Title: Grave

Rating: G

Genre: Romance, family, school life, sad

Cast: Park HaRin, Lee Donghae, Jo Kwangmin, Lee SeuRin

Support Cast: MinHo, Sulli a.ka Jinri, Woohyun

Length: Chaptered

.

.

-Fariha’s Fanfiction-

Grave Series II

.

.

.

“Ah! Kau yeoja tadi siang! Jadi, kau orangnya. Kajja, masuk!” Seru Donghae tiba-tiba, ia langsung mengambil alih koper yang menjadi bawaan Seul Rin.

“Tunggu! Orang? Orang siapa yang kau maksud Oppa?” Sergah HaRin yang masih dilanda kebingungan. Sepertinya rasa kantuk yang sempat menyerangnya telah menguap entah kemana.

“Biar kujelaskan di dalam HaRin. Kajja masuk Seul Rin. Kau pasti lelah.” Ajak Donghae di sertai senyuman manisnya dan itu membuat HaRin dan Seul Rin bersemu merah.

Seul Rin mengikuti langkah Donghae dan membuatnya menjadi sejajar, Sedangkan HaRin membuntuti mereka di belakang.

“Ayo silahkan duduk, Seul Rin-ssi.” Suruh Donghae pada Seul Rin yang dibalas anggukan lembut. HaRin menatap Seul Rind an Donghae bergantian. Ia merasa paling bodoh di antara bertiga, pasalnya ia tidak tahu menahu soal apapun.

“Kau juga duduk HaRin.” Suruh Donghae lagi, kali ini pada HaRin yang masih terbengong sembari berdiri. Dengan patuh HaRin ikut duduk bersama Seul Rind an Donghae di ruang keluarga.

Hening tercipta di antara mereka.

HaRin yang masih bingung dengan apa yang terjadi memilih untuk diam, menunggu seseorang menjelaskan apa yang terjadi.

Donghae yang terdiam, Bingung hendak menjelaskan dari mana dulu.

Sedangkan Seul Rin hanya mengikuti keduanya terdiam sembari tersenyum-senyum kecil.

“Jadi..?” Tanya HaRin memecah keheningan.

“Hmm, begini. Kau ingat kemarin? Aku menyuruhmu pulang untuk membicarakan sesuatu.”

“Lalu?” tuntut HaRin meminta penjelasan.

“Jadi,, beberapa hari yang lalu Appa menghubungiku—“

“Appa? Appa meneleponmu? Kenapa kau tak memberitahu aku?” Potong HaRin dengan wajah terkejut yang mendominasi wajahnya.

“Hey tenang dulu. Dengarkan Oppa  sampai selesai.”

HaRin memutar bola matanya lalu mendengus pelan, “Baiklah.”

“Appa menelepon untuk meminta bantuan kita. Ia ingin kita menjaga Seul Rin selama dia di Seoul.” Tutur Donghae tenang.

“Memang Seul Rin itu siapanya Appa Lee?”

“Oh! Tentang itu, aku anak dari temannya Tuan Lee yang tinggal di Australia. Seminggu yang lalu… Eommaku—satu-satunya keluarga ku, meninggal. Sebelum beliau meninggal, dia menyuruhku untuk menghubungi Tuan Lee. Dan ketika aku menghubungi Tuan Lee, aku di suruh untuk tinggal di Seoul, dan memberikan alamat apartement kalian.” Sela Seul Rin menjawab pertanyaan HaRin.

“Kenapa kau bisa berbahasa korea? Dan… kemana Appa-mu?” Tanya HaRin penuh dengan tanda tanya. Donghae menatap tajam HaRin.

“HaRin! Jangan bertanya seperti itu dong!” Seru Donghae masih menatap tajam HaRin– yang tak berpengaruh sama sekali.

“Aish, Oppa! Aku kan cuman bertanya! Huh!”

“Hahaha, jangan bertengkar hanya karena pertanyaan HaRin. Aku di ajarkan bahasa Korea dari kecil oleh Eomma. Eomma itu asli keturunan korea. Hmm, kalau soal Appa-ku… aku tidak tahu Appa-ku.” Seul Rin menanggapi perdebatan Kakak-adik dengan ringan.

HaRin dan Donghae menatap Seul Rin yang masih tersenyum kecil. Senyuman yang manis dan lembut. Bagi HaRin yang mempunyai sifat yang selalu mau tahu, jawaban terakhir Seul Rin terasa ambigu. Tidak tahu seperti apa? Tidak tahu wajahnya? Atau memang tidak mempunyai Appa?—pikir HaRin bingung.

“Hemm, Seul Rin kau bisa memakai kamar yang ada di ujung pojok kanan.  Kamar yang di sebelah kiri itu kamarnya HaRin.

