Author:  Farihadaina (Park  HaRin)

Cast: Lee Donghae, Jessica Jung, Cassie Kim.

Support Cast: Find it in this story

Genre: Sad Romance

Rating: G

Jari-jari lentiknya terus menarik rambut Jessica keras.  Amarahnya meletup-letup, wajahnya sudah memerah antara menahan amarah dan tangis. Tangis? Ya, yeoja itu ingin menangis ketika melihat Jessica, tapi bukan berarti ia ingin menangisi Jessica. Dengan melihat Jessica mengingatkannya pada seseorang yang begitu ia sayangi.

“Le-lepaskan!” pekik Jessica ketika tarikan yeoja di depannya semakin kuat, seakan kehilangan akal.

“Apa maumu? Jebal jangan seperti ini..” lirih Jessica. Ia merasa sedikit lagi rambutnya akan terlepas dari kulitnya jika yeoja didepannya masih menarik rambutnya dengan keras. Yeoja itu melepaskan rambut Jessica kasar, kemudian dengan secepat kilat yeoja itu menampar Jessica keras. Ya, sangat keras.

Plaak!

“ ‘Apa maumu’ kau bilang? Sudah kubilang, aku ingin kau menggantikan kakakku! Aku ingin kau  yang pergi dari dunia ini, bukan kakakku!” ucapnya histeris. “Dan,, jangan coba-coba kau dekati Donghae!”

“Cassie…” ucap Jessica lirih sembari memegang pipi kirinya yang menjadi korban tamparan tangan yeoja bernama Cassie. Ya, lebih tepatnya Cassie Kim, Yeodongsaeng dari seorang namja bernama Kim Heechul.

“Jangan sebut namaku, pembunuh!” tudingnya tajam.

Pembunuh. Satu kata yang langsung menohok hati Jessica dalam. Air mata Jessica kembali keluar setelah beberapa bulan terakhir ini tidak keluar.  Bahkan rasa sakit bekas tamparan dan jambakan kuat dari Cassie tidak seberapa dari rasa sakit yang ia rasakan ketika ia dituding sebagai pembunuh.

“masih bisa menangis, huh? Bukankah kau sedang bersenang-senang dengan Donghae?” entah pertanyaan atau pernyataan yang Cassie keluarkan dari mulut mungilnya.  Jessica tertegun mendengar ucapan Cassie, ‘Ia mengenal Donghae?’ pikirnya.

“Aku.. aku tidak bersenang-senang dengannya.. A-aku—“

“Simpan semua bualanmu! Sampai saat ini pun kau tak pernah bisa memenuhi permintaanku, kan?!”Cassie mendelik sinis lalu berjalan dengan angkuhnya menuju ambang pintu. Jessica tersentak kecil, lalu hanya bisa membatu tanpa membalas perkataan Cassie.

“Jika kau tidak bisa mewujudkan permintaanku, biar aku yang mewujudkannya sendiri! Aku akan membuatmu menggantikan posisi Heechul oppa.” Desisnya sesaat sebelum ia berjalan kembali meninggalkan Jessica sendirian dengan isak tangisnya.

Aku memang pembunuh.. maafkan aku Oppa. Aku malah bersenang-senang didunia ini, melupakan pengorbananmu. Batinnya sedih.

 

»»»»

 

Cassie seorang yeoja yang berperawakan tinggi bak seorang model, tubuhnya yang ramping, dan guratan-guratan cantik alami menghiasi wajahnya. Cassie, tumbuh menjadi anak yang ceria dan sangat menyayangi keluarganya, Tuan dan Nyonya Kim, dan seorang oppa bernama Kim Heechul. Dia juga menyayangi yeoja yang dicintai kakaknya—-Jessica.

Kenyataan bahwa Cassie telah menganggap Jessica sebagai Eonni-nya sendiri mau tak mau harus musnah ketika mendengar berita kecelakaan laut yang membuat Oppa-nya meninggalkan dunia ini selamanya. Di tambah issu bahwa Jessica-lah yang menyebabkan peristiwa itu semua.

Cassie berubah menjadi orang yang pendiam dan tertutup, peristiwa yang menyebabkan Heechul meninggal membuatnya terguncang.

