Author: FariHadaina/ Park Ha  Rin

Title: Because I love You

Cast: Jo Kwangmin (Boyfriend)

Hanna Park (OC)

Choi MinHo (Shinee)

Sangmoon (OC)

Lee Gikwang (Beast)

Support cast: Find it in this story 

Genre: Romance, Family, Life

Rating: G

~FariHadaina’s Fanfiction~

.

.

“Kau mau kemana? Kenapa kau tiba-tiba panik seperti itu?” Tanya Kwangmin-ssi bertubi-tubi, ia memandangku dengan khawatir. Aku lupa jika sedang bersama Kwangmin-ssi. Aku melepaskan tangannya.

“Mianhae, aku harus pergi duluan. Kau bisa bawa tempat bekalku. Annyeong.” Ucapku cepat lalu berlalu pergi. Secepat mungkin aku harus membawa Lenata kembali. Aku tak mau Lenata di bawa pergi oleh keluarga namja brengsek itu.

.

.

Ch. 2

Tangan mungil itu menggenggam tangan seorang wanita tua yang terus membawanya entah kemana. Bahkan pemilik tangan mungil itu tak mengenal siapa wanita tua yang membawanya pergi dari sekolahnya. Gerakan wanita tua itu terkesan buru-buru, entah apa yang membuatnya seperti itu.

“Lenata, ayo naik.” Wanita tua itu tersenyum sembari mengiring Yeoja kecil bernama Lenata itu naik ke mobilnya. Lenata menatap wanita tua yang mungkin sebaya dengan halmoni-nya dengan bingung.

“Halmoni ciapa?” tanyanya singkat dengan logat cadel.

“Tentu saja Halmoni-mu chagi. Nah, ayo naik. Halmoni akan mengajakmu ke suatu tempat.” Wanita tua itu menggedong Lenata lalu mendudukkannya di kursi penumpang di susul dengannya.

“Kita mau kemana Nyonya?” seorang pria paruh baya menoleh ke belakang, menunggu instruksi dari sang Nyonya besar.

“Pulang ke rumah.” Singkat wanita tua tadi.

Lenata masih setia menatap sekelilingnya bingung. ‘Halmoni? Tapi Halmoni Lenata kan bukan ceperti ini. Lenata kan cuman punya catu Halmoni.’ Pikirnya bingung.

Mobil mulai beranjak dari halaman sekolah Lenata, bergerak membawa seorang yeoja paruh baya dan seorang anak kecil mungil yang terduduk manis didalamnya.

Tak ada percakapan yang terjadi. Lenata sibuk memandang pemandangan kota Seoul, sedang yeoja paruh baya itu memilih untuk memejamkan matanya. Gedung-gedung tinggi menjulang membelah langit membuat mata Lenata berbinar. Jarang ia melihat gedung-gedung tinggi di kota-nya dulu, Busan.

“Nyonya kita sudah sampai.” Ujar ahjussi paruh baya membuat mata yeoja paruh baya itu terbuka dan menampakkan pancaran angkuh.

Yeoja paruh baya itu turun dari mobil, setelah sebelumnya Ahjussi—supir tadi—membukakan pintu untuknya. Lenata yang masih bingung memilih untuk mengikuti yeoja paruh baya yang mengaku sebagai halmoni-nya.

“Kemari chagi.” Ajaknya sembari menggandeng tangan mungil Lenata. Sebuah rumah yang mewah dan terkesan minimalis.Halaman yang besar di Tanami berbagai tanaman hias. Bisa dibilang ini bukan rumah sembarang orang.

“Hmm, ini rumah ciapa halmoni?” Tanya Lenata ragu.

“Ini rumah halmoni, dan tentu saja rumah ini milik Ap—“

“Lenata!” Seru seseorang menginterupsi penuturan yeoja paruh baya itu.

“Eomma!” teriak Lenata senang kemudian berlari menghampiri Eomma-nya.  Yeoja paruh baya itu mendengus kesal melihat Hanna.

“Sayang, kau tak apa?” Tanya Hanna dengan nada khawatir yang kentara. Hanna mensejajarkan tingginya dengan Lenata dan menangkup pipi Lenata.

