miss.jpg

Author: Btari Deannisa

Genre: romance, friendship, school

Length: chapter

Cast: Bae Suzy (Miss A), Lee Jeongmin (Boyfriend), Lee Taemin (SHINee)

Other cast: Min Sunye (Wonder Girls) as Bae Sunye, Son Naeun (A Pink) as Lee Naeun and others

Rating: G

Kring! Kring!

Gadis yang menaiki sepeda ini terus-terusan menyadarkan pejalan kaki yang tengah berjalan oleng. Ingin sekali ia mendahului namja di depannya ini, tapi ia segera menoleh ke kanan, mobil-mobil melaju dalam kecepatan tinggi di pagi hari yang indah di Mokpo ini. Tapi benar saja, namja itu semakin oleng. Hinga di menit ke-5 namja itu jatuh ke tanah.

Mata gadis ini terbelalak. Ia segera turun dari sepeda dan menaruh sepedanya sembarangan. Dengan sedikit berlari, ia menghampiri namja tersebut. “Ya! Gwenchana?” tanyanya sambil menggoyang-gonyangkan badan namja itu.

“Mwo.. Ige mwoya?” tanya namja itu sambil mengucek pelan matanya.

“Ah.. Aniyo… Tadi, aku naik sepeda di belakang kamu, tapi kamu jalannya lambat banget, oleng lagi, eh, tiba-tiba udah jatuh aja.” Jelas gadis berkuncir kuda ini.

Namja itu mengangguk. “Arraseo. Siapa namamu? Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi, dan tak mungkin aku nggak menyapamu.”

“Eh? Nama? Emm. Bae Suzy imnida.” Ucap gadis manis tadi.

Namja tadi mengulurkan tangannya. “Jeongmin. Lee Jeongmin imnida.”

Dan sejak saat itu, cerita mereka resmi dimulai.

***

Suzy berkali-kali melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan 07:15. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Jika sudah berbunyi, ia tidak akan bisa masuk kelas. Langkahnya semakin cepat ketika lorong sekolahnya sudah semakin sepi. Anak-anak SMA-nya sudah mengerti bahwa sebentar lagi bel akan berdering dan tidak ada alasan untuk tetap berdiam diri disini.

Dengan napas terngah-engah, akhirnya Suzy sampai di depan kelas XI-B. Perlahan ia mengatur napasnya terlebih dahulu. Setelah napasnya tenang, Suzy menggeser pintu kelasnya. Di dalam para murid-murid sudah bermain dengan asyik, ada yang saling melempar kertas, ada yang berlari-lari, ada yang saling tendang-menendang, dan tak lupa para yeoja-yeoja sudah menggosip pagi ini. Suzy hanya tersenyum kecil mendapati teman-temannya yang mempunyai banyak kegiatan itu.

Ia pun melangkah ke samping jendela tempat duduknya. Ia mendengar bahwa teman sebangkunya adalah anak baru. Dan katanya namja. Dan itu bukan masalah untuk Suzy, yang terpenting adalah ia mendapat teman sebangku.

Setelah Suzy menyiapkan buku-bukunya, bel masuk berbunyi nyaring. Semua murid sibuk saling dorong agar lebih cepat duduk dibangku masing-masing.

Pintu kelas mereka terbuka. Wali kelas mereka pun masuk. Beliau berdeham keras, lalu menata buku-buku yang tadi ditentengnya. “Well, students, kita kedatangan murid baru yang akan pindah ke kelas ini.”

Seketika itu juga jantung Suzy tiba-tiba berdegup kencang. “Suzy-ya, itu dia orangnya.” Bisik Naeun yang duduk di belakang Suzy bersama Taemin.

Taemin yang mendengarnya merasa hatinya panas. Entah kenapa, ia sangat tidak suka fakta yang satu ini. Suzy akan duduk sebangku dengan murid baru. Itu bukan fakta bagus. Malah sebelumnya Taemin telah berdoa agar murid baru itu bukan di kelas mereka. Tapi kenyataannya murid itu sudah memasuki kelas mereka.

“Introducing yourslef.” Ucap wali kelas mereka pada anak baru itu.

Murid itu membungkukkan badannya 90 derajat. “Annyeonghaseyo, Lee Jeongmin imnida. You can call me as Jeongmin. Gamshahamnida.”