“nappeun yeoja! Kau menyebabkan Heechul oppa meninggal, dan sekarang kau mendekati Donghae!” gumam Cassie lirih tapi penuh kebencian. Ia berjalan dengan langkah yang tegas bahkan aura ceria yang selalu melekat padanya telah hilang di gantikan dengan aura kebencian.

 

∙ÖÖÖ∙

 “Ya! Jessica lama sekali.” Donghae beranjak dari duduknya, menatap sekelilingnya mencari keberadaan Jessica.

“Bagaimana jika kau memeriksanya?” saran Siwon disusul anggukan Eunhyuk dan yang lainnya. Donghae menatap Siwon dengan pandangan berbinar.

“benar! Aku lebih baik memeriksanya! Kenapa tak terpikirkan dari tadi ya? Aigo~ Siwonnie kau pintar! Aku pergi dulu ya!” cerocos Donghae sembari menepuk-nepuk dahinya. ia menepuk pundak Siwon lalu berlari kecil meninggalkan 5 kepala namja.

“Ya! Jangan lari-larian seperti itu Pabbo!!” teriak 5 orang namja itu serempak. Mereka menggeleng-geleng tak mengerti melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Aissh~ dia itu jadi sedikit Pabbo.” Gerutu Eunhyuk kesal.

Donghae yang mendengar teriakan para sahabatnya itu hanya nyegir tidak jelas. Lari segini sih tidak akan berpengaruh padaku, pikir Donghae.

Langkah kakinya perlahan memelan, dan akhirnya terdiam ketika sudut matanya menangkap sosok yang beberapa bulan lalu mengganggu pikirannya—dan mungkin masih sampai sekarang— sedang berjalan dari arah yang berlawanan dengan Donghae. Jarak Donghae dengan sosok itu sebenarnya jauh, tapi bagi Donghae sosok itu terasa sangat dekat dengan Donghae. Donghae tertunduk, berusaha menghilangkan peristiwa yang sempat membuat semangat hidupnya turun. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum kecut.

“tidak mungkin dia ada disini.” Gumamnya. “Ah! Aku kan mau memeriksa Jesicca, kenapa malah memikirkan dia?” Donghae melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan tujuan awalnya—melihat keadaan Jessica.

Sampailah Donghae di depan toilet wanita. Donghae bersandar pada tembok, menunggu Jessica. Merasa yang ditunggunya tidak keluar-keluar dari toilet, akhirnya Donghae mencegat seorang yeoja yang baru keluar dari toilet.

“Ah permisi. Apakah di dalam masih ada orang?” Tanya Donghae sopan. Yeoja yang dicegat Donghae itu mengernyit.

“Tidak ada orang lagi kok di dalam.” Jawab yeoja tadi lalu berlalu pergi.

‘kemana Jessica?’ batinnya. Donghae melangkahkan kakinya menuju tempat mereka berkumpul tadi. Mungkin dia sudah pulang duluan—pikir Donghae.

∙ÖÖÖ∙

 

Langit kota Seoul malam ini terlihat redup. Bulan dan bintang tertutup oleh awan berwarna hitam tersebut.  Entah ini pertanda langit akan menumpahkan air matanya atau tidak. Angin asyik bermain-main menerpa kulit wajah yeoja yang sedari tadi menatap jauh langit malam Seoul. Pikiran yeoja itu melayang-layang, memikirkan sesuatu yang menurutnya susah untuk diselesaikan.

Helaan napas keluar pelan dari mulut mungilnya. Ia terduduk disebuah ayunan tua yang akan menimbulkan suara decitan rapuh ketika ia menggerakannya.

“Sepertinya aku harus keluar dari kehidupannya Donghae.” Gumamnya pelan. Dadanya terasa sesak ketika mengucapkan kalimat tadi.

“Chullie Oppa.. apa karena aku terlalu banyak dosa? Hingga semua orang yang kusayangi harus pergi dari kehidupanku?” lirihnya lagi. Tangannya menggenggam erat pegangan besi ayunan tersebut. Kepalanya tertunduk, membiarkan poni dan rambut panjangnya menutupi wajah cantiknya.

Lelehan air mata keluar dari matanya. Dia sudah tidak tahan! Dia bingung harus memilih yang mana, antara meninggalkan kehidupan Donghae—setidaknya dia bisa sedikit menuruti permintaan Cassie—atau memilih untuk egois, hidup nyaman dan bersenang-senang melupakan apa yang terjadi di masa lalu.