“Ne, aku tidak kenapa-kenapa Eomma. Waeyo?” Tanya Lenata bingung ketika melihat raut ketakutan di wajah Eommanya. Hanna hanya menggeleng lalu menghela napas lega, setidaknya yeoja yang membawa Lenata tidak menyakitinya.

“Sudah lama tidak bertemu Hanna-ssi.” Sahut yeoja paruh baya itu dengan nada angkuhnya. Hanna kembali berdiri, dan menatap yeoja paruh baya itu sopan namun tajam.

“Kalau saja kau tidak datang, mungkin aku sudah membawa Lenata pada Ap—“

“Mianhae Nyonya Lee, sepertinya saya harus pulang sekarang. Maaf jika saya mengganggu anda. Saya permisi.” Kalimat yang sarat akan ketegasan itu memotong ucapan Nyonya Lee. Hanna menggendong Lenata kemudian beranjak dari tempat yang baginya bagai neraka.

“Eomma.. kenapa wajah Eomma sepelti yang malah? Apa Eomma malah cama Lenata?” tanya Lenata takut-takut dalam gendongan Hanna.

“Ani sayang. Eomma tidak marah pada Lenata.” Hanna mengelus kepala Lenata lembut penuh ketulusan.

“Jinjja?”

“Ne chagi.. sekarang kita pulang, ne?”

“Ne. Kajja kita pulang!”

Hanna mendudukkan Lenata di bangku samping kemudi, lalu menjalankan mobil dengan hati-hati.

“Oh ya, tadi itu ciapa Eomma? Maca dia bilang, dia Halmoni-nya Lenata. Lenata kan cuman punya catu Halmoni, yaitu Halmoni Palk.”

“jinjja? Dia bilang begitu pada Lenata?” respon Hanna sembari masih memperhatikan jalan.

“Ne.” jawab Lenata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu jangan dipikirkan ya sayang. Dia hanya kenalan Eomma.” Jawab Hanna tenang. Lenata hanya mengagguk-anggukkan kepalanya mengerti.

‘Maafkan Eomma sayang. Eomma harus berbohong padamu. Ini yang terbaik untuk kita, ya setidaknya menurut Eomma. Kuharap kau bisa mengerti.’Batin Hanna sembari tersenyum miris.

 

∙ÖÖÖ∙

Kwangmin memacu motornya dengan kecepatan yang—yah bisa dibilang cepat. Setelah tragedy di tinggalnya ia oleh Hanna yang terlihat begitu panic, Kwangmin memilih mencari objek foto yang bagus di Seoul. Sekalian mencari lokasi foto yang bagus untuk proyeknya bersama ScHon Magazine.

Sedikit shock ketika dia ditinggal Hanna tadi. Apalagi dengan keadaan Hanna yang begitu panik setelah mendapat telepon entah dari siapa. Apakah ada sesuatu hal yang buruk terjadi?—pikir Kwangmin. Tapi, melihat wajahnya yang begitu panik, Kwangmin merasakan hal yang sama juga, ia jadi ikut panik. Padahal ia tidak tahu apa yang terjadi

Padahal Kwangmin masih ingin menghabiskan waktu bersama yeoja itu. Entahlah, dari awal bertemu ada sesuatu yang menarik perhatian Kwangmin dari yeoja bernama Hanna itu.  Bukan karena wajahnya saja. Jika bicara soal wajah, Hanna memang terlihat cantik, anggun, dan penuh kedewasaan. Tapi, ada sesuatu dalam diri Hanna yang menarik perhatian Kwangmin. Sesuatu yang tersembunyi dalam wajah cantik dan manis miliknya.

“Haah.. aku benar-benar penasaran.” Gumamnya pelan.

Kwangmin menghentikan motor sport-nya di area taman yang cukup sepi. Air mancur yang berdiri di tengah-tengah taman, di sekelilingnya di simpan bangku-bangku taman yang di selingi lampu taman. Pohon-pohon rindang, menahan sinar matahari yang menyorot dari atas. Di area taman itu juga ada dinding tak utuh—yang memang disengaja untuk interior—yang terletak acak. Dinding itu sepertinya berfungsi untuk menyalurkan bakat-bakat seni, terbukti dari penuhnya dinding itu dengan coretan-coretan artistic.