Mata Suzy membulat. Siapa tadi? Lee Jeongmin? Batin Suzy.

Mr. Kwon, wali kelas mereka menepuk pundak Jeongmin. “Kau duduk dengan Suzy. Tidak ada tempat lagi.” Kata Mr. Kwon sambil menunjuk bangku kosong disebelah Suzy.

Jeongmin mengangguk singkat. Ia pun berjalan menyusuri anak tangga kecil di kelasnya. Karena tempat duduk Suzy termasuk barisan belakang. Ia pun menaruh pelan tasnya di meja barunya.

Suzy sedari tadi hanya bisa melihat Jeongmin tak percaya. Inikah namja yang pingsan di jalan tadi pagi? Dan hampir membuatnya telat? Kenapa bisa begini, dunia memang benar-benar sempit. Taemin yang melirik dari sudut matanya terlihat Suzy terus-terusan melihat wajah Jeongmin.

“Hai, Suzy.” Sapa Jeongmin tanpa menoleh kesamping. “Kita bertemu lagi.” Jeongmin menoleh lalu tersenyum.

“Ne, aku benar-benar kaget. Entah kenapa, tadi aku lupa bagaimana seragam namja sekolahku….” kata Suzy. Mereka berdua pun tertawa pelan.

Jeongmin menggaruk tengkuk lehernya. “Eung, Suzy-sshi, boleh aku pinjam buku Bahasa Inggris hari ini? Aku lupa. Atau kita bisa memakai satu buku untuk berdua.”

Kepala Suzy mengangguk senang. “Panggil saja aku dengan Suzy-ya. Tentu saja boleh.”

Sementara itu Mr. Kwon memulai pelajaran Bahasa Inggrisnya. Mr. Kwon adalah salah satu guru yang pendiam dan paling asyik. Cara mengajarnya bukan seperti guru-guru yang lain. Itu membuat murid-murid nyaman. Termasuk Jeongmin yang baru saja merasakan ajaran Mr. Kwon.

Jeongmin tersenyum sendiri mendengar gurauan Mr. Kwon. Sedangkan teman sebangkunya sudah tertawa terbahak-bahak. Segera Jeongmin menoleh, tapi Suzy tak menyadari, ia masih asyik tertawa. Jeongmin berdecak pelan dan tersenyum.

Mungkin teman sebangkunya ini akan mengisi hari-harinya. Dan ia tak perlu khawatir akan kesepian.

***

“Suzy-ya.”

Sang empunya nama menoleh. Dilihatnya seorang namja bertubuh tinggi dengan menggaruk tengkuknya. “Ne?”

“Neo… Pulang sendiri naik sepeda?” tanya namja itu.

Suzy tersenyum. “Ne. Wae?”

“Bagaimana… Kalau aku yang mengantar? Bukankah tadi di perjalanan sewaktu kita berangkat, kita bertemu? Itu berarti rumah kita searah, bukan?”

“Hm… Boleh, sih, tapi kau yang memboncengku, ya!” seru Suzy.

“Ne? Aku… Membonceng.. Mu?” ulang namja tadi.

“Ne, Jeongmin-ah! Kajja, kita ambil sepedaku~” Suzy mendorong pelan punggung Jeongmin menuju tempat parkir sepeda.

Setelah Jeongmin mengeluarkan sepeda Suzy dari tempatnya, ia menaiki sepeda itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Bahkan ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dan tentu saja, Jeongmin tidak tahu kenapa.

Suzy dengan riang menaiki boncengan sepedanya. Jeongmin masih terdiam beberapa saat. “Kajja! Sampai kapan kau mau berhenti disini?” tanya Suzy dijawab anggukan Jeongmin.

Sepeda itu pun melaju meninggalkan sekolah mereka. Dan tanpa mereka sadari, seseorang namja berambut pirang telah memerhatikan mereka sejak mereka mengeluarkan sepeda bersama, bahkan sampai ketika Suzy dibonceng seorang namja baru. Tangannya terkepal, matanya memanas. Dengan segera namja itu meneguk air minumnya untuk  meredakan emosi.

“Naeun-ah! Ayo pulangg!!” teriak namja tadi sambil berdiri di gerbang sekolah.

“Ne, Oppaaa!!” jawab Naeun sebelum berpamitan dengan teman-temannya.