Oh tapi, Jessica tak mungkin melupakan cintanya pada Heechul. Ia tak mungkin melupakan pengorbanan Heechul untuk membiarkannya hidup.

Apakah ia harus menyusul Heechul? Satu pikiran melintas di benak  Jessica. Pilihan yang mungkin akan menyelesaikan semuanya—menurut Jessica.

.

Sreet

.

“Sedang apa kau di sini hm?”

Jessica mendongakkan kepalanya perlahan, setelah merasakan sebuah jaket tersampir di pundaknya dan sebuah suara membuyarkan pikiran dalamnya.

“Donghae?” gumamnya kaget. Dengan cepat, ia menghapus jejak air matanya sebelum Donghae melihatnya lebih dulu.

“Kenapa tadi siang kau pergi duluan, hmm?” Tanya Donghae lembut lalu ikut duduk di ayunan samping Jessica hingga terdengar decitan rapuh dari ayunan itu. Jessica menggeleng pelan.

“Tidak kenapa-kenapa.” Jawab Jessica dengan senyum tipisnya. “Aku hanya tidak mau mengganggu acaramu dengan temanmu.”

“Benar? Hanya karena itu?”

Jessica menggangguk ragu, “Ne, Hae-ssi.” Bohong, itu yang bisa dilakukan Jessica saat ini. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa seorang yeoja bernama Cassie datang kepadanya, meminta untuk mengembalikan Heechul dan ia mengenal Donghae. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu, terlebih ia  tidak tahu ada hubungan apa antara Cassie dan Donghae.

“Jessica.. “ Panggil Hae gantung. Jessica menoleh menatap wajah Donghae.

“Hmm?”

“Jika kau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku.” Donghae menatap Jessica dalam dan lembut. Untuk beberapa menit mereka saling berpandangan, menatap dalam, mencari sesuatu entah apa itu dalam sepasang manic masing-masing.

“A-aniya.. aku tidak ada masalah..” Ucap Jessica pelan sembari membuang wajahnya ke depan. Rasanya gugup dan jantungnya berdebar kencang ketika ia menatap mata Donghae yang memancarkan ketulusan. Jika seperti ini Jessica sulit untuk melepaskan…..Donghae.

Donghae menghela napasnya pelan lalu memandang kedepan menatap hamparan bunga-bunga yang bergoyang seakan sedang bermain dengan angin, “Taka pa jika kau tak mau menceritakannya sekarang,” Donghae mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, “Tapi aku tahu jika kau sedang ada masalah. Kau tidak bisa membohongiku Sicca.”

‘Apakah begitu terlihat dari wajahku? Atau dia yang terlalu peka?’ batin Jessica.

“Setiap manusia memiliki masalahnya tersendiri. Bahkan aku sendri pun punya masalah..”  lanjut Donghae dengan menerawang ke atas langit. Jessica yang tertunduk dari tadi, menoleh perlahan dan kembali menatap Donghae.

“Kau punya masalah?” Tanya Jessica pelan. Tak menyangka seorang Donghae yang selalu terlihat ceria di matanya mempunyai masalah.

“Ne, tapi aku selalu menceritakan masalah yang kupunya pada orang yang kupercayai sehingga beban yang ada di diriku akibat masalah itu sedikit banyak berkurang. Jika kau punya masalah da dipendam sendiri, kupikir itu tidak baik. Rasanya tuh sesak sekali disini dan kapanpun bisa meledak saking sesaknya.” Donghae menyentuh dadanya.

“Jadi jika kau ada masalah sebaiknya kau ceritakan pada orang yang kau percayai. Dan sedikit informasi.. aku bisa dipercaya kok.” Lanjut Donghae sambil terkekeh  ketika mengucapkan kalimat akhirnya.

“Hiks.”

Mendengar suara isakan yang lirih, Donghae segera menatap ke samping, menatap Jessica yang tengah tertunduk dan menangis entah sejak kapan. Donghae segera beringsut dari ayunan dan merengkuh tubuh Jessica.