Kwangmin melepas helm yang hampir menutupi semua kepalanya dan menyimpannya di bagasi motor. Kepalanya bergerak kanan-kiri menilik setiap sudut area taman tersebut sembari melangkah pelan.

“Tunggu…” Gumam Kwangmin bersamaan dengan langkah kakinya yang berhenti.

“Sepertinya aku mengenal tempat ini.”

Kwangmin menoleh kanan-kiri memastikan ingatannya tentang tempat ini. Satu objek tertangkap iris coklat-nya, objek yang meyakinkan bahwa tempat ini adalah tempat yang selalu menyimpan kenangan-nya bersama… dia.

Tiba-tiba banyak perasaan berkecamuk di benaknya, yang Kwangmin tahu pasti alasannya. Ia menggeram kecil mengingat kenangan dan perasaan tololnya pada waktu itu.

Jika saja ia tidak merasakan perasaan itu, mungkin keadaan sekarang akan jauh lebih baik. Tapi, itu hanya sebuah pengandaian yang terkesan penyesalan, bukan?

Kwangmin memilih menghilangkan kenangan-kenangan masa lalunya setelah sebelumnya menghembuskan napasnya pelan. Awalnya ini tempat yang menarik untuk dijadikan pilihan pengambilan foto untuk ScHon magazine, tapi sepertinya niatan awal Kwangmin menguap ketika mengingat tempat ini.

“Oh, ayolah. Kenapa aku jadi bertindak tidak professional? Konyol.” Gerutunya kecil.

  ∙ÖÖÖ∙

Sangmoon berjalan menuruni anak tangga kecil di depan gedung fakultasnya. Jas lab berwarna putih masih setia menempel di badannya. Tangannya membawa beberapa buku tebal dan berat yang tidak cukup di masukkan ke dalam tasnya.

“Mahasiswa kedokteran memang selalu terlihat sibuk, “ celetuk seseorang dari belakang Sangmoon. Sangmoon menoleh kebelakang sekilas, lalu mendesah pelan.

“Sepertinya kau tidak mengharapkan kehadiranku sekarang, eoh?”

“Mmm, mungkin.” Jawab Sangmoon acuh tak acuh.

“Suasana hatimu sedang buruk?” Mereka berjalan beriringan—mungkin lebih tepatnya seseorang itulah yang mengikuti Sangmoon. Sangmoon lagi-lagi mendesah pelan.

“Choi MinHo, jangan semakin memperburuk suasana hatiku, oke?” Sangmoon memandang MinHo dengan ekspresi datar.

“Baiklah.” Jawab MinHo pelan. “Kau mau kemana?” tanya MinHo ketika mereka sudah melanjutkan langkah.

“Ke taman,” sahutnya pendek. Sebelum MinHo membuka mulut untuk menyela, Sangmoon lebih dulu berucap, “Mempelajari buku-buku ini sebelum praktikum.”

“Ku temani?” tawar MinHo halus.

Sangmoon melirik MinHo sinis, “Kau tidak bermain sepak  bola hari ini?” tanya Sangmoon sembari mendelik.

“Tidak. Semua temanku sibuk dengan urusan masing-masing hari ini.”

“Berlatih dance?”

“Tidak ada jadwal hari ini.”

“Mengerjakan tugas dari dosenmu?”

“mm tidak ada tugas. Seharusnya kau tahu jika Fakultas  Seni tidak memberikan tugas yang banyak,” MinHo berucap dengan nada puas. Ia berhenti lalu menghadap Sangmoon, membuat Sangmoon menghentikan langkahnya.

“Apa?”

“Jadi, kau mau kutemani?”

“Baiklah..” Akhirnya Sangmoon menyerah menghadapi kekerasan kepala MinHo. Ia sadar MinHo selalu berusaha berada disampingnya, entah karena apa. Sangmoon mengernyit ke depan, ke arah MinHo, bukan lebih tepatnya pada seorang namja yang berada jauh di belakang MinHo.

“Kwangmin..” gumamnya sangat pelan. Sangmoon menggeser posisi tubuh MinHo pelan. Ia menyipitkan matanya, guna meperjelas penglihatannya. Kwangmin yang tengah berdiri di tengah-tengah taman, tengah menggeleng-geleng pelan kemudian pergi meninggalkan taman itu.