Naeun berlari kecil menghampiri oppanya. Ia pun merangkul lengan Oppa kesayangannya itu. “Oppa, kata Choi-sshi, Appa akan pulang malam ini?” Choi-sshi adalah pembantu mereka. Beliau sudah bekerja di rumah Naeun selama lebih dari 10 tahun.

Yang ditanya malah diam. Merenung. Naeun yang merasa pertanyaannya tidak dihiraukan menggoyangkan lengan oppanya. “Oppa! Taemin Oppaaa!!”

Taemin tersadar dari lamunannya. “Ne? Ah, ne, Appa akan pulang nanti malam bareng sama Umma. Jangan tidur dulu, ne. Sambut Appa-Umma dulu.” Kata Taemin sambil mencubit pelan hidung Naeun.

Naeun mengangguk senang. “Oppa kenapa?”

“Aniyo… Cuma sedikit pusing.” Jawab Taemin seadanya.

“Oppa yakin mau nyetir kalau pusing gitu? Naeun aja, ya, yang nyetir?” tanya Naeun memerhatian wajah Taemin yang sedikit pucat.

Taemin hanya menjawab dengan gelengan kecil sambil tersenyum. Ia masih ingat betul perkataan ummanya 15 tahun yang lalu, ia akan mempunyai adik baru, tapi ummanya tidak akan melahirkan atau pun hamil. Orangtua Taemin mengapdosi anak, dan umur mereka sama, hanya terpaut jarak bulan, dan lebih tua Taemin. Taemin sangat menyayangi Naeun, meski pun mereka hanya sebuah ‘saudara beda darah’ tapi baginya Naeun adalah adik kandungnya. Di rumah Taemin tidak ada teman atau pun siapa pun, orangtua mereka pun pergi mementingkan pekerjaan.

“Oppa, kajja!” Naeun membuyarkan lamunan Taemin.

Taemin membuka pintu kemudi, ia lalu duduk di kursi supir. Ia melirik Naeun sejenak, ia tidak pernah mau akan kehilangan adik kesayangannya ini. Apapun yang terjadi, ia akan tetap membela Naeun. Ketika Naeun selesai memakai sabuk pengaman, Taemin mulai menjalankan mobilnya.

***

Tiba-tiba mata Suzy terasa sangat berat. Perjalanan menuju rumahnya masih jauh, cara Jeongmin membonceng pun membuat Suzy ingin tidur. Ia melirik punggung Jeongmin sejenak, punggung itu… Terlihat sangat nyaman, hangat, dan pasti aman. Dengan perlahan dan tanpa sadar, Suzy menyandarkan kepalanya pada punggung Jeongmin. Matanya langsung terpejam, rasa kantuknya memaksanya memasuki alam mimpi.

Jeongmin yang merasa punggungnya semakin berat pun menoleh, betapa kagetnya Suzy sudah tertidur nyenyak di punggungnya. Mukanya memerah, Jeongmin kembali memokuskan matanya pada jalan. Ia akan membiarkan Suzy tidur di punggungnya, asal ia nyaman.

Setelah bersepeda selama 30 menit, sampailah mereka berdua di rumah Suzy. Rumah itu bukan tipe rumah minimalis, seperti kebanyakan rumah di kota Mokpo. Rumah Suzy bernuansa kayu dengan bermacam-macam tumbuhan hijau.

Jeongmin masih terdiam, ia bingung bagaimana harus membangunkan Suzy. Tidurnya semakin nyenyak.

Dengan pelan, Jeongmin menggoyangkan lengan Suzy. Tidak ada respon. Ia menggoyangkan lebih keras. Tidak ada respon. Jeongmin pun menggerakkan punggungnya. Suzy segera bangung dari tidurnya.

“Eh? Sudah sampai?” tanyanya melihat rumahnya sendiri. Ia mengucek matanya.

Jeongmin mengangguk.

“Dari mana… Kau tahu ini rumahku?” tanya Suzy kebingungan.

“Ehm…” Jeongmin menggaruk tengkuknya. “Tadi aku tanya ketika memasuki kawasan rumahmu, kepada satpam. Dan mereka bilang yang ini. Aku tahu ini kawasan rumahmu karena rumahku sekitar sini juga. Tadi pagi aku melihatmu berdebat hebat dengan kakakmu.”