“Uljimma..” Tenang Donghae sembari mengelus punggung Jessica yang bergetar kecil. Jessica meremas baju Donghae bagian depannya. Banyak pikiran yang berkecamuk dipikirannya. Dan begitu banyak perasaan yang berkecamuk dihatinya. Rasa bersalah, rasa nyaman, rasa benci, rasa senang, dan rasa hangat ketika Donghae memeluknya erat.

“Donghae.. hiks.. hiks.”

“Jangan tinggalkan aku..” satu kalimat pendek yang terlontar pelan dari mulut mungil Jessica tanpa ia sadari. ‘Maafkan aku.. maafkan aku Chullie Oppa. Mianhae..’ batinnya terus mengucapkan  maaf dan rasa bersalahnya.

“Jangan tinggalkan aku… sendiri..” lirihnya lagi. Tak ada jawaban dari Donghae, hanya sebuah usapan lembut di punggung Jessica yang tengah terisak.

“Saranghaeyo… aku akan menjagamu.” hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut Donghae yang masih bisa di dengar Jessica walau samar-samar.

Mendengar kalimat yang Donghae gumamkan Jessica semakin terisak kencang. Rasa bersalah benar-benar menyelimuti dirinya sekarang dan menyiksanya.

Perasaannya yang selalu di tepis Jessica selama ini, perasaannya yang semakin terasa nyata ketika Donghae melontarkan kalimat pendek itu.

Membenci kenyataan yang ia alami sekarang tapi bersyukur di saat yang bersamaan.  Perasaan cinta yang menyerang hatinya. Perasaan yang membuatnya bahagia sekaligus menyakitinya dengan rasa bersalah yang amat dalam.

Jessica sadar, bahwa ia telah jatuh terperangkap dalam perasaan bernama cinta. Ia telah mencintai Donghae.

.

.

.

“Hae.. mian.. aku  belum bisa menceritakan masalahku padamu.” Ucap Jessica pelan setelah merasa lega menumpahkan tangisannya.

“Ne, gwenchana. Aku mengerti.” Jawab Donghae penuh pengertian. “ohya, apakah kau mau ikut ke pameran di kampusku? Nanti akan ada pertunjukkan kembang api.”

“Kembang api?”

“Ne, kau mau ikut?” Tawar Donghae lagi. Jessica memiringkan kepalanya, menimang-nimang tawaran Donghae.

“Eumm, boleh.” Jawab Jesicca singkat dan pelan. Mungkin itu akan menjadi yang terakhir, setelah itu aku akan meninggalkan kehidupan Donghae, dan mengabulkan permintaan Cassie. Mianhae Donghae—pikir Jessica.

∙ÖÖÖ∙

Jesicca menatap kosong pantulan dirinya pada cermin. Rambut coklatnya terurai bebas menutupi punggungnya, wajahnya yang sedikit pucat, dan kantung mata yang tebal. Rupanya ia tidak bisa memejamkan matanya semalaman. Terlalu banyak pikiran yang silih berganti.

“Kau terlihat menyeramkan.” Ujar Jesicca pada dirinya sendiri. Dia menghela napas pelan, lalu beranjak menuju lemari pakaiannya. Mulai memilih baju yang akan dipakainya untuk pergi ke pameran bersama Donghae.

Terpilihlah dress selutut berwarna soft pink dengan renda di bagian lengan pendeknya dan bagian bawah dress. Dress yang sederhana namun cantik.

Setelah sukses mengganti pakaiannya, suara ketukan pintu kamarnya menggema. Jesicca menghampiri pintu dan membukanya.

“kau sedang bersiap?” Tanya seorang yeoja yang ternyata Hyoyeon. Jesicca tersenyum kecil, lalu mengangguk.

“Boleh aku masuk?”

Jesicca mengangguk lagi, dan memberikan ruang untuk langkah Hyoyeon. Jessica mengikuti langkah Hyoyeon di belakang.

“Ada apa eonni?”

Hyoyeon duduk di tepi ranjang dan hanya menampilkan senyum lembutnya. “Aniya, hanya ingin bertemu denganmu.” Jawabnya.

“Eonni, mau pergi juga?” Tanya Jesicca ketika melihat Hyoyeon yang telah rapi.

Hyoyeon mengangguk, “Ne, aku pergi ke pameran yang sama denganmu. Eunhyuk yang mengajakku.”

