title: Grave

Author: Farihadaina

Genre: Romance-family,dll

Cast: HaRin (OC), SeulRin (OC), Donghae (SJ), and Others

rating: G

Length: Chapter

~Fariha’s Fanfiction~

Aku tak mengerti dengan apa yang dinamakan cinta. Perasaan itu sulit untuk dicerna oleh otakku. Tidak seperti not-not balok yang dapat kucerna dalam otakku dan menghasilkan melody yang indah. Mengapa Tuhan menciptakan perasaan seperti ‘cinta’? Perasaan yang bisa mematikan hidup seseorang, yah walau sebagian orang menganggap cinta itu anugrah dari Tuhan yang paling indah.  Rasanya sulit bagi diriku untuk mengerti perasaan yang satu ini. Atau… aku yang tidak ingin mencoba memahaminya?  Entahlah. Tapi kurasa, aku telah mencoba memahami perasaan itu berkali-kali dan hasilnya nihil. Aku sama sekali tidak memahami perasaan itu.

 

∙ÖÖÖ∙

Angin sore yang berhembus pelan, menyibak pelan rambut sebahu milik seorang yeoja berseragam pelajar. Ia berjalan menuju halte bus sembari menenteng kotak panjang berwarna hitam dengan aksen berwarna putih. Dengan langkah pasti, akhirnya ia sampai di halte bus yang terletak agak jauh dari sekolahnya. Ia menghela napas pelan saat tubuhnya telah terduduk di salah satu kursi penumpang bus.

Dengan seksama ia memperhatikan kotak panjang berwarna hitam dengan aksen putih di pangkuannya. Sesaat  ia merasa kesal dengan sang kakak yang menyuruhnya untuk pulang cepat. Jika sang kakak tak menyuruhnya cepat pulang, mungkin ia masih berada di ruang musik sekolahnya, meniupkan nada-nada yang merangkai sebuah melodi.

“Apa boleh buat.” Gumamnya pelan, kemudian memejamkan matanya mendengarkan hembusan angin yang masuk dari jendela bus. Yeoja berambut sebahu hitam ini sangat menikmati suara-suara angin yang berhembus kencang.

Tak butuh waktu setengah jam, yeoja itu turun dari bus. Dengan masih menenteng kotak panjang yang didominasi warna hitam, yeoja itu berjalan pelan dari halte bus—tempatnya turun—menuju  apartement-nya.

“Ehem! Kau terlambat nona kecil.” Dari belakang yeoja itu, seseorang mendaratkan sebuah susu kemasan rasa coklat ke kepala yeoja berambut sebahu itu.

“Kau tahu? Aku sudah menunggumu dari tadi, Park Ha Rin.”

Yeoja berambut sebahu itu—Park Ha Rin– membalikkan badannya ke belakang. Tampak seorang namja yang sedang tersenyum lembut sambil menenteng sekantong plastik berisi bahan-bahan makanan. Ha Rin mendengus kesal.

“Ketika bel berbunyi aku langsung pulang. Bagaimana bisa terlambat pulang? Bahkan sekarang baru jam 4 sore. Jangan-jangan kau lupa jam pulang sekolah ku, eoh?” Jelas Ha Rin sembari mengerucutkan bibirnya kesal.  “Lagipula kau berbohong! Bukannya kau bilang tadi kau menungguku? Buktinya sekarang kau baru pulang belanja!” lanjutnya lagi.

“Aish, adikku ini cerewet sekali! Pertama, aku tidak lupa dengan jam pulang sekolahmu. Jam 3 bukan? Lalu yang kedua, karena menunggumu yang lama jadi aku memutuskan untuk berbelanja bahan makanan dulu.” Jawab sang Oppa, yang bernama Lee Donghae.

“Sudahlah. Jangan cemberut terus, ne?” Donghae menjulurkan susu kemasan rasa coklat yang sedari tadi ia pegang. “Ini. Minumlah.”

Ha Rin mengambil susu kemasan dari tangan Donghae sembari menundukkan kepalanya. “Lalu ada apa? Apa yang penting, eoh?” Tanya Ha Rin sembari menusukkan sedotan pada susu kemasannya.

“Kita bicarakan di rumah, ne? Aku lapar hehe.” Jawab Donghae lalu melenggang santai  menuju apartement mereka. Ha Rin memutar bola matanya kemudian menghela napas.

“Hey! Jangan bengong di situ terus!” Teriak Donghae membuat Ha Rin melangkah mengikuti Donghae. Ha Rin berjalan dengan tangan kanan yang memegang susu kemasan yang lagi diminumnya, dan tangan kirinya yang masih setia menenteng kotak panjang berwarna hitam dan putih itu.

Ha Rin menatap punggung Donghae dari belakang. Tak lama wajah memerahnya. Lalu menggeleng pelan sembari menggenggam kotak panjang tadi dengan erat seperti menahan sesuatu. Mereka sampai di gedung apartement, lalu menaiki lift menuju lantai 3. Dan akhirnya, sampailah  mereka di apartement mereka.

Sepi. Itulah keadaan yang mendeskripsikan suasana apartement mereka. “Cepat, kau buatkan aku makanan. Aku lapar.” Donghae menyerahkan sekantong plastik belanjaannya.