Sekarang malah Suzy yang merasa malu karena perdebatan dengan kakaknya tadi pagi. Bukan masalah besar sama sekali, hanya karena kakaknya tidak mau membantu mengeluarkan sepedanya, padahal Suzy sudah hampir telat. Ia tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan dia dengan kakaknya.

“Yasudah, ayo masuk!” ajak Suzy.

Masih diam  di tempat, Jeongmin ragu akan masuk ke rumah itu, atau pulang saja. Tapi teriakan Suzy membuat Jeongmin akhirnya masuk juga ke rumah sederhana itu. Dengan segera ia mendorong sepeda Suzy masuk ke dalam rumah. Suzy menoleh, lalu menepuk dahinya.

“Sudah, Jeong, biarin taruh situ aja. Di sebelah pohon besar itu.” Katanya sambil menunjuk sebuah pohon besar yang dibawahnya terdapat tempat untuk bersantai.

Jeongmin mengikuti arah telunjuk Suzy. “Disini?” tanyanya menaruh sepeda biru itu.

Suzy hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah dengan riang. “Annyeong! Aku pulang!” teriaknya membuka pintu depan. Jeongmin berjalan membuntuti Suzy. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa menuruti Suzy untuk masuk ke rumahnya.

Suzy menghentakkan sekali kakinya. “Ish, pasti pada belum pulang.”

“Eung, Suzy-ya. Tidak apa-apa aku masuk?” tanya Jeongmin pelan.

“Eoh? Tentu nggak apa-apa! Emangnya nggak boleh gitu?” jawab Suzy riang sambil tertawa. Jeongmin hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

Suzy melihat sekitar, lalu berjalan menuju ruangan yang berisi TV, sofa besar, karpet, dan semacamnya, keluarga Suzy menyebutnya itu ruang keluarga. “Jeongmin-ah, kau tunggu dan duduk disini saja, ne? Aku akan membuatkan minum dulu.”

Jeongmin mengangguk lalu duduk di salah satu sofa itu. Matanya menyebar, ia melihat setiap benda yang ada di ruangan itu. Ada banyak foto yang digantung. Ada juga foto Suzy sedang bertengkar dengan kakaknya. Tanpa sadar Jeongmin tersenyum. Disebelahnya ada foto Suzy memegang piala. Karena penasaran apa tulisan di piala itu, Jeongmin berjalan mendekat.

Di piala itu tertulis Suzy memenangkan juara 1 lomba menyanyi. Di foto itu, Suzy masih berumur sekitar 4 tahun. Jeongmin tersenyum melihat senyum Suzy. Seketika itu juga Jeongmin kaget sambil menoleh ke arah kanan, ketika ada teriakan,

“Ya! Ngapain kamu lihat foto kecilku!”

“Ya! Bisakah kau tidak menyadarkan orang dengan kata-kata ‘ya’? kaget tau!” Jeongmin mengelus dadanya. Ia kembali ke sofa semula.

Suzy hanya nyengir. Ia meletakkan baki berisi dua minuman di atas meja di depan Jeongmin. “Lucu ya aku waktu kecil.” Kata Suzy tiba-tiba sambil berjalan ke arah foto tadi.

“Ne, itu ketika kau kecil.” Ucap Jeongmin santai sambil meneguk minumannya.

“Apa katamu? Ketika aku kecil? Sekarang tidak lucu? Begitu?” tanya Suzy sinis sambil berjalan ke arah Jeongmin dengan membawa fotonya.

Jeongmin menaruh gelas. “A aniaa~ sama kok, dulu dan sekarang.” Suzy tertawa senang. Lalu duduk di sebelah Jeongmin. Ia memerhatikan fotonya ketika kecil. Dulu ia sangat bahagia. Senyumnya pun lega, tanpa dosa.

Tiba-tiba satu butir air mata jatuh di pipi putih Suzy. Air mata itu jatuh bebas membentur kaca di pigura itu. Jeongmin yang melihatnya kaget. Ia segera menghapus air mata Suzy.

“Wae, Suzy-ya? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Uljima…” ucap Jeongmin sambil memerhatikan wajah Suzy yang matanya mulai berair banyak.

Suzy menggeleng. “Anio,  bukan karena kamu, Jeong.”