Jesicca tersenyum kecil mendengar penuturan Hyoyeon yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Jesicca tahu jika Eunhyuk menyukai Hyoyeon, dan Jesicca juga tahu kalau Hyoyeon menyukai Eunhyuk. Terlihat ketika Hyoyeon yang memeluk Eunhyuk ketika Donghae masuk rumah sakit, dan Eunhyuk yang memeluk Hyoyeon dengan tulus dan lembut.

Sungguh Jesicca sedikit iri, melihat Hyoyeon dan Eunhyuk yang saling mencintai. Mereka berdua terlihat manis walau dari keduanya belum ada yang menyatakan secara langsung bahwa mereka saling menyukai.

“Aigo~ kantung mata-mu tebal dan kau terlihat pucat.” Hyoyeon menatap Jessica panik. “apa yang terjadi?”

“Aniya Eonni.. aku tidak apa-apa.”Jessica menggeleng, meyakinkan Hyoyeon ia tidak kenapa-kenapa.

“aish, ini harus di tutupi. Kau harus terlihat cantik di depan Donghae.” Hyoyeon menarik Jessica menuju meja rias, lalu mendudukkan Jesicca.

“Tapi eonni…”

“Tidak ada tapi-tapi an. Serahkan pada Eonni. Kantung mata ini pasti tertutupi.”

Hyoyeon mulai memakaikan bedak berwarna kulit,dengan perlahan dan telaten. Memakaikan blush on tipis berwarna pink agar menyamarkan pucat di wajahnya. Dan terakhir memoles lipgloss pada bibir mungil Jesicca.

“Selesai.” Seru Hyoyeon senang.  “Kau sekarang terlihat cantik walau aku hanya membubuhkan sedikit make up.”

Jesicca terdiam menatap pantulan dirinya di cermin. “G-gomawo Eonni.”

“Ne, cheonma. Cepat ke bawah, Hae sudah menunggumu.” Ucap Hyoyeon riang. Jesicca tertegun menatap Hyoyeon lalu memeluknya erat.

“A-ada apa Sicca? Kenapa tiba-tiba memeluk?” bingun Hyoyeon ketika Jessica memeluknya erat.

“Gomawo Eonni jeonmal gomawo… aku pasti merindukanmu.” Lirih Jesicca. Hyoyeon mengernyit bingung.

“Apa yang kau katakan? Kenapa rindu? Besok juga pasti bertemu lagi Jessica.” Ujar Hyoyeon kebingungan.

“Aniya eon.. aku hanya ingin mengucapkan bahwa aku sangat menyayangimu.” Hyoyeon tersenyum kecil, lalu mendorong Jessica untuk segera menemui Donghae di bawah.

Jessica berjalan menyusuri tangga. Bisa terlihat oleh Jessica, Donghae sedang menunggunya dalam diam di ruang keluarga.

“Hae-ya…” Panggil Jessica. Donghae mendongak dan menatap kagum sosok yeoja di depannya.

“Yeppeo..” Gumam Donghae pelan.

“Donghae?” panggil Jessica ketika melihat respom Donghae yang terdiam. “Ada yang aneh denganku?”

“A-ani.. kau sangat cantik. Tidak ada yang aneh.” Jawab Donghae cepat, membuat Jessica bersemu merah. Donghae menyeringai senang melihat semburat merah yang muncul di wajah Jessica.

“Kajja kita berangkat!” ajak Donghae penuh semangat.

.

.

.

Selayaknya pameran pada umumnya, banyak stand-stand yang berjajar rapih di halaman sekitar kampus hingga depan aula. Di dalam aula sendiri aka nada pertunjukkan berbagai bidang seni yang akan menghibur mata pengunjung.

Acara pameran sendiri dimulai dari siang hari hingga malam hari. Semakin waktu beranjak malam, semakin banyak pula pengunjung yang berdatangan. Banyak pengunjung yang memilih waktu sore untuk datang, selain cuaca yang sudah tidak panas, mereka juga ingin menyaksikan pertunjukkan kembang api pada malam hari. Begitu pula dengan sepasang kekasih yang sedang terdiam canggung, ah setidaknya itu yang terlihat oleh orang lain. Pada kenyataannya mereka sama sekali bukan sepasang kekasih.

“Kau ingin melihat stand yang mana dulu?” Tanya sang namja lembut.

“hmm, aniya.. belum ada yang menarik menurutku.” Jawab sang yeoja jujur.