Sangmoon memejamkan matanya. Dia tak mau melihat sosok itu, ataupun mengingat sosok itu setidaknya untuk saat ini. Oh, tapi itu semua sudah terlambat. Dia sudah melihat sosok tegap Kwangmin yang berdiri di taman yang penuh dengan kenangan dirinya dan juga bagi Kwangmin. Perasaannya sangat buruk sekarang.

“Sangmoon?” Panggil MinHo menyentaknya keluar dari lamunannya. “Kau kenapa? Aneh sekali. Apa yang kau lihat?” MinHo mengikuti arah pandang Sangmoon yang telah membuka matanya.

“Eh? Apa?” Sahut Sangmoon linglung. Minho mengangkat alisnya bingung.

“Kau aneh Sangmoon. Ada apa?”

“Ti-tidak ada. Sebaiknya kau pulang MinHo, aku tidak jadi pergi ke taman. Aku akan langsung menunggu  giliran praktikum.” Ujar Sangmoon dingin, lalu berbalik badan, dan melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju gedung.

“Eh? Waeyo?” MinHo berlari kecil menyusul Sangmoon yang sudah berjalan cepat.

“Oh, Ya Tuhan berhenti mengikutiku  terus Choi MinHo! Setidaknya untuk hari ini!” Kesal Sangmoon dengan tatapan yang berkilat marah. MinHo terdiam melihat tatapan Sangmoon yang begitu marah. MinHo baru pertama kali melihatnya. Sangmoon melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti dan meninggalkan MinHo.

Suasana Hatinya sedang sangat buruk rupanya.

 

∙ÖÖÖ∙

MinHo terdiam menatap punggung Sangmoon yang menjauh. Dia sangat yakin ada sesuatu yang dilihat oleh Sangmoon. Dan pasti yang dilihatnya itu adalah sesuatu hal yang buruk. Pasalnya MinHo tidak pernah melihat Sangmoon membentak atau marah—yah, walaupun Sangmoon selalu mengacuhkannya atau dingin terhadapnya.

Tapi, dengan segala keyakinan yang MinHo punya, selama ini ia percaya di balik sikap  Sangmoon yang luar bisa cuek dan dingin, ada sikap manis, ceria, dan hangat yang terkubur dalam dirinya. Terbukti beberapa bulan yang lalu ketika dia mengajak—mungkin lebih tepatnya memaksa—Sangmoon menemaninya makan di cafee dekat kampus, tanpa sengaja MinHo melihat Sangmoon tengah tersenyum tulus  melihat sepasang remaja yang tengah berpegangan tangan memasuki cafee tersebut.  Walaupun kejadian langka itu tidak berlangsung lama, tapi dari saat itu MinHo percaya Sangmoon bukanlah orang yang kaku dan dingin.

MinHo tidak tahu apa yang menjadi penyebab Sangmoon seperti itu. Tapi, rasanya dia ingin terus menjaga Sangmoon dan membuatnya menjadi dirinya sendiri yang hangat, ceria, dan manis.

Deringan ponsel  menghentikan lamunan panjangnya. Dia meraih ponselnya tersebut lalu mengangkatnya.

“Waeyo?”

“Kau bilang ‘waeyo?’ eoh? Kenapa kau kabur dari latihan dance?! Cepat ke sini sekarang! Sebentar lagi kita akan mengikuti kompetisi!” Teriakan dari seberang telpon terdengar sangat nyaring, hingga MinHo harus menjauhkan ponselnya dari telinga miliknya, jika ia tidak mau tuli mendadak.

“A-ah itu, ta-tadi aku—“

“Simpan alasanmu ketika kau sudah sampai di sini!”

“Haah, baiklah aku ke sana.” MinHo menutup sambungan telpon. Dia mendesah pelan. Dia akan mendapat masalah besar, bukan?  Dan usaha dia untuk bertemu dengan Sangmoon dan kabur di tengah-tengah latihan dance, rasanya sia-sia.

 

∙ÖÖÖ∙

Hanna memijat keningnya pelan. Kepalanya terasa berat. Dia tidak mengira Nyonya Lee akan bertindak secepat ini. Ternyata memutuskan untuk pindah ke Seoul bukan pilihan yang bagus. Keluarga Lee memang punya kekuasaan untuk mendapat informasi secepatnya dan melakukan apapun.