“Itu kan kamar Oppa! Lalu Oppa tidur dimana?” Sanggah HaRin lagi. Ada apa dengannya? Kenapa ia jadi begitu mempermasalahkan hal kecil seperti ini.

“Oppa bisa tidur di ruang rekaman, di sana ada sofa yang cukup nyaman bukan? Nah, Seul Rin  Kajja! Kuantarkan kau ke kamarmu sekarang.”

“A-ah, baiklah. Hemm, HaRin-ssi tenang saja, aku akan berusaha tidak akan merepotkanmu.” Kata Seul Rin sembari berdiri dari duduknya, lalu mengikuti Donghae. HaRin memperhatikan kedua punggung yang sedang berjalan menuju kamar. Dia menghela napas keras.

“Kenapa dia berbicara seperti itu? Kenapa seakan-akan aku menolak kedatangannya? Aku tidak menolaknya kok.” gumam HaRin pelan.

 

∙ÖÖÖ∙

 

Pip pip pip, Cklek’

HaRin memasuki Apartementnya santai. “Aku pulang.” Gumam HaRin pelan. Ia membuka sepatunya sekolah, menggantinya dengan sandal rumah.

“Ah! HaRin! Kau sudah pulang?” Dengan riang Seul Rin menyambut HaRin yang sedang berjalan melewati ruang tengah.

Seul Rin yang berada di dapur dapat melihat dengan jelas HaRin yang berjalan, menghampiri HaRin.  “Kenapa kau pulang terlambat?”

HaRin berhenti lalu menoleh ke belakang, “A-ah itu, setiap hari senin dan kamis memang ada kegiatan klub.” Jawab HaRin dengan senyuman kecil.

“Oh, kau mengikuti klub? Pasti sangat menyenangkan! Kau mengikuti klub apa?”

HaRin mendesah pelan, lalu mengangkat kotak hitam ber-aksen putih yang berisi saxophone-nya. Seul Rin menaikkan sebelah alisnya.

“Apa itu?”  tanyanya polos.

“Saxophone.. aku ikut klub saxophone.” HaRin menurunkan kembali tas kotak itu. HaRin memperhatikan Seul Rin dari atas sampai bawah.

“Kau sedang apa?” Tanya HaRin pada akhirnya, setelah melihat Seul Rin memakai apron berwarna soft biru-nya dengan cipratan noda-noda coklat.

“O-oh, aku baru saja selesai memasak. Sebentar lagi jam makan malam, jadi aku memasakkan masakan untuk kalian. Donghae tadi menelepon, katanya dia sebentar lagi akan pulang. Jadi, sebaiknya kau segera bersihkan dirimu selagi menunggu Donghae.” Seul Rin menggiring tubuh HaRin menuju kamar mandi.

HaRin berhenti melangkahkan kakinya lalu berbalik menghadap SeulRin, “Baiklah, aku akan mandi. Tapi aku bisa berjalan sendiri.” Ujar HaRin  dengan senyuman kecilnya.

SeulRin mengangguk polos, dan lagi-lagi mengeluarkan senyuman lembutnya. HaRin Berbalik badan menuju kamarnya.  ‘Blam’ pintu itu tertutup pelan. HaRin mendesah lelah, seharian ini ia merasa jengah dengan perlakuan Woohyun padanya. Perlakuan Woohyun yang terkadang mengistimewakan HaRin membuatnya selalu mendapatkan cibiran dari teman-temannya di club.

Dan, entah mengapa ia merasa aneh dengan keberadaan SeulRin di apartemennya ketika ia pulang.Sudah 3 hari SeulRin  tinggal di apartement Donghae dan HaRin, tapi HaRin belum terbiasa akan kehadiran yeoja berambut hitam pekat dan panjang itu.

HaRin meletakkan saxophone-nya di atas meja belajarnya. Kepalanya sedikit pening, mungkin karena masih banyak pertanyaan yang berkelebat di otaknya tentang SeulRin. Bagaimana bisa Appa Lee menelepon mereka untuk menampung SeulRin di sini, setelah sekian lama tak mengabari keberadaannya. Ia mengambil satu pasang baju tidur, dan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di sudut apartement.

Dari sini telinganya bisa mendengar suara tawa SeulRin di dapur bersama… Donghae? Seketika dahinya mengernyit.

“Oppa, sudah pulang?”  Gumam HaRin. Ia membelokkan langkahnya  menuju ruang tengah yang dapat melihat langsung ke arah dapur.

Bola matanya menangkap pemandangan dimana Donghae tengah mengoleskan saus di pipi SeulRin. Dan ia pun bisa melihat SeulRin yang mempoutkan bibirnya, serta kekehan senang Donghae.Pancaran matanya berubah sendu. Nyeri. HaRin meraba dadanya yang sakit.