“Kalau begitu, kajja ikut denganku!” Sang namja menarik tangan yeoja itu dengan semangat menuju salah satu stand yang berjajar di halaman kampus.

“A-a Donghae..pelan-pelan.” seru yeoja itu pada namja yang kita ketahui Donghae. Donghae hanya terkekeh pelan melihat keterkejutan yeoja yang saat ini mengisi hatinya—Jessica.

“Nah sudah sampai!” girang Donghae seperti anak kecil.

“Stand magic?” Tanya Jessica dengan menatap Donghae bingung.Donghae hanya menampilkan senyumannya lalu mengangguk antusias.

“Kau suka hal yang berbau sihir?” Tanya Jessica lagi sembari mengikuti Donghae yang sedang menyusuri etalase berisikan berbagai macam peralatan berbau magic.

“Ya bisa dibilang begitu. Bahkan aku bisa sedikit sulap hehe.” Kekeh-nya dengan bangga. Jessica tersenyum kecil.

“Whoaa.. aku baru menyadari kau sekarang lebih banyak tersenyum!” Donghae menatap Jessica tak percaya. Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya kaget, lalu tertunduk malu.

“Kau terlihat lebih cantik dan imut jika tersenyum terus. Apa yang membuatmu bisa tersenyum banyak seperti itu?” Ujar Donghae benar-benar antusias.

“A-a itu karena orang-orang disekitarmu banyak menghiburku..” – terutama karena dirimu, Hae – lanjut Jessica dalam hatinya.

“Kau banyak berubah.” Donghae mengacak rambut Jessica pelan dan tersenyum lebar membuat matanya menjadi sipit.

“Annyeong anak muda. Apakah kalian ingin di ramal?” Tanya seorang ahjumma yang berpakaian nyentrik, disebelahnya ada seorang yeoja berkacamata tersenyum ramah

Donghae mengehentikan kegiatannya lalu menoleh diikuti dengan Jessica. Mereka berdua mengernyit melihat sosok di depan mereka yang terlihat nyentrik.

“di ramal?” Tanya Donghae ragu.

“Ne. kulihat kalian adalah sepasang kekasih.” Jawab sang yeoja berkacamata tadi dengan senyum mengembang. Sedangkan sang ahjumma memasuki ruangan yang tertutup tirai berwarna merah.

“A-a tapi kamii—– “

“Kalian tidak usah membayar, ini gratis kok. Kajja!” Yeoja berkacamata itu memotong perkataan Jessica dan langsung menggiring Jessica dan Donghae.

Dengan pasrah mereka memasuki ruangan yang tertutup tirai merah. Gelap dan remang-remang. Sang ahjumma tadi sudah duduk disinggasana-nya di depannya terdapat meja berukuran sedang yang tersimpan sebuah bola krystal, kartu tarot, dan berbagai macam alat ramal.

“Silahkan duduk.” Ucap ahjumma tadi pada Donghae dan Jessica. “Kau boleh keluar sekarang , Nara.” Lanjutnya lagi mungkin pada yeoja berkacamata yang membawa Donghae dan Jessica masuk.

Donghae saling berpandangan dan akhirnya duduk dikursi yang telah disediakan. Ahjumma yang memakai tudung berwarna merah maroon itu berdeham kecil.

“Boleh kupinjam tangan kalian?” tanyanya dengan nada yang lembut. Donghae mengulurkan tangannya duluan, sedangkan Jessica menatap Donghae dan ahjumma itu bergantian dengan ragu.

“Tidak usah takut.” Sahut ahjumma itu seakan menjawab kegelisahan hati Jessica. Dengan ragu Jessica menjulurkan salah satu tangannya.

Ahjumma itu menilik satu per satu telapak tangan Jessica dan Donghae bergantian. Raut wajahnya yang lembut, kini berganti dengan raut wajah cemas. Melihat perubahan ekspresi dari sang ahjumma, mau tak mau membuat Jessica dan Donghae ikut cemas.

“Apa yang terjadi?” Tanya Donghae ragu. Ahjumma itu mendongak dan menatap sosok di depannya dengan sendu.

Jessica yang sedari tadi gelisah sekaran bertambah gelisah. Oh ayolah, melihat wajah sendu dan cemas dari seorang yang meramal kita, pasti kita merasakan hal yang sama.