“Tidak anak tidak orang tuanya, semua berperangai sama.” Dengus Hanna kesal. Lalu ia menatap sendu Lenata yang tertidur di ranjangnya.

Satu-satunya barang yang berharga bagi Hanna, dia tak ingin menyerahkannya, dia harus mempertahankannya. Hanna beringsut mendekat pada Lenata, lalu merengkuhnya pelan. Dia tak mau kehilangan anak yang diperjuangkan kelahirannya setengah mati. Dia sangat menyayangi anaknya.

“Eumm, Eomma?” Lenata bergerak kecil dalam rengkuhan Hanna. Hanna melepaskan pelukannya, dan tersenyum lembut.

“Mianhae Eomma menganggu tidurmu sayang.”

Lenata menggeleng pelan, “Ani Eomma! Lenata bangun karena di mimpi Lenata, Lenata bertemu dengan Appa!” Seru Lenata antusias. Badan Hanna menegang mendengar penuturan anaknya.

“Tapi, wajah Appa Lenata tidak begicu jelas.” Lenata menatap Eomma dengan mata bulatnya.

“Jinjja?” respon Hanna singkat.

“Heum!” Lenata mengangguk semangat.

“Kalau begitu, apa Lenata mau ice cream?”

“Ec kelim?”

“Ne, ice cream.” Hanna meyakinkan sekali lagi anaknya.

“Tentu!”

“Kajja, sebelum cafe-nya tutup.” Hanna menggedong Lenata, melesat pergi ke luar apartementnya. Apa Hanna pandai berkilah? Ya tentu saja. Selama ini, dia berkilah ketika Lenata menanyakan keberadaan ayahnya.

“Eomma nanti belikan Lenata Ec kelim rasa coklat dan vanilla dua tumpuk, ne?” minta Lenata dengan suara polosnya sesampainya mereka didepan mobil audi hitam milik Hanna.

“Dengan senang hati sayang.” Sahut Hanna lembut. Dia mendudukkan Lenata dikursi penumpang—sebelah kursi pengemudi.

“Lenata juga mau menambahkan topping yang banyak!”

“Tentu saja sayang.” Jawab Hanna ketika ia sukses duduk di kursi pengemudi. “Nah, Lenata siap?” Lenata mengangguk antusias.

“Sabuk pengaman?”

Cklek, “Cudah !” Jawab Lenata setelah memasang sabuk pengamannya.

“Oke! Kita pergi!” Kata Hanna penuh dengan semangat. Dia menstater mobilnya, memasukkan perseneling, dan menginjak gas.

“Ayo!” Lenata tertawa senang, membayangkan setumpuk ice cream dengan  topping bertebaran yang akan ia dapatkan di sore hari ini.

Hanna melihat Lenata dari sudut matanya, dan tanpa sadar lengkungan kecil di bibirnya terbentuk. Salah satu sumber kebahagiannya ketika di masa sulit, kini sedang tertawa senang, dan mau tak mau Hanna merasakan kebahagiannya. Jangan bilang itu berlebihan, karena itu memang benar-benar terjadi padanya.

“Eomma!”

“Hmm?”

“Di Ceoul banyak gedung-gedung tinggi! Lenata cuka! Kelen!” cerocos Lenata, masih memandangi gedung-gedung yang dilewati mereka.

“Apa yang membuatmu suka pada gedung-gedung tinggi, hmm?”

Molla. Tapi Lenata cuka!”

“Benarkah? Apa Lenata mau masuk ke dalam gedung tinggi seperti itu?”

Ne! Lenata mau Eomma!” Lenata menatap Hanna dengan pandangan berbinar. Senyumnya terkembang lebar di wajah mungilnya.

Mobil berhenti di free parking di sekitar Myoengdong. “Kalau begitu nanti Eomma akan membawa Lenata ke tempat kerja Eomma.”

Ne, Eomma! Gomawo!” Lenata melepas sabuk pengamannya lalu berhambur memeluk sang  ibu erat. Hanna mengangguk dengan senyumannya.

“Kajja kita turun sudah sampai.” Hanna mengangkat tubuh Lenata, dan mengembalikkannya ke kursi penumpang. Hanna melepas sabuk pengamannya, kemudian mengisyaratkan Lenata untuk turun dari mobil.