Badannya berbalik lalu menuju kamar mandi. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Setelah ia benar-benar masuk ke kamar mandi, otaknya menayangkan kembali SeulRin dan Donghae yang saling bercanda dan tertawa. Pandangannya mengabur, kecewa melanda dirinya yang masih terdiam di balik pintu.

“Pabbo! Kenapa harus menangis?” ujarnya pelan sambil tertawa miris, ketika air matanya turun perlahan dari mata coklatnya.

‘Kenapa aku tidak bisa seperti itu dengan Oppa? Mengapa SeulRin yang baru di kenalnya dua hari lalu, bisa melakukannya dengan Oppa? Hal yang sangat aku inginkan.. kenapa?’ Batinnya kecewa.

Kenapa bisa? Kau memang bodoh HaRin. Kau memang ingin melakukan hal itu dengan Donghae, tapi kau juga yang selalu menghindarinya, bukan? Tak ingatkah dirimu?

Jika mengingatnya… Jadi, buat apa kau menyesal?

 

∙ÖÖÖ∙

 

“Hae-ya, lebih baik kau duduk di meja makan saja. biar aku yang melanjutkannya.” Suara lembut SeulRin menghentikan aktifitas mengaduk-ngaduk kimchi. SeulRin mengambil alih mangkuk kimchi itu lalu mulai mengaduknya. Donghae mengangguk dan melepas sarung tangan plastic yang dipakainya tadi.

“Oh, iya! Jika hendak mandi, mungkin kau harus menunggu HaRin dulu. Ia sedang mandi.” Lanjut SeulRin.

“Oh, HaRin sudah pulang?” Donghae membuang sarung tangan plastic itu ke tong sampah. SeulRin mengangguk pelan, “Ya, dia datang lebih awal beberapa menit darimu.”

Donghae hanya ber’oh’ ria, kemudian berjalan menuju meja makan. Donghae menatap punggung SeulRin yang tengah berkutat dengan masakannya, yang memang terlihat jelas dari meja makan. Ia tertawa kecil, melihat SeulRin yang sedikit menggerutu karena alat dapur yang jatuh akibat kecerobohannya.

‘Dia sepertinya sangat ceroboh. Lucu sekali.’ Batin Donghae geli.

“Kau sepertinya kewalahan. Butuh bantuan?” teriak Donghae dari meja makan. SeulRin menoleh dan langsung mengibas-ngibaskan tangannya kencang.

“Aniya! Kau beristirahat saja!” Jawabnya cepat.

“Yakin?”

“Ne! Sudah selesai kok!” SeulRin berjalan dengan dua piring yang penuh dengan makanan. “Taraaaa!” SeulRin memamerkan gigi-gigi putihnya.

“Wuaa! Daebak!” Donghae menatap sepiring kimchi dan Japchae di depannya dengan berbinar.

“Kau pandai memasak masakan korea ternyata!”  Tangan Donghae menjulur meraih sumpit.

“Eits, panggil dulu HaRin. Sepertinya ia masih di dalam kamar mandi.” SeulRin menahan tangan Donghae yang hendak mengambil kimchi.

“Ah, benar. Aku akan memanggilnya dulu.” Donghae bangkit dari duduknya menuju kamar mandi. Sebelum benar-benar sampai di kamar mandi, Donghae berpapasan dengan HaRin yang sudah selesai mandi.

“Eh?”

“Sudah selesai ternyata. Kajja makan! SeulRin sudah memasakkan masakan yang enak untuk kita.” Donghae menarik tangan HaRin yang masih terdiam. Hati HaRin berdenyut lagi, mengingat adegan Donghae dan SeulRin di dapur.

Tangan Donghae melepas tangan HaRin lalu  menarik kursi untuknya dan untuk HaRin. “Ayo, duduk. Lihat, makanannya terlihat enak bukan?”

HaRin memandang makanan yang berada di depannya. Benar, masakan itu terlihat enak. Bohong jika HaRin mengatakan makanan itu biasa saja. HaRin mengangguk pelan, lalu duduk di kursi sebelah Donghae—kursi favoritenya.

“Nah, ini nasinya!” SeulRin membagikan semangkok nasi dengan senang. “Selamat menikmati!” Ucap SeulRin layaknya seorang pelayan restoran.

SeulRin duduk dihadapan HaRin dan Donghae. Dia mengamati Donghae yang sudah sibuk menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.

“Mashita! Kau memang pandai memasak, walau agak sedikit ceroboh di dalam dapur.” Seru Donghae sembari mengacungkan jempolnya. SeulRin mengangguk dan tertawa kecil, hingga terlihat semburat merah di pipi tirusnya.