Ahjumma itu menggeleng pelan lalu menghela napas, kemudian kembali menilik telapak tangan milik Jessica dan Donghae bergantian. “Perpisahan, kegelapan, kesengsaraan, tapi satu keputusan yang tepat dapat membawa cahaya pada kegelapan itu sendiri…” Ucap ahjumma itu membuat Jessica dan Donghae terhenyak kaget.

“kuharap kalian berhati-hati dalam melangkah.” Saran ahjumma itu menutup ucapannya.

.

.

.

Jessica dan Donghae terduduk diam di salah satu bangku yang disediakan panitia. Terlalu shock mendengarkan penuturan dari ahjumma peramal tadi. Begitu menyeramkannya kah jika mereka bersama. Bahkan mereka belum menjadi sepasang kekasih. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Mungkin itu hanya omong kosong..” Donghae akhirnya membuka percakapan dengan tawa yang dipaksakan.

“Ne, lagipula kita bukan sepasang kekasih..” timpal Jessica kikuk. Donghae terdiam beberapa detik sebelum melontarkan tawa kakunya. Benar, Jessica bukan kekasihku—pikir Donghae kecewa.

“Baiklah.. jangan terlalu dipikirkan.” Saran Donghae pada akhirnya. Aku masih bisa mendapatkan hati Jessica bukan?—pikir Donghae optimis.

“Kajja kita berjalan-jalan lagi.” Ajak Donghae sembari mengulurkan tangannya. Berpikir sesaat, pada akhirnya Jessica menyambut tangan itu dan beranjak berdiri mengikuti Donghae yang sudah beranjak duluan.

Duaaar!

Suara ledakan di atas langit menghentikan tujuan awal mereka. Mereka terdiam memandang langit yang ternyata sudah hitam pekat di hiasi bintang-bintang.

Duaar!

Satu kembang api meluncur menciptakan bunga api yang berwarna-warni nan indah. Disusul lagi dengan beberapa kembang api yang membentuk beragam bentuk. Jessica dan Donghae menatap kagum. Cahaya dari kembang api yang berpendar dan menerpa wajah berbinar mereka. Dalam tautan tangan mereka yang hangat, mereka menikmati acara tersebut dan saling menyalurkan kebahagiaan.

.

.

.

Yeoja bernama Cassie menatap geram sepasang insan yang tengah bergenggam-an tangan. Tangannya mengepal erat-erat hingga bisa melukai tangannya sendiri.

“Lee Donghae—- “ gumamnya menggantung. Ia tatap lekat-lekat kedua manusia yang tengah tersenyum menikmati pertunjukkan kembang api.

“dan Jessica Jung.” Lanjutnya lagi dengan penuh penekanan.

“Kau benar-benar mengabaikan permintaanku. Tapi, tenang saja.. aku sudah punya hadiah untukmu Jessica-ssi. Aku tahu kau akan sangat menyukai hadiah dariku. Heechul Oppa, kau pasti sangat senang di atas sana karena aku juga akan memberikanmu hadiah juga..” dia menyeringai tajam.

“dan Lee Donghae… aku harap kau tak menghalangi rencana-ku.” Cassie mengeluarkan ponselnya. Dengan cekatan ia mengetik sebuah pesan.

Jessica-ssi.. kau masih ingat sehari yang lalu aku datang menemuimu? Bisakah kau datang menemuiku di atap kampus? Aku punya sesuatu untukmu.

-Adik iparmu, Cassie-

SEND

 

To Be Continue

Huaaa mianhaee, update-nya lamaaa >.< kemarin aku sibuk ngurusin SMA… Mianhae yang nunggu FF ini lamaa hiks. Jeongmal mianhe *deepBow*

Haaa gak  kerasa udah bulan puasa, jadi maafkan author yang selama ini sering buat kalian kecewa. *bow bareng cast Ylumw*

Oh iya, FF ylumw bntar lagi bakal end, entah di part 6 atau 7 yang penting doain author biar gk ada halangan buat nulis FF ini.

Aku juga pengen nanya, kalian ingin FF ini endingnya Sad atau happy?

Oke deh itu doang, tetep sabar tunggu kelanjutan FF ini. Last Word… C O M M E NT ^^

 

Advertisements