Mereka berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan Myoengndong. Hanna sesekali merapatkan white coat-nya. Sesuai perkiraan Hanna, udara malam ini tidak akan bersahabat, mengingat beberapa hari lagi Seoul akan memasuki musim dingin.

Cliing

“Selamat datang!” pelayan penjaga pintu itu berkata riang bersamaan dengan suara lonceng—yang berarti ada pengunjung yang datang—ketika Hanna dan Lenata memasuki Café  bѐnѐ. Hanna memberikan senyuman kecilnya pada pelayan penjaga pintu itu.

Café minimalis dengan warna putih dan cream yang mendominasi café tersebut. Sebagian besar pengunjung café ini anak-anak remaja dan para mahasiswa yang menghabiskan waktu malamnya bersama teman, ataupun kekasih mereka. Kursi-kursi sofa yang nyaman dan empuk menjadi pilihan favorite untuk duduk ketimbang kursi yang terbuat dari kayu.

Hanna menggiring Lenata menuju bangku yang terletak di pojok dekat dengan kaca jendela yang besar. “Ayo, kau mau pesan apa sayang?” Hanna menjulurkan buku menu yang sudah tersedia di atas meja.

“Hmm,” Lenata membolak-balikkan halaman pada buku menu itu. “Aku mau yang ini!” Lenata menunjukkan gambar waffle tebal yang berisi Ice cream vanilla di atas waffle,ice cream coklat dengan dua scoop. Chocochip, chaca berwarna-warni dan saus coklat menghias bagian atas waffle dan ice cream coklat itu.

“Pilihan yang bagus sayang.” Hanna mengangkat tangannya mengisyaratkan agar pelayan menghampirinya. Pelayan wanita dengan rok berample tebal, bagian lengannya di buat menggembung, dan renda pink putih tertempel di bagian pinggang seragam itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.

“Saya pesan 1 ice cream with waffle choco sauce dan 1 strawberry cooler. “  Jawab Hanna ramah.

“Baik, tunggu sebentar.” Pelayan wanita itu melesat pergi memberikan pesanan Hanna dan Lenata pada sang koki.

Lenata sudah bermain dengan pajangan berbentuk boneka di dekat mereka duduk. Sedangkan Hanna memilih untuk memandang langit yang sudah berwarna oranye, pertanda bahwa sang matahari akan segera berganti dengan bulan.

“Hai.” Sebuah suara menyapa Hanna. Hanna menoleh dan mendapati seorang namja berambut dark-brown.

“Kwangmin-ssi?”

“Ne. Kebetulan sekali kita bertemu lagi disini,” Kwangmin menduduki kursi di depan Hanna. “Tadi, kukira kau adalah mahasiswa. Tapi, ketika ku lihat lebih jelas lagi ternyata kau.”

Hanna tertawa kaku mendengar penuturan Kwangmin, “Kuanggap itu sebagai pujian, Kwangmin-ssi.” Sahutnya. Kwangmin tertawa kecil, lalu menatap Hanna lembut.

“Itu memang pujian.” Jawab Kwangmin ringan sembari tersenyum manis yang mungkin bisa melelehkan hati para gadis di café ini.

Lalu, bagaimana dengan reaksi Hanna ketika melihat senyuman Kwangmin itu? dan jawabannya adalah terkejut. Terkejut karena ketampanannya? Oh, tentu saja bukan. Dia terkejut melihat senyuman Kwangmin yang mirip dengan orang yang dibencinya dan juga yang dia…. Cintai? Oke, coret untuk kata-kata terakhir tadi. Hanna masih waras untuk mencintai namja itu—walaupun mungkin dalam hatinya berkata lain.

“Hey, kau kenapa?” Kwangmin menaikkan alisnya bingung. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Hanna. Mata Hanna mengerjap-ngerjap pelan. Dan langsung menggeleng pelan dengan senyum yang dipaksakan.

“Gwenchana.” Singkat Hanna.

“Ta—“

“Permisi, ini pesanan anda. Apakah ada yang ingin di pesan lagi?” Rasanya Hanna ingin sekali berterima kasih pada pelayan wanita yang mengatarkan pesanannya, membuat pembicaraan berganti topik.