“Gomawo. HaRin? Kenapa diam saja? Apa kau sakit?” Ucap dan tanya SeulRin melihat HaRin yang tak kunjung menyentuh makanan buatannya.

HaRin menggeleng pelan,”A-ani. Aku baik-baik saja.” Ia menggeleng cepat, lalu menyumpit japchae buatan SeulRin.

“Bagaimana? Kau suka?” tanya SeulRin penasaran. HaRin tersenyum kecil, lalu mengangguk. “Enak. benar apa kata Oppa, kau pandai memasak!” Jujur HaRin.

“Ah, syukurlah~”

“Mulai saat ini, biar aku saja yang memasak di rumah ini, otte?”

“Hmm, ide bagus!” sahut Donghae dengan mulut yang masih penuh. HaRin mendongak menatap Donghae dengan tatapan tak percaya, tapi ia kembali tundukkan kepalanya.

“Gomawo! Akan kubuatkan makanan yang enak untuk kalian. Ini juga sebagai tanda terima kasih karena kalian sudah menerimaku.”

“Kau tak usah merasa segan di sini. Kau sudah menjadi keluarga kami.” Kata Donghae tulus.

HaRin yang sedang mengunyah kimchi itu, merasakan sesuatu yang sesak di hatinya. Ia tahu, tak seharusnya ia merasakan hal seperti itu. Ia tak seharusnya merasa iri dengan SeulRin. Tapi, dia merasa keberadaannya tersingkirkan oleh SeulRin. Seharusnya ia yang akan memasakkan makanan untuk Donghae. Setidaknya itu hal yang selalu membahagiakan  hatinya. Melihat masakanmu di makan oleh orang yang kita cintai, bukankah sangat membahagiakan?

Sraak’

“Aku selesai.” Ujar HaRin pelan sembari berdiri dari kursinya. Donghae dan SeulRin yang sedari tadi bercakap-cakap menoleh melihat HaRin.

“Waeyo? Kau belum menghabiskan makananmu.” Tanya Donghae bingung.

“Apakah makanannya tidak enak?” Tanya SeulRin dengan wajah yang sedih.

HaRin menggeleng kuat, “A-ani. Masakanmu sangat enak, sungguh. Aku hanya harus mengerjakan tugas dari Kim Songsaengnim. Mianhae.” Ucap haRin cepat.

“Jeongmal?”

“Ne,masakan kau sangat enak.” HaRin tersenyum kecil di sela-sela ucapannya.

“Yasudah, lebih baik kau segera mengerjakan tugasmu, HaRin-ah.” Donghae kembali berucap sembari mengacungkan jempolnya, “Kerjakan yang rajin, oke?” Kekeh Donghae yang dibalas anggukan HaRin.

HaRin berjalan meninggalkan kedua orang yang kembali melanjutkan makan malam mereka. Dia memasuki kamarnya yang di dominasi warna biru. Ia mendesah berat dalam hati. Direbahkannya tubuh ramping miliknya di single bed-nya.

Mengerjakan tugas? Oh, itu hanya alasan klasik yang akan di katakan yeoja berambut sebahu itu untuk menghindari seseorang.

Matanya menatap kosong langit-langit kamar. “Bodoh! Kau merasakan hal yang konyol HaRin.” Ia merutuki diri-nya sendiri. Kenapa dia merasa perlahan-lahan keberadaannya tersingkirkan? Mengapa dia merasa iri pada Seul Rin. Entahlah. Pertanyaan itu pun tak sanggup HaRin jawab. Ia merasa aneh dengan hatinya.

“Kau tak mungkin cemburu dengannya. Dia hanya sebatas ingin membantu menyiapkan makanan. Seharusnya kau berterima kasih. Kenapa malah merasa dia akan merebut semua perhatian Hae Oppa?” Gumamnya tak jelas.

“Haisssh! Kenapa jadi seperti ini sih!” dia mengacak rambutnya kasar.

Drrrt’

Getaran halus terdengar dari atas meja belajar. HaRin melirik ke arah meja belajar tersebut, lalu menghela napas pelan. Terlalu malas untuk berjalan, ia mengabaikan getaran halus yang menandakan ada sebuh pesan masuk di ponselnya.

Ia berguling mencari posisi yang nyaman, untuk merenung. Entah apa yang ingin ia renungkan, yang pasti pikirannya sekarang terasa penuh dengan pikiran-pikiran yang dia sendiri pun tak mengerti.

Drrrt’ Drrttt

Suara getaran itu kembali terdengar, kali ini terdengar lebih lama. HaRin mendecak sebal, pasalnya getaran kali ini menandakan sebuah telfon masuk. HaRin berjalan menuju meja belajarnya lalu meraih ponsel bewarna putih susu itu.

