi keras. Taemin mengangkat kepalanya, menatap Suzy tak percaya.

“Serius? Aku tidak akan memaksamu, Suzy-ya.” Ucap Taemin sungguh-sungguh.

Suzy tersenyum manis. “Ne, aku serius, chagiiii.”

Keduanya saling tatap, lalu tersenyum penuh arti.

“Gomawo.” Kata Taemin masih tersenyum.

Ya, tentu saja, kejadian singkat itu bukan hanya mereka berdua yang tau. Seseorang, yang hendak membuka pintu sudah dikagetkan dengan ucapan-ucapan itu. Kepalanya menunduk. Ia berjalan pelan menuju perpustakaan.

***

Masih sama seperti sebelumnya, Suzy mengajak Jeongmin pulang bersama. Tapi Jeongmin benar-benar tidak mau. Bukan tidak mau merepotkan Suzy. Ia benar-benar tidak mau ada sepasang mata memandang mereka penuh kecemburuan.

Suzy pasrah dan akhirnya pulang sendiri. Ketika sampai di rumah, Sunye menyambutnya.

“Welcome, Agasshi.” Kata Sunye sambil membungkuk.

Suzy tertawa. Lalu ia menarik tangan Sunye riang ke kamarnya. Mereka duduk berhadapan setelah Suzy menaruh tasnya, melepas sepatu dan kaus kakinya.

“Mana Jeongmin?” tanya Sunye.

Suzy hanya bisa menggeleng pasrah. “Molla, Jeongmin tadi tiba-tiba tidak mau kuajak pulang bareng. Alasannya takut merepotkanku.”

Alis Sunye merapat. “Cuma karena hal itu? Nggak mungkin, Suzy-ya. Biasanya juga dia pulang bareng.”

Suzy hanya mengedikkan bahu. “Aku tidak tau Eon.”

Sunye mengelus rambut Suzy. “Coba besok kau tanyakan, ne?”

“Ne.”

Wajah Suzy seketika berubah. “Ah, Eonni. Eung… Aku tadi ditembak seorang… Namja…” katanya malu-malu.

Mata Sunye melebar. “Jinjja?”

Suzy mengangguk senang. “Ne, mungkin aku tidak pernah menceritakan pada Eonni. Namya Lee Taemin.”

Sunye tersenyum. “Woah, chukkae!!”

Mereka pun melanjutkan dengan membahas yang lainnya. Sunye rasa ia tau kenapa tiba-tiba Jeongmin tidak mau pulang bareng Suzy. Bahkan ia tidak pernah menyangka itulah alasannya.

TBC~

Duh aneh gitu ya, –” entah deh, cuma satu harapan saya, semoga kalian suka :3

COMMENT and LIKE neee~~

Advertisements