“Kwangmin-ssi, kau mau pesan?”

“A-ah, mungkin black coffee.”

“Baik, tunggu sebentar.” Pelayan tadi kemudian beranjak menuju dapur.

“Kau datang sendiri atau.. dengan seseorang?” tanya Kwangmin ragu.

“Aku datang berdua,” Hanna menyedot minuman berwarna pink itu perlahan, lalu ia melanjutkan, “Lenata! Kemari sayang. Ice cream-mu sudah datang.”

Anak dengan pakaian kaus berwarna merah muda dibalut dengan mantel berbulu itu mengalihkan pandangan dari pajangan berbentuk boneka pada Hanna.

“Ne, mom!” teriaknya lalu belari menghampiri mejanya. Ia memiringkan kepalanya bingung ketika melihat sosok yang terasa familiar dengan ingatannya duduk di bangku yang ia duduki tadi.

“Ah! Ahjussi bandala!” seru Lenata riang. Ia menubruk Kwangmin lalu memeluknya. Kwangmin yang kaget hampir terjungkal ke belakang, tapi dengan sigap ia menyeimbangkan kembali tubuhnya.

“Cake yang kau belikan lasanya enak cekali! Gomawo ahjucci!” Lenata menatap Kwangmin dengan mata yang berkilat senang. Kwangmin hanya tersenyum menanggapi perkataan Lenata lalu menepuk puncak kepala Lenata lembut.

“kukira kau datang sendirian, ternyata kau datang bersama adikmu.” Lega Kwangmin. Hey, untuk sesaat ia tadi berpikir Hanna datang dengan seorang pria. Lenata menyamankan posisinya di pangkuan Kwangmin lalu sibuk melahap ice cream-nya.

Hanna mendengus sebal, “Sudah kubilang Lenata bukan adikku, tapi anakku!” Sergah Hanna dingin. Kwangmin mengangkat alisnya bingung, dan sedetik kemudian ia tersenyum kaku.

“a-ah! Mianhae Hanna-ssi. Aku masih tidak percaya kau sudah memiliki anak.” Jujur Kwangmin yang terdengar kikuk.

Hanna menyeruput kembali strawberry cooler-nya lalu menatap Lenata dalam.

“Kau marah?”

“Apa?”

“Kau marah padaku?” tanya Kwangmin lagi dengan lebih jelas. Hanna menatap Kwangmin lalu cepat-cepat mengalihkannya. Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak.”

“untuk apa aku marah?”

“Entahlah. Kau telihat sedikit kacau.” Ucap Kwangmin setelah pelayan wanita mengantarkan pesanannya. Dia menghirup aroma black coffee dengan susah payah, mengingat Lenata yang masih setia terduduk di pangkuan Kwangmin, tengah asyik dengan ice cream-nya.

“Aku baik-baik saja.” Singkat Hanna dengan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ternyata langit sudah gelap, menandakan waktu sudah malam. Tanpa sadar Hanna menghela napas keras. Hatinya merasakan gelisah sepanjang sisa hari ini. Takut, beberapa jam kemudian atau bisa berapa detik kemudian seseorang merampas harta berharganya.

Kwangmin meletakkan cangkirnya, lalu mulai meladeni permainan ocehan Lenata dengan mulut penuhnya. Sungguh lucu dan menggemaskan.

‘Jangan seperti itu!’ batin Hanna lirih. ‘Jangan berbuat hal yang sama dengan orang itu! Kumohon!’

Lenata terkikik pelan mendengar lelucon ringan yang dilontarkan Kwangmin. Dengan mulut penuh ice cream Lenata menggelitik Kwangmin dengan tangan jahilnya.

“Lenata stop!” Suara tertahan keluar dari mulut Hanna. Kwangmin memandang Hanna bingung.

“W-waeyo Mom?” Suara Lenata mulai bergetar takut, melihat wajah Eomma-nya yang menahan kesal.

“Jangan berbuat yang tidak sopan pada orang lain! Kajja kita pulang!” Hanna beranjak dari duduknya lalu dengan sigap mengambil alih Lenata dari pangkuan Kwangmin.

“Ta-tapi Mom! Lenata belum mau pulang!” Rengek Lenata. Hannna menggeleng cepat. “Kwangmin-ssi, mianhae. Saya pergi duluan.”