Nomor tak di kenal. Ia mengernyitkan alisnya, sebelum ia memutuskan untuk mematikan panggilan tersebut. “Pasti orang jahil.” Dengusnya lalu melempar ponselnya sembarang ke atas kasur. Dan tubuhnya ia hempaskan di atas kasur. Mencoba menyelami alam bawah sadar.

 

∙ÖÖÖ∙

DongHae POV

Hari semakin larut, waktu dimana seharusnya seorang manusia untuk beristirahat. Setelah acara makan malam tadi, aku bergegas menuju studio kecil-ku ini. Mencoba menyelesaikan instrumen untuk sebuah lagu.

Cklek

“Apa aku boleh masuk?” Sebuah suara menghentikan kegiatanku. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat kepala SeulRin sedang menyembul dari balik pintu. Aku terkekeh melihat tingkahnya, lalu tanganku meng-isyaratkan-nya untuk masuk ke dalam.

Dia tersenyum lebar, dan segera memasuki studio. “Waw, keren! Kau punya studio rekaman sendiri!” SeulRin berdecak kagum dengan mata yang dia bulatkan—terkejut mungkin.

“Hanya studio rekaman mini.” Jawabku di sertai senyum.

“tapi tetap saja keren.” Katanya. “ Kau sedang mengerjakan apa?” tanyanya sembari menghampiriku. Aku memutar kursi untuk dapat berhadapan dengannya.

“Membuat lagu.”

“M-membuat lagu? Kau bisa membuat lagu??” Pekiknya mungkin tanpa sadar. Aku lagi-lagi terkekeh melihat tingkahnya yang cukup—ehmm seperti anak-anak. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Daebakk!” Dia bertepuk tangan kecil. “Aku sangat senang menyanyi, tapi aku tak bisa membuat lagu. Pernah aku mencoba membuat lagu tapi hasilnya terdengar aneh.”

“Itu hal biasa jika kau pertama kali membuat lagu, awalnya aku juga merasa aneh dengan lagu buatanku sendiri.” Timpalku memberinya sebuah motivasi—mungkin. “Kau mau mendengar lagu buatanku?”

Dia mengangguk dengan semangat, “Tentu saja mau!” Aku tersenyum kecil, lalu beranjak mengambil sebuah MP3 yang menyimpan semua lagu-laguku di rak-rak CD kosong.

“Ini coba dengarkan.” Kataku sembari memasangkan sebelah earphone ke telinganya, dan sebelahnya lagi kupasang di telingaku sendiri. Dengan berbagi earphone seperti ini, wajahnya dapat kulihat sangat jelas.

Aku memperhatikan wajahnya, yang kuakui semenjak bertemu dengannya pertama kali di jalan membuatku  tertarik. Dia memejamkan matanya dan tersenyum lembut, menghayati laguku? Entahlah, tapi saat ini darahku berdesir hangat. Telingaku mulai mendengar senandungan kecil yang dikeluarkan mulut mungilnya. Merdu. Suaranya sangat lembut dan… indah. Aku sekarang benar-benar sedang terhipnotis dengan pesonanya.

“Aku sangat menyukai lagu-mu! Lagumu benar-benar membuatku hanyut dalam emosi.” Ucapnya dengan mata yang berbinar. Aku mengerjapkan mataku. Lalu membalas senyumannya.

“Gomawo.” Kataku—Dan yeah, kau juga membuatku hanyut dalam suara dan pesonamu—lanjutku dalam hati.

∙ÖÖÖ∙

 

Author POV

 

“HaRin-ssi!” Namja berambut jatuh  dan bermata sipit itu berlari di sepanjang lorong kelas sembari berteriak memanggil seorang yeoja yang masih sibuk berjalan menuju kelasnya sehabis dari auditorium musik, dengan menggunakan earphone.

“HaRin-ssi!”

“Eh?” HaRin menoleh saat pundaknya merasa disentuh. Namja bermata sipit itu tersenyum di sela-sela acara mengambil napas sebanyak-banyaknya.

“Mianhae Sunbae tanganmu.” Ucap HaRin langsung, merasa risih dan tidak suka ketika tangan namja bermata sipit itu tidak kunjung melepas pundaknya.

“E-oh! Mianhae HaRin-ssi.” Namja bermata sipit itu segera menarik tangannya, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. HaRin melepas earphonenya, lalu berucap, “Ada apa Woohyun Sunbae?”

“Kenapa kemarin tidak mengangkat telepon dariku?”

HaRin mengernyit bingung. Telepon? Batinnya. “Ah!” gumamnya pelan ketika mengingat tadi pagi saat bangun pagi terdapat 2 nomor yang tak dikenal meneleponnya. Mungkin itu nomor Woohyun.