“Baiklah. Tapi bawakan barang bawaan-ku.” Ha Rin menukar kotak panjang tadi, tas-nya, dan susu kesamasan dengan kantong plastic yang diberikan Donghae.

“Aish, barang bawaanmu banyak.” Gerutu Donghae. Ha Rin terkekeh pelan. Lalu beranjak, menuju dapur.  Ha Rin mengeluarkan isi belanjaan Donghae.

“Wortel, rumput laut, ikan salmon, ramyun, susu kemasan rasa strawberry dan coklat, potato snack lalu… Eh? Cuman segini?” Ha Rin  mengeluarkan semua belanjaan yang ada di kantong sampai habis. Ia mendecak kesal melihat belajaan yang di beli Donghae.

“Ya! Kenapa isinya seperti ini? Kenapa bahan masakannya hanya wortel, ikan salmon, rumput laut, dan ramyun? Aku harus masak apa?” gerutu Ha Rin. Ia memutar otaknya, memikirkan menu apa yang akan dia buat.

“Ah! Aku masak sushi saja.” Mendapatkan pencerahan, Ha Rin dengan semangat memakai apron berwarna biru soft. Kemudian berkutat dengan bahan-bahan dan alat-alat dapur. Suara pisau yang menghantam wortel dan ikan salmon terdengar sampai telinga Donghae yang berada di kamar Ha Rin yang berwarna biru soft, putih, dan hitam. Donghae menyimpan kotak panjang dan tas milik Ha Rin.

“Ha Rin semangat sekali memasaknya.” Gumam Donghae  sembari berjalan menuju ruang keluarga. “Dongsaeng-ku memang sangat ceria.” Ucapnya lagi sambil tersenyum. Kemudian, menyalakan televisi.

∙ÖÖÖ∙

Ha Rin POV

Aku berjalan dengan handuk yang melingkar di leher untuk mengeringkan rambutku yang basah. Setelah memasak makanan buat Oppa-ku yang terkadang suka seenaknya itu, aku memutuskan untuk mandi.

“Ha Rin-ah! Cepat kemari, aku sudah lapar. Kau mandi lama sekali.” Teriak  Hae Oppa dari ruang makan.

“Ne!” jawabku singkat, sembari terus melangkah ke ruang makan. Aish, ternyata dia belum memakannya satupun. Kenapa tidak duluan saja? Hae Oppa malah menatap makanan yang tersaji seakan-akan makanan itu akan hilang ketika ia berpaling sedikit saja.

“Kenapa gak makan duluan sih Oppa.” Tuturku lalu menarik kursi didepan Hae Oppa kemudian mendudukinya.

“Aku kan pengen makan bareng dongsaeng-ku. Masa tidak boleh?” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang tersaji di depannya. Aku terhenyak mendengar kata ‘dongsaeng’ keluar dari mulutnya.

“Aku makan ya! Huaa.. mashita! Kau memang pintar masak.”

Aku memandangnya yang dengan semangat memakan masakanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Aku memang hanya dongsaeng-nya. Mau berharap apa lagi? Di anggap menjadi dongsaeng saja aku sudah beruntung.

“Kau tidak makan? Ayo cepat makan.” Sahutnya di sela-sela mengunyah. Akhirnya aku mengambil sumpit, lalu mengambil sepotong sushi.

“Sup rumput lautnya juga enak.”

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum tulus. Hae Oppa terlihat seperti anak kecil, walau usianya lebih tua 4 tahun dariku.

“Aku selesai. Gomawo atas masakannya.” Hae Oppa lebih dulu menghabiskan makanannya. Kemudian memperhatikanku yang sedang mengunyah.

“W-waeyo?” Tanyaku risih diperhatikan terus oleh Hae Oppa. Hae Oppa beranjak dari kursinya, lalu berjalan menghampiriku. Kemudian Hae Oppa meraih handuk yang melingkar di leherku dari belakang. Aku mendongakkan kepalaku, penasaran dengan apa yang di lakukan Hae Oppa.

Sreet’

“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku terbata lalu menundukkan kepalaku dalam, ketika Hae Oppa mengeringkan rambutku lembut dengan handuk.

“Aku? Tentu saja mengeringkan rambutmu yang basah ini. Aku tahu kau suka membiarkan rambut yang basah setelah keramas kering dengan sendirinya, tapi ini sudah malam. Nanti kau bisa masuk angin.” Jelasnya sembari terus mengusap handuk itu pada rambut sebahuku dengan lembut. Aku semakin menundukkan kepalaku dalam, jantungku berpacu cepat, wajahku mungkin sudah memerah sekarang. Kumohon, seseorang tolong bilang padaku bahwa  perasaan yang kurasakan pada Hae Oppa itu tidak salah. Ya, aku jatuh cinta pada Oppa-ku sendiri. Namja bernama Lee Donghae. Namja yang lebih tua dariku tapi kadang sifatnya kekanakan. Namja lembut yang murah senyum.

“O-oppa.. biar aku saja yang mengeringkannya setelah makan.” Ujarku pelan, meredam kegugupan yang menyerang diriku.

“Ani! Kau itu kalau makan sangat lama. Mana mungkin, aku membiarkan dongsaeng ke

Advertisements