“Eh? Kenapa?” Kwangmin berdiri dari kursinya.

“Gwenchana. Saya permisi.” Hanna membungkukkan badannya lalu berlalu pergi. Kwangmin memandang aneh punggung Hanna yang menjauh dan hilang diantara kerumunan orang.

“Apa yang dia pikirkan sih?” Kwangmin menggaruk kepalanya asal.

∙ÖÖÖ∙

“Fiuhh~ Lelah sekali!” Keluh MinHo sambil mendudukkan tubuhnya di lantai kayu. Dia mengelap keringat yang mengucur deras di pelipisnya. Baru saja dia menyelesaikan latihan  dance-nya bersama rekan-rekan lainnya.

“Hey! Kau tak pulang?” Seru seseorang yang baru saja memasuki ruangan dance. MinHo menoleh lemas, lalu mendesah pelan melihat siapa yang datang.

“Ya! Sepertinya kau tak suka melihatku datang.” Orang itu meninju bahu MinHo pelan.

“Aish, Hyung kenapa ada disini?”

“Ya! Kau mengusirku, eoh? Dasar bocah tak tahu malu!”

“A-Ah! Mianhae Gikwang Hyung! Hentikan!” Rintih MinHo ketika tangan Gikwang menjitak kepalanya berkali-kali.

“Aih, sakit tau hyung!” cicit MinHo dengan wajah  cemberut.  Gikwang tersenyum kecil lalu mengacak rambut hoobae-nya.

“Hyung??”

“Hmm..”

“Kenapa kali ini Hyung tidak ikut perlombaan bersama kami?”  tanya MinHo ragu, takut menyinggung perasaaan Gikwang.

“Haah, kau tau kan, Eomma-ku menyerahkan semua asset perusahaan mendiang Appa-ku.  Itu sebabnya aku berhenti menari dan memilih bergerak dibelakangnya dengan mngurus sekolah dance ini.” Aku Gikwang enteng.

“Lagi pula, ada sesuatu yang ingin kuraih kembali. Dengan posisiku yang sekarang ini, mungkin aku bisa mendapatkannya lagi.”

“Apa maksud Hyung?” Alis MinHo berkerut bingung.

“Sudahlah, kau masih kecil, tak akan mengerti.” Jawab Gikwang dengan nada mengejek.

“Ya! Hyung aku sudah besar!” sanggah MinHo sebal. MinHo meneguk air mineral-nya sampai habis.

“Cepat pulang! Istirahat yang baik. Jangan keluyuran kemana-mana lagi.” Perintah Gikwang yang hanya dibalas dengusan sebal dari MinHo.

“Baiklah.”

“Ya sudah. Aku duluan. Aku hanya mengecek sebentar keadaan di sini. Cepat pulang!” Gikwang meninggalkan MinHo yang masih merapikan barang bawaannya.

Dengan langkah pasti dan tegap Gikwang melangkah menuju free parking di Myoendong. Tapi langkahnya terhenti melihat sosok yang dikenalnya.

“Hanna dan Lenata!” Ucapnya tanpa suara. Belum kakinya bergerak melangkah mendekat pada dua sosok yeoja di dalam sebuah caffee, dia mengurungkan niatnya melihat seorang pria muda mendekat pada meja Hanna dan Lenata.

“Siapa?” tanyanya entah pada siapa.

Wajah Gikwang tiba-tiba mengeras melihat pemuda itu bersenda gurau dengan Lenata, seakan-akan dia adalah Ayahnya Lenata.

“Cih! Menyebalkan.” Gikwang mengeluarkan ponselnya lalu menekan-nekan nomor orang yang di percayanya.

“Yeoboseyyo?”

“….. “

“Ada sesuatu yang ku ingin kau cari tahu.”

“…”

“Ne, secepatnya!”

Continue Or End?

Hai readersdeul! *nyengir*

Seperti biasa saya minta maaf karena terlalu lama update T.T apakah ada yang masih menunggu FF ini? *lihat kanan-kiri*

Hua, semoga masih ada! ><

Ayo dong GOFficiders pada comment, biar semangat ngelanjutin FF-nya….

pokoknya jangan jadi SIDER yaa 😉

Last word C O M M E N T!

Advertisements