“Mianhae, Aku tertidur.” Kata HaRin, “Memang ada apa?”

“Begini, aku punya berita baik untukmu. Kau tahu saxophone international competition?” HaRin mengangguk dengan yakin. Siapa yang tida tahu perlombaan bergengsi bagi penyuka saxophone dan musik itu? “Sekolah kita akan mengikuti seleksi lomba itu! Dan kau kutunjuk untuk mengikuti lomba tersebut!”

“M-mwo?”

“Ne, kau akan mengikuti seleksi untuk lomba tersebut! Chukkae!” Woohyun menepuk puncak kepala HaRin yang masih terdiam kaget, membuat siswi-siswi yang berada di lorong mendelik sinis tak suka.

Mata HaRin tiba-tiba melebar—sepertinya baru menyadari apa yang diucapkan Woohyun. “Ini bukan mimpi kan?”

“Bukan HaRin-ssi. Ini nyata.” Kalimat Woohyun yang terlontar tadi membuat hati HaRin terlonjak senang. Ia tersenyum lebar dan membungkuk badannya sekilas pada Woohyun.

“Gomawo Sunbae! Aku akan melakukan yang terbaik! Gomawo jeongmal gomawo!” teriak HaRin lalu berlari menyusuri  lorong. Woohyun tersenyum kecil ketika HaRin telah menghilang di balik tembok.

“JINRI!!!!” teriak HaRin setelah sampai di kelasnya. Para namja yang sedang sibuk bermain lempar kertas  seketika menutup telinganya.

“Ya! Jangan berteriak seperti itu!” Protes Sehun.

“AA! Jinrii! Aku punya kabar bagus!” Alih-alih meminta maaf, HaRin malah berlari menghampiri Jinri yang tengah ber-lovey dovey bersama MinHo. Para namja itu hanya bisa menghela napas pasrah melihat kelakuan HaRin yang dasarnya cuek.

“Hey, ada apa sih? Kau berteriak seperti orang utan tau.” Jinri bersedekap dan menatap tajam HaRin—sebagai pelaku keributan tadi dan pengganggu dalam acara suap-mensuap Jinri dan Minho. MinHo yang merasa terganggu juga ikut menganggukkan kepalanya.

“Kau mengganggu acara istirahat kami. Memang ada apa sih?”  Timpal MinHo semakin memojokkan HaRin.

HaRin yang sedang diliputi kebahagiaan itu sama sekali tak menghiraukan protes-protes yang melayang untuknya. Dia mengambil napas pelan, dan membuangnya perlahan.  Ia memajukkan kepalanya kemudian berbisik, “Aku… aku di tunjuk untuk ikut serta dalam Saxophone international Competition!”

“……”

Hening menyelimuti ketiga kepala itu atau mungkin satu kelas 2-C yang sedari tadi tak sengaja mendengar pembicaraan HaRin-Jinri-MinHo karena suara HaRin yang terlalu keras.  HaRin mengernyit, mendapat respon yang tidak diharapkannya. Ia hendak membuka mulutnya, tapi suara nyaring Jinri lebih dulu terdengar.

“Kyaaaa! Apa itu benar??” Pekik Jinri, membuat semua orang kembali tersadar dari keterkagetannya .

“Ne, tentu saja. I-ini juga bagai mimpi bagiku!” HaRin mencubit-cubit pipinya gugup.

“Kyaaa, kau keren HaRin! Chukkaaaae Rinnie~” Jinri memeluk HaRin, sembari mengguncang-guncang bahu HaRin. “Temanku ini memang daebak!”

“HaRin-ah, Chukkae ya! Aku ikut senang!” MinHo yang tadi mengeluarkan aura hitam karena terganggu sekarang ikut larut dalam kebahagian HaRin. Ia ikut memeluk HaRin.

Tau-tau semua yang ada di kelas satu-persatu memberikan selamat untuk HaRin dan ikut memeluk HaRin. “Chukkaee, Nae HaRin-ah!” seru mereka semua, termasuk para namja yang mem-protes teriakan HaRin tadi.

HaRin tersenyum lebar, hatinya terasa hangat mendapat dukungan dari teman-temannya, “Gomawo jeongmal gomawo…” Ucapnya lirih sebelum akhirnya menangis dipelukan teman satu kelasnya.

 

∙ÖÖÖ∙

HaRin berjalan meninggalkan sekolahnya  dengan sepasang earphone di telinganya, dan dengan masih setia menggenggam saxophone kesayangannya. Ia bersenandung kecil mengikuti lagu instrumental yang keluar dari earphonenya. Matahari yang mulai terbenam, tidak menyurutkan hatinya yang menggebu-gebu saat ini.