Jeongmin kini terdiam. Ia akan membiarkan Suzy menangis. Menurutnya, wanita menangis tidak harus selalu dihibur atau dihentikan air matanya. Kadang para wanita itu lebih memilih mengekspresikan emosinya lewat air mata. Air mata Suzy semakin deras. Berkali-kali Suzy menghapus, tapi air itu semakin keluar.

“Dulu…” Suzy mulai membuka mulutnya. “Dulu, aku sangat senang. Mempunyai Appa dan Umma yang selalu mengajariku bernyanyi. Mereka mendukungku sepenuhnya, bahkan tanpa aku minta. Hingga aku mendapatkan ini.” Suzy mengelus foto itu tepat di bagian piala. “Tapi, entah ada apa diantara mereka, tiba-tiba Appa jarang pulang. Umma marah-marah, Appa makin tidak mau cepat pulang. Appa pulang ketika jam sudah menujukkan 1 pagi. Aku dan Sunye Eonni hanya bisa menangis bersama di kamar ketika pertengkaran itu dimulai kembali, setiap malam. Yang aku tidak tau, kenapa mereka bertengkar ketika kami mendengarkan.” Air matanya makin deras. Ia tak mampu membendung lagi.

Jeongmin memeluk pelan Suzy. Menenangkannya. Membiarkan Suzy menangis di pelukannya. “Teruskan kalau kau masih mau mencurahkan isi hatimu, aku akan selalu mendengarkan.” Ucapnya sambil mengelus pelan rambut panjang Suzy.

“Sampai sekarang aku tidak bisa bertemu Appa lagi. Ia benar-benar pergi dari rumah. Umma tidak pernah berniat mencarinya, meskipun aku dan Eonni sudah meminta. Umma tetap bersikeras berkata bisa hidup tanpa Appa. Tapi kenapa, apakah Umma tidak tau aku dan Eonni tidak bisa hidup tanpa Appa….” Suzy memukul pelan dada Jeongmin.

Selama satu jam, Suzy hanya menangis di pelukan Jeongmin. Tidak mengucapkan apa-apa. Air matanya terus mengalir. Pelukan Jeongmin terasa semakin hangat. Matanya sudah membengkak. Dengan perlahan Suzy melepaskan pelukan Jeongmin.

“Gomawo.”

Jeongmin tersenyum. “Ne, cheonma.” Jawabnya sambil mengelus rambu Suzy lagi.

“Annyeong! Aku pulang!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita di pintu depan. Suzy segera menghapus air matanya.

“Suzy-yaaa???”

“Ne, Eonni. Aku sudah pulang!” jawab Suzy.

Wanita itu bergegas menuju arah suara Suzy. Ia tahu dimana Suzy duduk. Ketika sampai di ruangan keluarga. Mata wanita itu terkejut. “Nugu.. Suzy-ya?”

Suzy mengikuti arah mata wanita itu. “Ah, dia temanku, Jeongmin. Tadi pulang bareng. Rumahnya deket sini, kok. Jadi aku suruh main dulu aja kesini.”

Jeongmin berdiri. Mengulurkan tangannya. Uluran tangannya disambut wanita tadi. “Annyeong. Lee Jeongmin imnida.”

“Ah, ne, Bae Sunye imnida.” Wanita bernama Sunye itu tersenyum. Ia berjalan mendekati adiknya. Matanya terkejut. “Ah, wae? Kenapa kau menangis lagi? Ya! Jeongmin-ah, kau apakan adikku!”

“Anio, Eonni! Aku menangis bukan karena Jeongmin!” kata Suzy cepat.

Jeongmin yang berdiri di tempatnya terdiam. Apa kata Sunye Nuna tadi? ‘Kenapa kau menangis lagi’? Apakah Suzy selalu menangis? Seberapa parah tingkah laku orangtua mereka? Sampai-sampai Suzy yang terlihat ceria harus menangis. Mata Jeongmin menatap Suzy iba. Memang benar tidak semua orang ceria itu dalamnya juga ceria. Ia mendapatkan satu contoh.

TBC~

ANNYEONGG okeh, this is my first fanfic hfttt. Jelek kan pasti T__T

yaaah jelek-jelek juga gpp, yang penting kan hasil sendiri yakan kawan-kawannnn

THEN, yang sudah baca, readers yang baikkk, yang cakepp, COMMENT dan LIKE yaaa

GOMAWOOO *bow*

Advertisements