Tujuannya sekarang adalah pulang cepat ke rumah. Dia tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada kakak tersayangnya atau mungkin kakak tercintanya. Pasti Hae Oppa akan bangga padaku—pikir HaRin. Sudah bertahun-tahun ia melatih kemampuannya bermain saxophone, HaRin yang memang tak punya bakat alami dari lahir harus mengeluarkan usaha ekstra untuk menguasai saxophone, tidak seperti Donghae yang sudah mempunyai bakat alami dalam bermusik.

HaRin tersenyum kecil mengingat perkataan Woohyun di club beberapa jam yang lalu, “Mulai besok kau sudah harus berlatih HaRin-ssi. Sekali lagi chukkae! Kau pasti lolos dalam seleksi antar Sekolah lain. Fighting!” Perkataan itu terngiang-ngiang dalam otaknya, dan selalu sukses membuat HaRin tersenyum kecil.

BRUKK

“YA!!” teriak HaRin ketika seorang namja dengan seenaknya menabrak dan menjatuhkan saxophone-nya.

“Aish.” Umpat namja berambut dark brown yang berantakan.

“Hey! Kau mau kabur kemana bocah?!” satu teriakan yang berasal dari gang sempit di dekat mereka membuat namja itu kembali mengumpat tak jelas. Kakinya melangkah cepat, namun usahanya itu gagal dengan hadangan HaRin yang sudah memungut saxophonenya.

“Mau kemana kau? Sudah menabrak dan menjatuhkan barang orang, malah pergi dan tidak bertanggung jawab! Dasar, tidak sopan!”  HaRin berdecak sebal sembari sesekali mendelik sinis. Namja di depannya ini telah membuat moodnya rusak.

“Aish, menyusahkan!” Umpat namja di depannya lagi, hingga HaRin men-cap orang didepannya ini sangat suka mengumpat.

Sreet

“Hey! Ya! Mau kemana?!” Protes keluar dari mulut mungil HaRin saat tangan namja itu menarik tubuhnya dengan sedikit kasar.

“Cerewet! Ikuti saja, ini mendesak!” Bentak namja di depannya, dan berhasil menutup mulut HaRin. Tangan yang terlihat kurus itu menarik lengan HaRin dengan sedikit paksaan. Namja itu berlari kecil, dan otomatis HaRin mengikutinya berlari kecil, jika tidak mau tubuhnya terseret dengan tidak elit.

HaRin memandang punggung tegap di depannya, ia mengernyitkan dahinya. Dia merasa familiar dengan tubuh namja ini, tapi ia tidak pernah punya kenalan seperti namja di depannya ini. Rambutnya yang jatuh itu terlihat acak.

Tanpa HaRin sadari, mereka sudah berada di gang sempit yang cukup redup. Tangan namja kurus itu melepas lengan HaRin yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Namja kurus itu menoleh ke kanan-kiri, memastikan ahjussi yang mengejarnya sudah menyerah mengejarnya. Dia menghela napas pelan, lalu menyenderkan tubuhnya di tembok gedung tinggi.

Dia menoleh ke samping kanannya dan, “Ah!” seakan keduanya baru tersadar, mereka saling menunjuk dengan jari telunjuk mereka.

HaRin menyipitkan matanya melihat wajah namja kurus itu. Mendapat tatapan seperti itu, si namja kurus itu langsung teringat dengan saxophone HaRin yang terjatuh, “Hmm, sepertinya saxophone-mu itu tidak rusak.” Ucap namja kurus tadi setelah melihat tas kotak hitam itu baik-baik saja.

“Lagipula kenapa kau tiba-tiba muncul di depan gang, membuatku susah untuk menghindar. Jadi itu  bukan kesalahan se—-“

“KAU!” HaRin berteriak memotong perkataan namja di depannya. Dan teriakan itu membuat namja kurus itu berjengit kaget. HaRin menatap tajam orang dihadapannya. Ia ingat! Namja di depannya adalah namja halte yang menyebalkan  tempo hari.

“Aish! Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi namja halte!”  Gerutu HaRin sembari berkacak pinggang. “Menyebalkan!”

“Siapa yang menyebalkan huh? Dan siapa yang namja halte?”

“Tentu saja kau, nappeun namja!”  pekik HaRin tertahan.

“Oh! Aku ingat! Kau yeoja yang dengan seenaknya mengganggu tidurku!” Kata namja itu tajam. “Aish! Dunia ini sempit sekali.”  Umpatnya kesal.

HaRin terdiam sesaat, merasa bersalah mungkin, “T-tapi, itu juga salahmu! Ya salahmu! Kenapa kau tidur di halte seperti itu? Halte bukan untuk tidur, tuan.” Bela HaRin.

“Hah.. terserah kau sajalah!” Namja itu mendelik sinis lalu melangkah pergi meninggalkan HaRin.

“Ya! Mau kemana?! Urusan kita belum selesai!” Kesal HaRin.

“Bukan urusanmu! Ish, kau ini cerewet!”

“Yo! Kwangmin-ah!” Seorang namja berambut hitam pekat dan bermata sipit dan berpakaian seperti pelayan menghampiri namja kurus di depan HaRin.

“Ah, Hyung.”  Namja kurus itu menoleh mendapati dirinya di panggil.

“kenapa ada di sini?”

“Biasa Hyung, suruhan orang ‘itu’ datang lagi.” Jawab Kwangmin santai. Namja sipit berambut hitam itu mengangkat alisnya melihat HaRin yang sepertinya tadi sedang bercakap dengan Kwangmin.

“Nugu? Temanmu?”Tanyanya sembari melirik HaRin.

“Bukan. Hanya orang menyebalkan yang kebetulan bertemu denganku Hyung. Kajja Hyung kita pergi.”

“Oh. Ne kajja.” Balas namja bermata sipit itu yang sebelum tersenyum sopan pada HaRin, lalu mengikuti langkah Kwangmin yang sudah pergi duluan.

HaRin hanya mendengus kesal. Namja itu memang benar-benar menyebalkan. Jangan sampai ia bertemu lagi dengannya. Ia menatap sinis namja berbadan kurus yang telah memasuki sebuah kedai kecil.

“Kwangmin ya namanya..” Gumam HaRin tanpa sadar. Ia melebarkan matanya ketika sadar telah menyebutkan namja menyebalkan itu.

“Ya! Menyebalkan!”

 

∙ÖÖÖ∙

 

Dengan sedikit gontai ia memasuki apartement-nya. Tapi hatinya langsung membaik lagi ketika melihat sepatu milik Donghae sudah bertengger manis di rak sepatu. Ia cepat-cepat menanggalkan sepatunya lalu berjalan cepat menghampiri ruang tengah.

Siiing.

Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Biasanya beberapa hari ini ada seorang yeoja yang selalu meramaikan ruang tengah di jam-jam ini.

HaRin melangkah ke studio mini milik Donghae. Mungkin kakaknya itu sedang sibuk membuat lagu. HaRin tersenyum kecil, memikirkan apa yang akan dikatakan oleh Donghae ketika mendapat kabar gembira ini.

HaRin meraih gagang pintu itu dan membukanya sedikit, tapi gerakannya terhenti ketika namanya disebut-sebut dalam pembicaraan Donghae dengan… SeulRin?

“HaRin, sudah kuanggap sebagai adikku.” Ucap Donghae. “Dia juga sangat menyukai musik karena aku telah memperkenalkan musik padanya dari kecil.”

“Jinjja?” sahut SeulRin antusias.

“Ne. Dia selama ini bercita-cita ingin menjadi pemain saxophone handal.”

“lalu, kenapa kau tidak membuatkan sebuah lagu untuk dia mainkan dengan saxophone-nya?”

Donghae menghela napas pelan, “Dia belum cukup matang. Dia memang sudah cukup bagus untuk menguasai saxophone untuk saat ini. Tapi, dia belum menghasilkan suara yang bagus dan lembut. Dan tanpa kedua suara itu, dia tidak bisa bersaing diluar sana.” Ucap Donghae lagi.

“Oh iya, aku ingin kau menyanyikan lagu buatanku. Suaramu sangat bagus dan lembut. Aku sangat suka.” Lanjut Donghae.

DEG

Tanpa Donghae dan SeulRin sadari pembicaraan mereka membuat hati seseorang berdenyut sakit. HaRin memandang kosong saxophone-nya. Ia melepaskan gagang pintu, dan beranjak meninggalkan apartement-nya.

Usahanya selama ini berarti hanya usaha kosong yang tak membanggakan seorang bernama Donghae. Berarti selama ini Donghae hanya mengatakan hal manis yang tak berarti apa-apa. Di otaknya terngiang-ngiang ucapan-ucapan Donghae tadi dan di masa lalu.

“Kau hebat HaRin-ah! Suara yang keluar dari saxophone-mu bagus, membuat Oppa terhipnotis!”

Satu kalimat yang selalu ia dapatkan dari Donghae, ketika ia berlatih saxophone. Satu kalimat yang membuatnya selalu bersemangat. Satu kalimat yang membuatnya semakin terjerat dengan perasaan cinta pada Donghae.

“Omong kosong..” lirih HaRin dengan turunnya kristal-kristal bening dari matanya.

 

CONTINUE OR END?

Advertisements